Kebumen News Berita features Budaya Kebumen dan sekitarnya

20 Mei 2017

Gelar Parenting PAUD “Bina Insani” Kebumen

Filed under: Berita,Pendidikan — Tag: , , — Masyarakat Karst @ 2:10 pm

Membangun Karakter Positif pada Anak Usia Dini 

KEBUMEN – Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang kemunculannya di Indonesia mulai eksisi pada dekade awal abad 21 telah mengalami perkembangan signifikan, seiring tantangan dalam memenuhi kebutuhan yang kian kompleks akan pembelajaran pra-sekolah.

Di dalam realitas umum kegiatan keseharian, sejak 2008 kemunculan pendidikan usia dini ini, nyata bahwa dunia PAUD ini tak sesederhana kelihatannya.

Kesan demikian mengemuka saat KebumenNews.com menyambangi Tempat Penitipan Anak (TPA) dan PAUD “Bina Insani” Kebumen yang tengah menggelar agenda Parenting yang sekaligus jadi bagian dari Gerakan Nasional Pembelajaran Aku Anak Jujur (Gernas Manjur).

PAUD dibawah kepemimpinan Sri Mulyati yang beralamat di Jalan Telasih 15 Kebumen (20/5) pagi itu, bukan saja semarak oleh rutinitas harian dan pembelajaran anak-anak yang total jumlahnya mendekati angka 50; melainkan juga karena kehadiran para orangtua mereka dalam sarasehan seputar jagat Parenting.

Memang, di serambi bagian belakang gedung milik Yayasan “Al-Mobarok” itu juga tengah digelar Sarasehan bertema “Membangun Karakter Positif pada Anak Usia Dini” dengan pemateri Rofiah Akbar, M.Psi dari AIR Vision. Tak kurang pada kesempatan ini hadir pula Dede Suntoro, S.Sos; Lurah Kebumen.

 

Memahami Karakter Tiap Anak

 

KARAKTER: Anak didik PAUD dengan beragam karakter menjadi tantangan dasar -personal dan sosial-mengembangkanpotensi dan membangun karakter positif. {Foto: K.04]

KARAKTER: Anak didik PAUD dengan beragam karakter menjadi tantangan dasar -personal dan sosial-mengembangkanpotensi dan membangun karakter positif. {Foto: K.04]

Tak mudah, meski hanya untuk membayangkan bagaimana “mengelola” berpuluh anak dengan karakter dasar begitu beragam dalam satu proses Bermain dan Belajar sekaligus secara bersamaan. Karena yang harus selalu diingat bahwa karakter atau watak tiap anak yang secara personal jelas berbeda-beda; dan tak bisa dihilangkan.

“Tiap anak butuh cara mendidik yang berbeda; tetapi tanpa kekerasan ”, tutur Dwi Endyawati.

Lebih jauh, Guru PAUD yang populer dipanggil anak asuhannya dengan Bunda Indi ini menjelaskan bahwa maksud cara mendidik yang berbeda sebagai pendekatan aspek metodologinya.

Itu sebabnya, sebagai landasan pra-Sekolah Dasar, PAUD menjadi jawaban atas kebutuhan bagaimana anak harus dididik bukan dengan “membunuh karakter”, melainkan dengan “Membangun (menjadikannya_Red) Karakter Positif” sebagaimana tema sarasehan pagi itu.

PAUD “Bina Insani” Kebumen saat ini diampu oleh tak kurang dari 7 tenaga pendidik plus tenaga bidang manajerial masing-masing: Agustini A.Sari S.Pd; Kelasworo ES S.H; Nadia Aristia, Muhadiyati, Fatayatun, Supartiyah, Khomsiatun, Kasiyati, Zahrotul Khuriyah dan Dwi Endyawati. [K.04]

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab

31 Mei 2016

KB Islam Al Barokah Ciptakan Generasi Kreatif, Inovatif dan Berakhlakul Karimah

Filed under: Pendidikan — Tag: , , , — bram @ 3:52 pm

Kelompok Bermain (KB) Islam Al Barokah merupakan lembaga pendidikan nonformal yang siap mencetak generasi kreatif, inovatif dan tetap memiliki akhlakuk karimah.

KBI Al Barokah Tahun 2016/2017 telah membuka pendaftaran peserta didik baru di buka pendaftaran sampai 27 agustus 2016.

KBI Al Barokah beralamat di Jalan Mangkusari desa Kutosari Kecamatan Kebumen Kabuppaen Kebumen (Kurang lebih 50 M barat pasar Mertokondo Kebumen (hp: 085647725151).

KEBUMEN-Pendidikan merupakan kebutuhan manusia, kebutuhan pribadi  seseorang. Kebutuhan  yang  tidak  dapat  diganti  dengan  yang  lain.  Karena  pendidikan merupakan  kebutuhan  setiap  individu  untuk mengembangkan  kualitas,  pontensi dan  bakat  diri.  Pendidikan membentuk manusia  dari  tidak mengetahui menjadi mengetahui,  dari  kebodohan  menjadi  kepintaran  dari  kurang  paham  menjadi paham,  intinya  adalah  pendidikan  membentuk  jasmani  dan  rohani  menjadi paripurna. Sebagaimana  tujuan pendidikan, menurut Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) UU RI NO. 20 TH. 2003 BAB II Pasal 3 dinyatakan:

