Perkuat Soliditas Sudarto (PB IKA) Ajak PMII Kebumen Lebih Interaktif

Tak Berkategori

Kebumen News (30 Januari 2021

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kebumen menggelar Pelatihan Kader Lanjut di kampus IAINU Kebumen dengan standar protokol kesehatan untuk menghindari Covid-19.

Pelatihan ini diikuti oleh 21 kader PMII yang terdiri dari utusan cabang- cabang di sekitar Kebumen, datang dari Yogyakarta, Purworejo, Wonosobo, dan Cilacap.

Hadir mengisi materi Sudarto Bendahara Umum Pengurus Besar Ikatan Keluarga PMII yang mengisi materi tentang Sosiologi dan Antropologi Masyarakat.

“Antropologi dan Sosiologi sekaligus perbedaannya sebenarnya memerlukan waktu beberapa SKS di bangku kuliah sehingga terlihat jelas apa yang mejadi titik pembeda. Keduanya memiliki kemiripan dan disiplin atau cluster ilmu pengetahuan yang sama yaitu social science, ilmu sosial yang saintifik/ilmiah.” Tutur Sudarta disimak peseeta PKL.

Semua hal yang terjadi dalam kehidupan manusia menurutnya dibuat menjadi masuk akal dengan menyetopnya untuk dipotret sehingga bisa dilakukan eksplanasi, itulah ilmu pengetahuan sosial, baik Antropologi, Sosiologi, dan sebagainya. Bedanya, Antropologi mengkaji manusia dan kehidupannya atau semua hal yang berkaitan/mempengaruhi kehidupan manusia baik secara sendiri atau secara berkelompok, sementara Sosiologi fokus pada kehidupan sosial masyarakat secara kolektif (tetapi masih blurred/tidak jelas terpisah/berbeda sehingga ada istilah blurred genres dalam ilmu pengetahuan sosial karena bedanya tipis sekali dan saling beririsan). Sosiologi tidak berbicara manusia secara individu, tetapi secara sosial (berkelompok). Antropologi mengkaji semua hal tentang manusia baik secara individual maupun berkelompok dalam kehidupan sosialnya, namun tidak ada satupun individu yang benar-benar hidup sendiri. Arti individu dalam kajian antropologi adalah individu yang berelasi dengan individu lainnya atau di dalam kehidupannya di masyarakat. Kajian invidu secara spefisik dilakukan oleh Psikologi.

“Artinya, Antropologi dan Sosiologi sama-sama mengkaji kehidupan sosial masyarakat secara ilmiah mulai dari evolusi manusia secara fisik maupun sosial, perilaku individu dan kelompok, kebudayaan masyarakat (termasuk di dalamnya pengetahuan, bahasa, kebiasaan, tradisi, agama, hasil karya dan cipta manusia berupa materi (berbentuk barang, bangunan, karya seni, dsb) dan non materi seperti sistem ekonomi, sistem politik, sistem pendidikan, dsb), struktur dan fungsi sosial di masyarakat, sampai pada persoalan kekuasaan, konflik, dan organisasi sosial. Semua gerak dan dinamika tersebut disetop dan dirangkai dalam kausalitas, atau semua yang terjadi dibuat sebagai pola sebab-akibat dan menjadi satu rangkaian sehingga menyandang istilah ‘logi/pengetahuan’” Sambung Sudarto.

Perbedaan yang nyata antara Antropologi dan Sosiologi hanya pada metode yang dipakai dalam penelitian dan paradigma yang digunakan. Penelitian ilmiah dalam Antropologi menggunakan metode etnografi yang bersifat empirik, induktif, partikularis, data lapangan mengkonfirmasi teori, persoalan real/fakta yang terjadi di masyarakat diperhatikan secara detail dan mendalam untuk digeneralisasi menjadi konsep dan teori. Misalnya, Radcliffe-Brown (1881-1955) yang melihat hubungan yang santai antara anak dengan ayah tetapi hubungan enggan antara anak dengan saudara laki-laki ibu di Pulau Andaman yang melahirkan teori dan paradigma struktural fungsionalisme, juga istilah hubungan kekerabatan matrilineal. Malinowski (1884-1942) ketika melihat pola perkawinan dan pertukaran hadiah ‘kula’ yang dilakukan oleh Suku Trobriand, maka lahirlah teori dan paradigma strukturalisme dan hubungan kekerabatan patrilineal.

