Kebumen News Berita features Budaya Kebumen dan sekitarnya

8 September 2019

Puisi-Puisi Perjuangan Ovi

Filed under: Sastra — Tag: , , , , — Khas @ 12:37 pm

Oleh Ovi*

Bangun dan Bergeraklah

matahari sudah tinggi
dan diri masih tetap begini
masih seenak perut,
kenyang lalu terbenam

bersiaplah menelan kekecewaan
bersama riak penyesalan
terpasung nestapa
sesak dirasa dada

bahkan,
matahari masih berbaik hati
ia menunggu sampai kau berada di atas
hingga kedudukannya sejajar

lalu apa yang kau perbuat?
pedulimu hanya perut sampai membulat
mimpimu hendak di kemanakan, jika hanya bergulat dengan kenyamanan hidupmu saja

bangun dan bergeraklah
selagi panas matahari belum membakar tubuhmu
bangun dan bergeraklah
kau terlalu berharga untuk menyerah

Tokoh Fiktif

aku menimbang
perihal hati dan logika; perihal cinta dan nyaman

aku merasakan
getar dan debar dalam dada; sungguh kuat dan aneh

renjana yang meronta-ronta
ingin hati bisa bersama
menjadi utuh dengan berdua

malam menyudahi senja
aku terbangun dari lamunan
aku,
hanya tokoh fiktif di hidupmu

Maaf, Tuhan

bukan masalah jika ragamu sukar ku sentuh
sebab aku tak ingin kalah
dalam mendekati-Nya secara utuh

bukan bencana jika rasaku tertolak olehmu
sebab cintaku tahu jalan pulang
tak takut pada gelapnya malam

hanya terkadang,
rasaku kian menderu
terngiang akan engkau

bertutur akan melupakanmu
nyatanya semakin mengingatmu
selemah itu diriku

rapalan doa ku persembahkan
pada-Nya Yang Maha Pengampun
atas cinta yang ternyata hanya bualan
Maaf, Tuhan

Sebuah Perjuangan

Mesin digenjot, terdengar bisingnya
Tangan yang renta lihai bergerak
Asik mataku memandang

Sesekali kau bangun
Terbatuk-batuk, lalu mereguk obat
Dan kembali bersimpuh di depan mesin

Aku mengetahui,
Bukan batukmu jadikanmu lara
Awan hitam pagi tadi mengunjungimu
Berjalan memenuhi ruang kepala

Bu, panggilku di waktu senja
Kasihan nasinya diabaikan,
Mari, biar aku suapi
Namun, kau hanya diam mematung

Bungkuk tubuhnya semakin menunduk
Suara mesin terhenti
Hanya, kini kau yang berisik
Isak tangis menderu kencang

Kau, kenapa Bu?

*Ovi adalah mahasiswi IAINU Kebumen. Aktif di organisasi PMII Kabupaten Kebumen. Penyuka sastra dan tantangan.

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab

20 November 2015

Pendekar Asmara

Filed under: Sastra — Tag: , , — kebumenn @ 5:14 pm
[one-half-first]

 “[N]gger, kau sudah kuwariskan ilmu kanuragan dan kedigdayaan. Besok pagi kau boleh turun gunung,” ucap Ki Kayat pada murid kesayangannya, Jaka Puja. “Njih, Mbah Guru. Terima kasih telah menurunkan ilmu-ilmu kepada hamba. Entah dengan apa hamba harus membalasnya,” ucap pemuda berwajah tampan itu penuh rendah diri. “Ngger, jangan kau pikirkan itu. Sudah menjadi kewajibanku untuk berbagi ilmu. Oh ya, ada sesuatu yang belum aku katakan,” “Apa itu, Mbah?” “Kau termasuk pemuda perkasa, wajahmu juga tampan.
Tentu banyak gadis yang suka, bahkan randha,” “Randha?” “Iya, Ngger. Randha atau janda. Maka dari itu aku akan memberimu amalan atau mantra untuk menjaga nafsu burukmu. Juga akan kuwariskan kitab gaib NALAR PERPOLITIKAN ASMARA padamu, Ngger. Tapi sebelumnya aku ingin memberimu tenaga dalam dulu, apa kamu siap?” “Hamba siap, Mbah Guru,” kata Jaka Puja sembari memposisikan diri seperti posisi semedhi.

[/one-half-first][one-half].[/one-half]

Sang guru atau Ki Kayat merapalkan doa, lalu ia menarik napas dalam-dalam. Angin berhembus kencang seperti mengutuk dan hendak menghancurkan Gunung Mukti, suasana menjadi riuh. Ki Kayat mendorong tangannya hingga menyentuh punggung Jaka Puja. Tenaga dalam masuk ke dalam tubuh pemuda itu, Jaka Puja menggelinjang menahan kekuatan besar yang masuk.
Tak lama kemudian pentransferan tenaga dalam selesai, angin ribut tak ada lagi. Suasana jadi hening. Jaka Puja menoleh ke belakang, tetapi anehnya tidak ada siapapun. “Guru?” betapa kagetnya Jaka Puja melihat gurunya lenyap dari pandangan. “Guru dimana? Mbah Guruuu!!!” Ia mencoba menoleh ke sana ke mari, tetapi tidak ada siapa-siapa. Kemudian ia melihat sebuah surat dari rotan tergeletak di atas batu, ia mengambilnya lalu tersenyum melihat sederetan huruf-huruf yang tertulis. “Terimakasih Guruuuuuu!!!” ia berteriak ke langit. “Hahahahaha, hahahabaha. Jaga baikbaik dirimu, Ngger!!!” gaung suara Ki Kayat terdengar dari langi.
Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab

Powered by WordPress