Membedah Urgensi Investasi

Tak Berkategori

Oleh ABDUL WAID

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen

Anda saja semua orang Indonesia membaca buku berjudul Think Like A Millionaire (2015) karya Amir Faisal, barangkali kita sama sekali tidak akan pernah menemukan orang miskin di negeri ini. Buku yang mengajak para pembacanya berpikir seperti layaknya seorang milioner itu memberikan pelajaran penting tentang makna kekayaan yang sebenarnya. Amir Faisal mengatakan, arti kekayaan adalah pemilikan uang (asset liquid, cash inflow) dan investasi. Semakin banyak dan semakin tinggi investasi yang dimiliki, maka seseoarang akan semakin kaya.

Apa yang disampaikan oleh Amir Faisal tersebut selaras dengan penuturan Cons Freddy Pieloor dalam bukunya berjudul The Millionaire Mindset: Beyond the Financial Planning (2013). Freddy Pieloor yang juga berprofesi sebagai konselor keuangan dan keluarga itu mengatakan, di zaman penuh persaingan dan meningkatnya kebutuhan hidup yang semakin kompleks, investasi merupakan sebuah jalan yang harus dilalui. Investasi adalah alat untuk mencapai dan mempertahankan kesejahteraan dalam kehidupan. Tanpa investasi, dapat dipastikan seseorang tidak akan pernah mencapai tujuan keuangan dirinya sehingga berakhir dalam kesengsaraan (Freddy, 2013: 101).

Apa yang disampaikan oleh Amir Faisal dan Cons Freddy Pieloor tersebut di atas memastikan bahwa siapa pun orangnya dapat menjadi seorang milioner dan sekaligus dapat lari dari kemiskinan dengan melakukan satu syarat, yaitu berinvestasi. Apalagi, salah satu penyebab kemiskinan adalah ketidakmauan masyarakat untuk berinvestasi sehingga menjadi faktor keterlambatan pertumbuhan ekonomi dalam keluarga dan pada akhirnya akan terjebak pada kemiskinan dan keterpurukan.

Tetapi, siapa pun sebenarnya bisa selamat dari jeratan kemiskinan dan keterpurukan melalui investasi. Hal itu disebabkan karena investasi bisa mencegah bahaya inflasi yang dapat terjadi kapan saja. Inflasi bisa menurunkan nilai mata uang. Namun, melalui investasi, keadaan tersebut bisa dengan mudah dihindari.

Bila dilihat dari urgensi investasi terhadap kehidupan masyarakat, akan tampak sangat aneh jika masih ada orang yang menolak atau tidak mau berinvestasi. Sebab, penolakan tersebut dapat diasumsikan sebagai sebuah penolakan untuk hidup mapan, bahkan sebenarnya sedang merencanakan hidup dalam kemelaratan dan kesengsaraan. Tidak ada satu pun manusia kaya dan sukses di dunia ini yang menolak berinvestasi. Dalam konteks pembangunan ekonomi di setiap negara, termasuk di Indonesia, penekanan investasi adalah unsur penting yang tidak boleh dihindari. Dengan kata lain, keberhasilan pembangunan Ekonomi Indonesia salah satunya juga bergantung pada investasi.

Paradoks

Jika kita melihat kenyataan yang terjadi di tengah masyarakat pada umumnya, diskursus mengenai investasi di Indonesia mengarah pada sebuah paradoks. Di satu sisi, urgensi investasi dan manfaatnya terhadap aspek-aspek fundamental kehidupan masyarakat sudah tidak dapat diragukan lagi. Investasi adalah langkah yang sangat penting baik bagi ekonomi keluarga maupun negara. Tetapi, di sisi lain, fakta di lapangan justru memperlihatkan bahwa masih sangat sedikit warga masyarakat yang mau berinvestasi. Banyak masyarakat yang takut atau bahkan menolak berinvestasi.

Padahal, dalam konteks saat ini, sebenarnya sudah tidak ada alasan lagi bagi siapa pun untuk menolak investasi. Sebab, saat ini untuk melakukan investasi sangat murah dan sangat mudah dilakukan oleh siapa saja. Sayangnya, kesadaran akan pentingnya berinvestasi lebih sering dirasakan oleh kalangan usia tua yang sudah berkeluarga saja. Kalangan usia muda masih merasa belum perlu melakukan investasi. Padahal, waktu yang paling tepat untuk berinvestasi adaah di usia muda. Manakala umur sudah menginjak usia tua, maka saat itulah manfaat investasi bisa dirasakan.

Patut dipertanyakan, hal apa yang perlu ditakuti jika kita berinvestasi? Investasi bukanlah momok yang harus dijauhi. Apalagi, terminologi investasi selalu berkonotasi positif. Secara sederhana investasi dapat diuraikan ke dalam tiga hal. Pertama, penanaman mdal. Kedua, uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Ketiga, jumlah uang atau modal yang ditanam. Investasi sebagai penanaman modal merupakan pasiva yang dapat berubah denga atau tanpa kita melakukan suatu apa pun. Sementara uang atau modal dalam suatu perusahaan  atau proyek merupakan sisi kas yang sifatnya dinamis. Kemudian pengertian ketiga, bahwa modal juga merupakan kas dalam prinsip persamaan akuntansi. Lantas, mengapa masih banyak orang yang tidak mau beinvestasi sejak dini?