”Pendidikan  nasional  berfungsi  mengembangkan  kemampuan  dan  membentuk watak  serta  peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam  rangka  mencerdaskan kehidupan  bangsa,  bertujuan  untuk  berkembangnya  potensi  peserta  didik  agar menjadi  manusia  yang  beriman  dan  bertakwa  kepada  Tuhan  Yang Maha  Esa, berakhlak  mulia,  sehat,  berilmu,  cakap,  kreatif,  mandiri,  dan  menjadi  warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Tujuan  pendidikan  setidaknya  terbagi  menjadi  dua,  yaitu  pendidikan bertujuan  mengembangkan  aspek  batin/rohani  dan  pendidikan  bersifat jasmani/lahiriyah.  Pertama,  pendidikan  bersifat  rohani merujuk  kepada  kualitas kepribadian,  karakter,  akhlak,  dan  watak.  Kesemua  itu menjadi  bagian  penting dalam pendidikan. Kedua, pengembangan  terfokus kepada aspek  jasmani, seperti ketangkasan,  kesehatan,  cakap,  kreatif,  dan  sebagainya.  Pengembangan  tersebut dilakukan di  institusi  sekolah dan di  luar  sekolah  seperti di dalam keluarga, dan masyarakat.  Tujuan pendidikan berusaha membentuk pribadi berkualitas baik  jasmani dan  rohani.  Dengan  demikian  secara  konseptual  pendidikan  mempunyai  peran strategis  dalam membentuk  anak  didik menjadi manusia  berkualitas,  tidak  saja berkualitas dalam aspek skill, kognitif, afektif,  tetapi  juga aspek spiritual. Hal  ini membuktikan pendidikan mempunyai andil besar dalam mengarahkan anak didik mengembangkan diri berdasarkan potensi dan bakatnya. Melalui pendidikan anak memungkinkan menjadi pribadi  sholeh, pribadi berkualitas  secara  skill, kognitif, dan spiritual.

Namun, globalisasi yang memasuki dekade  ini berdampak besar  terhadap segala  sendi  kehidupan  manusia.  Nilai-nilai  luhur  bangsa  dan  agama  secara bertahap terkikis oleh nilai barat dan modern. Materialis, hedonis dan individualis menjadi  penyakit  masyarakat.  Nilai-nilai  ini  pula  berimbas  pada  tradisi pendidikan  yang  hanya  digunakan  untuk mangakumulasi  kapital  dan mendapat keuntungan.  Bahkan  Mansour  Fakih  mempertanyakan,  bagaimana  mungkin tradisi manusia  tentang visi pendidikan sebagai strategi untuk eksistensi manusia yang  telah  direproduksi  berabad-abad,  diganti  oleh  suatu  visi  yang meletakkan pendidikan sebagai komoditi.

Selain  itu,  terjadinya aksi dan  tindak kekerasan  (violence) akhir-akhir  ini merupakan fenomena yang seringkah kita saksikan. Bahkan hal itu hampir selalu menghiasi  informasi  media  masa.  Fenomena-fenomena  lain  yang  mewabah  di kalangan  remaja  seperti  merokok,  hubungan  seks  pranikah,  tawuran  massal, penggunaan obat-obat terlarang, dan kenakalan lain seperti sering dikeluhkan para orang  tua,  penyelenggara  pendidikan,  maupun  masyarakat  luas,  bukanlah fenomena baru. Krisis akhlak  terjadi karena sebagian besar orang  tidak mau  lagi mengindahkan  tuntunan  agama,  yang  secara  normatif  mengajarkan  kepada pemeluknya untuk berbuat baik, meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat dan munkarat.

Melihat  fenomena  yang  terjadi nampaknya di zaman  sekarang  ini akhlak mulia  adalah  hal  yang  mahal  dan  sulit  diperoleh,  hal  ini  seperti  telah  penulis kemukakan  terjadi  akibat  kurangnya  pemahaman  terhadap  nilai  akhlak  yang terdapat  dalam  al-Qur.an  serta  besarnya  pengaruh  lingkungan.  Manusia  hanya mengikuti dorongan nafsu dan amarah saja untuk mengejar kedudukan dan harta benda  dengan  caranya  sendiri,  sehingga  ia  lupa  akan  tugasnya  sebagai  hamba Allah SWT.  Tidak  dapat  dipungkiri  juga  bahwa  kemerosotan  akhlak  terjadi  akibat adanya dampak negatif dari kemajuan di bidang  teknologi yang  tidak diimbangi dengan  keimanan  dan  telah menggiring manusia  kepada  sesuatu  yang  bertolak belakang dengan nilai al-Qur.an. Namun hal  ini  tidak menafikan bahwa manfaat dari kemajuan teknologi itu jauh lebih besar daripada madharatnya.

Untuk  memunculkan  akhlak  yang  baik  dalam  diri  setiap  orang  maka diperlukan  formulasi-formulasi  untuk  mewujudkannya.  Yakni  dengan  cara memadukan  konsep  pendidikan  dengan  akhlak  yang  telah  dijelaskan  di  atas mengenai  pengaruhnya  terhadap  perilaku  manusia,  menjadi  pendidikan  akhlak. Pendidikan merupakan pengantar  atau  stimulus  memunculkan  akhlak,  karena akhlah mulia adalah tujuan pendidikan. Pendidikan akhlak memilik peran penting dalam membentuk kepribadian siswa atau manusia secara umum. Esensinya pendidikan akhlak diartikan sebagai latihan  mental  dan  fisik  yang  menghasilkan manusia berbudaya tinggi  untuk melaksanakan  tugas  kewajiban  dan  tanggung  jawab  dalam masyarakat  selaku hamba  Allah  swt.  Pendidikan  akhlak  berarti  juga menumbuhkan personalitas (kepribadian) dan menanamkan tanggungjawab.

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab

Powered by WordPress