7:56 pm - Sabtu Juli 31, 2021

Kearifan Kiai Kampung Menghadapi Pandemi Covid-19

130 Viewed kebumenn 0 respond
Advertisment Single content advertisement top

Kebumen News (10 Juli 2021)


Pandemi covid-19 telah menjadi masalah dunia. Jutaan orang terkena virus yang membahayakan ini. Awal tahun 2020 virus ini masuk di Indonesia hingga Juni 2021 lebih dari dua juta terjangkiti virus ini dan lebih dari 60 ribu orang dinyatakan meninggal karena virus ini. Itu baru data resmi pemerintah, padahal banyak kasus di masyarakat yang tidak tercatat oleh pemerintah.

Sejumlah kebijakan pemerintah diambil untuk memutus persebaran virus ini. Selain himbauan kepada masyarakat agar selalu memakai masker, cuci tangan dan menjaga jarak juga ada anjuran untuk makan dan minum yang bervitamin, jaga stamina, istirahat yang cukup dan tidak boleh stress, juga kebijakan PSBB dan PPKM pun diambil pemerintah untuk menahan laju virus tersebut.
Sempat melandai turun jumlah kasusnya, tetapi pasca lebaran Mei 2021 dan banyak orang mantenan pada bulan Juni 2021 kasus orang yang yang terkena virus covid-19 kembali melonjak tinggi. Ibaratnya Juni 2021 telah terjadi peningkatan gelombang kedua virus covid-19. Sejak 3 Juli 2021 Pemerintah kembali menerapka PPKM Darurat se Jawa – Bali guna menekan laju covid-19.

Pada awal bulan Juni hingga awal Juli 2021 banyak orang yang meninggal. Di jalanan kota besar hampir tiap 5 menit lewat mobil ambulance. Berita kematian hampir tiap hari tersiar di pengeras suara masjid dan musholla. Hal demikian juga terjadi di kampung-kampung di seluruh pelosok. Satu kampung kadang dalam sehari ada lebih dari satu orang yang wafat. Belum lagi banyak masyarakat yang mengalami gejala mirip gejala covid yaitu demam, flu, batuk, kehilangan indera penciuman dan sesak nafas. Kondisi seperti ini merata di semua daerah, desa atau kota.

Single content advertisement top

Ada yang mengaitkan kondisi ini dengan cuaca pancaroba dimana bulan Juni mestinya sudah musim kemarau tetapi masih sering turun hujan sehingga berdampak pada daya tahan tubuh. Ada pula yang mengaitkan turun balak yang jenisnya lebih ngeri dari covid yaitu sejenis balak berupa ubur-ubur yang awal bulan lalu turun di laut Jawa sehingga warga yang kena mula-mula adalah warga pesisir Jawa (pantura). Tetapi analisa yang umum lebih mengaitkan situasi ini dengan pandemic covid-19.

Salah satu daerah yang juga mengalami kondisi tersebut adalah Kabupaten Demak. Hampir merata kebanyakan desa di Demak warganya juga mengalami gejala seperti covid-19. Banyak juga orang yang meninggal dalam beberapa pekan terakhir ini, terutama dari kalangan orang tua (lansia) dan orang yang punya penyakit bawaan.

Ada salah satu desa (perkampungan) di Demak (sengaja penulis rahasiakan nama desanya) yang hampir mayoritas penduduknya mengalami demam, flu, batuk, kehilangan indera penciuman dan sesak nafas. Sejak pertengahan Juni hampir tiap hari ada warga yang meninggal. Rata-rata yang meninggal orang tua dan yang mempunyai penyakit bawaan. Kampung itu pun di-lock-down, dipasang portal oleh aparat dan dipasang spanduk dari dinas kesehatan tentang himbauan hidup sehat. Bahkan pernah satu malam/hari ada tiga warga wafat di satu kampung tersebut. Kejadian itu hampir terjadi selama 2-3 pekan yang lalu.
Situasi ini membuat masyarakat khawatir, was-was dan prihatin. Salah satu tokoh yang mengaolami itu adalah Mbah Mudin. Beliau adalah tokoh masyarakat yang biasa bertugas mengurusi jenazah. Dengan kondisi akhir-akhir ini beliau terlihat mengalami kelolosen (situasi kesedihan yang mendalam dan kelelahan fisik dan batin atas situasi yang terjadi juga mengalami kecapekan beberapa hari terakhir selalu mengurus jenazah), dan yang paling mengkhawatirkan penduduk mulai mengalami ketakutan. Banyak penduduk mengalami demam, flu, batuk, kehilangan indera penciuman dan sesak nafas.

Mbah Mudin pun berikhtiar melakukan ritual. Awal Juli 2021, Beliau mendatangi keranda yang biasa digunakan untuk menggotong jenazah ke makam. Selama ini keranda disimpan di pemakaman kampung. Di samping keranda, Mbah Mudin memandikan keranda dengan kembang, kemudian melakukan ritual sholat jenazah di samping keranda yang kosong. Lalu dibacakan do’a dengan sikap pasrah dan tawakkal kepada Alloh SWT, memohon semoga warga diberi kesembuhan panjang umur tidak ada lagi kematian yang beruntun seperti hari akhir-akhir ini.

Alhamdulilah sejak diadakan ritual tersebut sudah sepekan ini di kampung tersebut tidak ada lagi orang meninggal. Satu per satu penduduk yang semula sakit mulai mengalami kesembuhan; yang semula demam, flu, batuk, sesak nafas, kehilangan indera penciuman, kini mulai bisa hidup normal; bisa makan, bisa bernafas lancar, bahkan ketika ada yang sakit demam dan batuk disweb hasilnya negatif. Kehidupan warga mulai berjalan normal. Portal yang semula dipasang di jalan depan kampung sudah dilepas, namun edukasi kepada warga untuk mematuhi protokol kesehatan tetap dijalankan.

Ini adalah kisah nyata. Inilah kearifan sosok kiai kampung, Mbah Mudin, yang melakukan ritual memandikan keranda dengan kembang dan shalat jenazah di samping keranda yang kosong kemudian mendo’akan warganya agar senantiasa sehat, panjang umur dan dijauhkan dari segala macam mara bahaya.

Pesan dari cerita ini adalah sebagai umat Islam dalam situasi ini kita harus selalu optimis. Bahwa kita harus lebih meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT. Dengan penuh kesadaran bahwa kita adalah hamba Allah SWT. Manusia maupun corona sama-sama hamba Allah SWT. Mungkin corona sebagai makhluk Allah SWT diturunkan ke muka bumi punya misi khusus untuk mengembalikan manusia yang sempat melalaikan kewajibannya sebagai hamba agar kembali ke fitrahnya yaitu mengimani Allah SWT. Di hadapan makhluk kecil yang tidak terlihat saja kita tidak berdaya lantas kenapa masih berani membangkang kepada Allah SWT, Dzat Maha Penguasa yang menciptakan langit dan bumi dan segala isinya. Allah SWT adalah Dzat yang mendatangkan corona dan Allah SWT pula yang bisa menarik kembali corona keluar dari muka bumi.

Semoga pandemi covid-19 ini cepat berlalu agar kita semua hidup kembali hidup normal lagi.[Kn.01 diolah dari berbagai sumber]

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab

Single content advertisement bottom
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
5/5 - 1
You need login to vote.
Filed in

Ribuan Orang Wafat, Menag Ajak Masyarakat Doa dan Hening Cipta

PT. Umegaru Grup Salurkan CSR Melalui NU Care Lazisnu Kebumen

Related posts