Kebumen News Berita features Budaya Kebumen dan sekitarnya

28 Mei 2016

Sudahkah Uber Taksi dan Ojek Dikaji, Hingga Berani Buka Pendaftaran

Filed under: Tak Berkategori — Tag: , , , , , — kebumenn @ 8:20 am

Kebumen News – Masih ingat demo besar-besaran sopir taksi di Jakarta beberapa bulan silam? Kasusnya diaali dari adanya jasa angkutan masyarakat yang cara pemesanannya dlakukan dengan cara Online. Sopir-sopir taksi manual merasakan berkurangnya penumpang setelah adanya system online pemesanan taksi atau ojek. Uber ditolak para sopir taksi manual, karena selain mengurangi omzet penumpang, juga ternyata bisnis ini tidak berijin.

Kini di Kebumen terlihat spanduk yang berisi pembukaan pendaftaran Rider dan Driver Uber Taksi dan Ojek. Spanduk itu terpasang di jalan Arumbinang tepatnya di depan salah satu studio radio swasta. Beberapa pihak mempertanyakan apakah sudah dilakukan kajian mendalam atas rencana adanya Uber Taksi dan Uber di Kebumen. “Apa sudah dikaji tiba-tiba muncul di Kebumen”. Tutur pemilik akun FB Heri Inthonk.  (Kn.01)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab

7 September 2015

Kothekan Lesung, Tradisi Moyang Yang Nyaris Terlupakan

Filed under: Tak Berkategori — Tag: , , , , , , , , , , — kebumenn @ 11:39 pm

#Kebumen #Karangsambung

Ibu-ibu rumah tangga setengah baya itu nampak bersemangat menumbuk lesung yang telah kosong. Lesung yang berukuran dua meter itu dikombinasi lima sampai sembilan penumbuk. Tumbukan demi tumbukan di badan lesung secara terus menerus itu membentuk irama musik yang asri dan asli desa. Peristiwa itu disebut Gojeg atau Kothekan Lesung. Tradisi moyang yang kian hilang. Lesung adalah alat untuk memisahkan merang dengan gabah pada padi.

Ya, kini yang menumbuk lesung kosong tinggal ibu-ibu setengah baya. Lesungnyapun tidak lagi berfungsi sebagai penumbuk gabah untuk menghasilkan beras. Tidak ada lagi gadis-gadis muda seperti zaman dahulu. Kothekan dilakukan setelah gadis-gadis desa selesai menumbuk berkwintal gabah untuk menjadi beras pada saat pesta panen raya, tidak seperti sekarang musik elektronik lebih mendominasi. Hilangnya tradisi khas pedesaan ini seiring dengan hilangnya pesta panen, yaitu pesta sebagai wujud para petani bersuka cita ketika hasil panen melimpah.

Gabah yang telah kering dipisahkan dari batang padi setelah diani-ani. Dimasukkan ke lubang tengah lesung yang berukuran  kurang lebih lebar 40 cm panjang 160 cm. Gabah-gabah itu ditumbuk sehingga merangnya terpisah dari beras. Setelah cukup terpisah, gadis yang lain mewadahi [gabah tumbukan ke dalam tampah dan mengayun-ayun tampah sedemikian rupa sehingga gabah terangin-angin. Beras akan terpisah dari merang setelah bersih beras diwadahi karung dan gabah yang masih belum tertumbuk dikembalikan ke lesung untuk ditumbuk ulang. Demikian terus menerus sehingga seluruh gabah berubah menjadi beras.

Peran lesung kini telah digantikan mesin huller. Sehingga jarang sekali warga yang masih memiliki lesung. Pun tradisi gothekan lesung. Bagaimanapun tradisi Kothekan Lesung nampaknya perlu untuk dilestarikan menjadi tradisi asli Kebumen sekaligus mengingatkan anak cucu tentang sejarah pengolahan padi pada zaman dahulu. (Aris/Opal/Brs)

 

Untuk melihat lebih banyak Kebumen dalam video klik Channel

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab

Powered by WordPress