Clifford Geertz ketika mengamati secara saksama sabung ayam di Bali, ia bisa menyimpulkan kebudayaan masyarakat Bali yang hierarkis (berkasta) dan membuat konsep ‘negara teater’ dari tradisi ini. Ketika memperhatikan simbol-simbol ritual dan kepercayaan mistis masyarakat Jawa yang berbeda satu sama lain lahirlah ‘Agama Jawa’ yang memberi label pembeda antara kaum priyayi, santri, dan abangan, sekaligus bersumbangsih pada lahirnya pendekatan Interpretivisme Simbolik dalam kajian Antropologi. Ketika ia memperhatikan cara panen menggunakan ani-ani dan tradisi arisan di suatu desa di Jawa, maka lahirlah konsep sharing proverty (Kemiskinan yang terbagi). Untuk melahirkan konsep dan teori-teori tersebut, para antropolog harus membangun ‘rapport’ atau rasa saling percaya dengan satu kelompok masyarakat yang diteliti hingga puluhan tahun tinggal bersama. Maka, penelitan yang dilakukan adalah kualitatif, tanpa menggunakan kuesioner dan menarik sampel untuk menghitung representasi akurasi data.

“Kader PMII mempunyai 2 pilihan, pertama menjadi korban arus kontsruksi di dunia digital post-modernis ini atau menjadi pengendali/pemain dalam melakukan konstruksi ‘kebenaran’ karena kebenaran atau kebaikan saat ini bersifat constructed (dikonstruksi), situated (berdasarkan situasi dan kondisi), manipulated (dimanipiulasi), discursive (dengan banyak cara/jalan atau dipahami berbeda). Piliah pertama akan mengendalikan kita, membawa kita ke dalam arus kepentingan orang atau kelompok lain, dimanfaatkan oleh orang lain, atau turut membantu orang lain mendapatkan manfaat/keuntungan dari setiap momentum yang dikonstruksi. Pilihan kedua, kita menjadi pemain/pengendali arus informasi, aturan, sistem, atau struktur yang salah untuk diubah atau ditandingi dengan infromasi, pengetahuan, sistem, dan aturan yang benar untuk menjaga dan melindungi masyarakat. Kita bisa mengkonstruksi sesuatu (pengetahuan, aturan, sistem, struktur) yang baru yang berguna bagi masyarakat atau bahkan kita bisa membangun sebuah gagasan, wacana, pengetahuan, menciptakan kondisi, peristiwa,”. Tutur Sudarto bersemangat.

“Dengan pendekatan post-modernis, ingin menjadi apapun kader PMII secara personal atau secara kolektif ya harus dikonstruksi dan didesain secara sadar, bukan tiba-tiba dapat atau tercapai dengan sendirinya, tetapi dengan pertarungan ide, gagasan, kerja-kerja nyata, dan aktualisasi diri dalam memperkuat kebenaran faktual/kebenaran ideal atau kebenaran konstruktif, juga mencapai cita-cita pribadi, organisasi, dan cita-cita bangsa dengan tentu saja memahami Antropologi dan Sosiologi masyarakat di mana kita berada baik secara partikular maupun general” Pungkasnya. (Kn.01)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab

Anda mungkin juga suka...

Artikel Populer

Tinggalkan Balasan

Or

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

hot photos of malayalam actress lena renklipornoo.net honey moon xnxx افضل مواقع السكس المترجم sexdejt.org فيلم سكس سورى desi unseen.com indiantubes.net hot sneha راجل ينيك بنته aflamsexaraby.com افلام سكس حيوانات مع نساء 裏風俗 javidol.org 3dsvr
indian xxx videos mehrporn.com kv2 patiala horsemating pakistanixxxmovie.com iandian xxx com telugu heroins blue films xxxhindividoes.com hindu girl hot أشهر مواقع السكس orivive.com سكس محارم عراقى hornybank.com mecoporn.com hdmovies.da
hindi bf video me hindihdporn.net xnxx coimbatore igyou kaikitan cartoon-porn-comics.com manhwa henati slime girl hentai manga jabhentai.com ecchi mecha oh yes mommy.com gotubexxx.com bengali nude girls brother sister sex story pornhindivideo.com student x video