Buku berjudul Investasi Cerdas (2011) yang ditulis oleh Arif Rahman memberikan ilustasi menarik tentang pentingnya melakukan investasi di usia dini (muda). Yaitu, si A dan si B akan pension 30 tahun lagi. Si A mulai investasi Rp 200.000 perbulan selama 30 tahun kedepan. Sementara si B baru mulai berinvestasi setelah 15 tahun kedepan dengan besaran investasi Rp 500.000 perbulan. Total investasi si A adalah Rp 72.000.000 sementara si B adalah Rp 90.000.000. Jika investasi kedua-duanya sama-sama memberikan tingkat return 8% per tahun, maka pada tahun ke-30 investasi si B hanya sekitar Rp 174.000.000, sementara si A berhasil mendapatkan hasil Rp 299.000.000. Jumlahnya jauh lebih banyak dari yang yang ditabung oleh si B karena si A lebih dulu menabung meski jumlahnya lebih kecil (Arif, 2011: 26-27).

(sumber gambar: pexels.com)

Ilustrasi tersebut di atas menggambarkan bahwa berinvestasi sejatinya memang sebaiknya dilakukan di usia dini. Tapi ironisnya, masih banyak orang yang tidak suka berinvestasi sehingga hal ini semakin menguatkan situasi yang bersifat paradoks. Bagi kebanyakan kalangan yang hingga saat ini masih menolak berinvestasi, barangkali langkah tepat yang harus dilakukan adalah money tracking, yaitu cara untuk mengkalkulasi dan mengevaluasi segala pemasukan dan pengeluaran keuangan secara detail.

Jika itu dilakukan, maka dalam satu bulan akan tampak jelas pebandingan antara pengeluaran dan pemasukan. Pada umumnya, banyak sekali pengeluaran yang membuat seseorang merasa senang namun sebenarnya hal itu tidak banyak memberikan manfaat. Dengan kata lain, jumlah uang yang digunakan untuk pengeluaran, khususnya untuk hal-hal yang tidak terlalu penting, pada hakekatnya memang lebih baik dijadikan sebagai dana investasi. Dengan investasi, keuangan akan selalu berkembang dan jaminan hidup akan selalu terjaga, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.

Urgensi Pokok

Membahas urgensi investasi sebenarnya bukan hanya terkait dengan persoalan bertambahnya uang atau pun hal-hal sederhana lainnya seperti mendapatkan hasil yang menguntungkan di masa depan, ketenangan hidup, adanya passive income, maupun financial freedom (keadaan yang berkecukupan harta sehingga tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan uang). Tetapi, hal yang tidak kalah penting dari itu, urgensi invesasi juga mencakup berbagai macam aspek fundamental kehidupan manusia. Misalnya, kepemilikan rumah atau aset yang menjadi kebutuhan pokok/primer bagi setiap manusia, pemberian pengetahuan dan kesadaran kepada generasi-genarasi berikutnya akan pentingnya investasi dan pentingnya pengggunaan keuangan yang baik dan benar.

(sumber gambar: pexels.com)

Masyarakat tidak perlu ragu dan takut untuk berinvestasi karena sebenarnya pemerintah telah memberikan dorongan dan fasilitasi kepada masyarakat dengan ragam program dan pengadaan instansi yang bisa membantu masyarakat. Misalnya, adanya PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) yang didirikan pada 22 Juli 2005 berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 5/2005, tanggal 7 Februari 2005, tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia serta Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 19/2005, tanggal 7 Februari 2005, tentang Pembiayaan Sekunder Perumahan, akte Notaris Imas Fatimah, SH, No. 59 yang telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tertanggal 30 Agustus 2005 No. 69 Tambahan No. 9263. Hal itu dapat diakses dan dipelajari kapan saja oleh masyarakat umum sebagaimana terdapat dalam https://www.smf-indonesia.co.id/ serta dua akun instagram @inveseries dan @ptsmfpersero

Mengutip dari https://www.smf-indonesia.co.id/, tugas PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 1 tahun 2008 juncto 19/2005, adalah membangun dan mengembangkan Pasar Pembiayaan Sekunder Perumahan (PPSP) yang salah satu kegiatan usahanya adalah menciptakan produk pasar modal berbasis KPR yang dapat menjadi alternatif investasi.

Oleh karena itu, berangkat dari adanya dorongan dan fasilitasi dari pemerintah serta urgensi investasi bagi kehidupan manusia baik saat ini maupun yang akan datang, maka dapat dikatakan bahwa berinvestasi adalah suatu keharusan bagi setiap individu tanpa terkecuali. Karena itu pula, upaya untuk memunculkan kesadaran diri tentang pentingnya investasi harus selalu dilakukan sejak dini.

Sebagai penutup artikel ini, penulis hanya ingin mengatakan bahwa investasi bukan sekadar menuntun kita untuk melestarikan dan meningkatkan harta, tetapi juga menuntun kita untuk hidup hemat dan mengelola keuangan secara baik, benar dan tepat sasaran. Maka, mari kita berinvestasi!

ABDUL WAID, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab

Anda mungkin juga suka...

Artikel Populer

Tinggalkan Balasan

Or

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.