6:33 am - Selasa Oktober 19, 2021

Kobar Jateng, Soroti Pelaksanakan PTM

44 Viewed kebumenn 0 respond
Advertisment Single content advertisement top

Kebumen News (2 Oktober 2021)

KOBAR (Koalisi Rakyat Bantu Rakyat) Jawa Tengah 16 September – 02 Oktober 2021 Memasuki September 2021, beberapa kota dan kabupaten di Pulau Jawa sudah mulai banyak yang turun level dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Pemerintah tampaknya mulai melonggarkan aturan-aturan pengetatan yang sebelumnya diterapkan.
Salah satunya adalah diizinkannya kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah-sekolah. Tetapi, dimulainya PTM tersebut justru membuka ruang bagi munculnya cluster-cluster penyebaran COVID-19.

Single content advertisement top

Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang direkam oleh media, menunjukkan bahwa pada 22 September 2021 ada 1.299 sekolah yang menjadi cluster penyebaran COVID-19. Mereka yang tertular COVID-19 adalah para guru dan murid sekolah. Sebanyak 7.285 orang pendidik dan tenaga pendidikan dilaporkan terjangkit COVID-19. Sementara, murid yang terkena COVID-19, mencapai 15.655 orang. Secara nasional, tingkat sekolah dengan cluster terbanyak adalah, secara berurutan: SD
sebanyak 584 cluster; PAUD (250); SMP (243); SMA (107); SMK (70).

Dari segi wilayah, secara berurutan lima besar mulai dari provinsi dengan cluster terbanyak adalah: Jawa Timur sebanyak 164 cluster; Jabar (149); Jateng (132); NTT (104); dan Sumatera Utara (52).
Namun data tersebut diingkari oleh Mendikbudristek, Nadiem Anwar
Makarim. Menurutnya, data tersebut berasal dari satuan pendidikan, yang belum diverifikasi. Bisa dikatakan bahwa Menteri Nadiem tidak memercayai data yang berasal dari bawah (masyarakat) yang dalam hal ini adalah dari masing-masing satuan pendidikan (sekolah). Apakah verifikasi yang dimaksud Menteri Nadiem adalah harus turunnya orang pusat untuk mengecek validitas data?

Menteri Nadiem juga menyebut adanya miskonsepsi terkait cluster penularan akibat PTM yang mencapai 2,8%. Dia mengklarifikasi bahwa angka tersebut adalah data kumulatif sejak Juli 2020, bukan data satu bulan terakhir ketika PTM diterapkan. Dengan keadaan tersebut, pemerintah tidak akan menghentikan PTM, sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo yang memerintahkan Menteri Kesehatan dan Mendikbudristek untuk menerapkan kebijakan PTM terbatas. Menurut Menteri Nadiem, kebijakan PTM tidak bisa ditunda. Argumentasinya, jika ditunda maka para siswa akan mengalami learning loss (suatu kondisi hilangnya pengetahuan baik secara umum atau spesifik), yang menurut penelitian Bank Dunia dampaknya bisa sangat menyeramkan. Tidak dijelaskan secara terbuka apa yang dia maksud dengan dampak menyeramkan tersebut.

Ketimbang potensi penularan COVID-19 di sekolah-sekolah, Menteri Nadiem lebih mengkhawatirkan keadaan saat ini dimana PTM baru berlangsung pada 40% sekolah dari total sekolah yang memenuhi syarat pelaksanaan PTM. Tampaknya. Menteri Nadiem sebagai orang pusat, tidak melihat faktor lain mengapa sekolah dalam zona yang memenuhi syarat PTM, tidak melakukan PTM. Termasuk tidak memercayai data dari bawah yang secara spesifik datang dari satuan pendidikan tersebut. Disebutkan dalam Rilis KOBAR 1-15 September
2021 bahwa, ada dua sekolah di Kota Semarang yang kembali meniadakan PTM setelah ada penularan COVID-19. Sekolah melakukan hal tersebut dalam merespon kekhawatiran dan permintaan orang tua siswa.
Pemerintah justru memanfaatkan PTM tersebut untuk menjajal srategi surveilans 3T (deteksi) di lingkup kegiatan belajar mengajar. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, jika strategi tersebut berhasil, maka akan direplikasi ke aktivitas perdagangan, pariwisata, keagamaan, hingga transportasi. Bukankah yang seperti itu sudah basi atau itu hanya alasan saja? Dalam arti, sudah sejak awal COVID-19 meledak di Indonesia, para epidemiolog dan banyak sekali kelompok masyarakat yang memantau COVID-19, meneriakkan soal pentingnya surveilans?

Sementara, kabar tentang mendekatnya varian COVID-19 yang baru ke Indonesia terus muncul. Setelah sebelumnya varian Delta, kali ini adalah varian Mu, yang diberitakan sudah sampai Malaysia. Saat ini varian Mu yang berasal dari Kolombia itu diketahui sudah menginfeksi masyarakat di 40 negara.

Ketua Pokja Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr. Erlina Burhan mengatakan, meskipun ada data yang menunjukan potensi penularan varian Mu cukup tinggi dan cukup mudah. (Kn.01 diolah daru berbagai sumber)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab

Single content advertisement bottom
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
5/5 - 1
You need login to vote.
Filed in

Cegah Hama, Petani Peniron Dididik Pembuatan Pestisida Nabati

288 Wisudawan IAINU Kebumen Dibekali Skill Hadapi Era Disrupsi

Related posts