Dari Keragaman Menuju Kebangkitan

Tak Berkategori

Oleh Abdul Waid
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

Andai saja kita mau belajar dari sejarah runtuhnya dinasti Khawarizmi saat dibumihanguskan bangsa Mongol pimpinan Jenghis Khan, barangkali kita akan menyadari betapa pentingnya “bangkit bersama” untuk membangun bangsa. Dalam buku Al-Mughul Baina Al-Instisyar wa Al-Inkisyar karya Ali Muhammad Ash-Shallabi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Bangkit dan Runtuhnya Bangsa Mongol (2015), Ash-Shallabi mengatakan, keberhasilan Jenghis Khan mengalahkan Sultan Alauddin selaku penguasa Khawarizmi adalah karena pasukan Khawarizmi tidak bangkit bersama menghadapi Mongol.

Statemen Ash-Shallabi tersebut selaras dengan tesis Indra Gunawan, seorang pelajar master di Universitas Al-Azhar Kairo yang mengkaji Strategi Beperang Bangsa Mongol di Negeri Muslim periode 1254-1260 M. Indra mengatakan bahwa keterceraiberaian rakyat Khawarizmi adalah faktor determinan kekalahannya atas Mongol. Padahal, jumlah pasukan Khawarizmi tidak kalah banyak dibanding pasukan Mongol.

Sejarah ekspansi Mongol itu memberikan pelajaran bahwa membangun bangsa sejatinya memang harus bangkit bersama. Kemajuan bangsa hanya bergantung pada kesanggupan untuk bangkit bersama mencapai cita-cita bersama. Pasalnya, kita semua berdiri di atas persamaan cita-cita, yaitu kemakmuran dan kemajuan bangsa dalam segala bidang.

Imagined Community

Indonesia adalah imagined community, yaitu negara persatuan yang terdiri dari perbedaan komunitas, baik suku, agama, maupun bahasa. Perbedaan itu mengindikasikan bahwa dalam membangun bangsa, semua komunitas harus bekerjasama serta bangkit bersama untuk mencapai satu tujuan yang sama.

Artinya, Indonesia terbentuk dari keanekaragaman rakyat yang mewujud menjadi satu kesatuan. Suka atau tidak suka, membangun Indonesia sebagai sebuah bangsa, seluruh komunitas harus bangkit bersama.

Dalam kajian antropologi budaya, keragaman suku, agama dan bahasa, yang dapat diasumsikan sebagai modal dasar untuk menjadi negara maju merupakan salah satu bentuk the culture of symbolism. Kultur simbolisme ialah keadaan yang merepresentasikan kenyataan—keragaman suku, agama, dan bahasa yang bisa dijadikan dasar untuk saling bekerjasama membangun bangsa—yang diwujudkan dalam simbol dan merefleksikan makna dari sebuah pembangunan dan kemajuan (Geertz 1973).

Bila merujuk pada pandangan antropolog Akhil Gupta dalam The Anthropology of the State (2006), keanekaragaman rakyat Indonesia sebagai modal dasar untuk bangkit bersama membangun bangsa dapat dijadikan sebagai media yang disebut the imagination of the state power. Yaitu, bagi Indonesia, keanekaragaman itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi promosi bagi dunia bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki banyak keragaman namun hakekatnya adalah satu sehingga memudahkan untuk bangkit dan maju.

Hal itu sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yaitu berbeda-beda namun tetap satu jua. Artinya, dengan jiwa dan semangat bangsa Indonesia yang mengakui realitas bangsa yang majemuk namun tetap menjunjung tinggi persatuan untuk selalu bangkit bersama membangun bangsa demi cita-cita mulya.

Abdul Waid, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab

Anda mungkin juga suka...

Artikel Populer

Tinggalkan Balasan

Or

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.