1:22 am - Selasa November 19, 2019

Antri Air Di Aditirta dan Wanasara, Warga Tetap Ceria

203 Viewed kebumenn 0 respond

Tiga bulan terakhir ini banyak daerah yang mengalami kekeringan disebabkan karena kemarau. Kemarau tahun ini lebih panjang waktunya daripada tahun sebelumnya.
Daerah-daerah yang terkena kekeringan di Kebumen salah satunya Desa Aditirto. Mesnama “Adi” yang berarti sendiri “Tirto” yang berarti air, dan jika digabung baerti kemandirian dalam air. Ternyata nama itu kini telah tak berarti sesuai kenyataan, karena nyatanya banyak warga yang kekurangan air untuk kebutuhan sehari-harinya warga yang mengalami kekeringan berusaha untuk mencari air di daerah yang masih terdapat air. Mereka mengambil air dengan berbagai cara. Ada yang menggunakan motor untuk mengangkut air. Ada juga warganya yang langsung ke sumber air dengan cara dipikul.
Sebut saja Sudirman lelaki separuh baya yang berumur 60 tahun itu mengambil air dengan cara dipikul. Tak hanya itu Sudirman mengambil air dengan dipikul iti menempuh jarakya kurang lebih 300 meter. Dan itu dilakukannya setiap hari pada pukul 5 pagi dan setelah pulang bekerja pada pukul 04.30 sore.
Meskipun Sudirman memiliki seorang anak yang sudah dewasa, tetapi ia memilih untuk mengambil air sendiri khawatir memberatkan anaknya.

Selain Adiitirta kemarau panjang tahun ini juga menyebabkan desa Kemangguan dilanda kekeringanKekeringan paling parah terjadi di Dusun Wonosegoro tepatnya RT 1 RW 3. Warga mengalami krisis air disebabkan keringnya sumur-sumur warga selama beberapa bulan terakhir. Sumur milik warga banyak yang mengering karena sudah lama tidak turun hujan. Warga ada yang membuat sumur di tepi sungai untuk mendapatkan air bersih
Kondisi ini memaksa warga Wanasara berbondong-bondong mencari air bersih ke lokasi yang masih ada airnya. Untung pemerintah desa berhasil mendapatkan bantuan sumur. Warga bergantian mengambil air dari sumur. Wadah yang digunakan warga pun beragam dari ember kecil, ember besar bekas cat tembok, jerigen, dan galon. Terkena dampak kemarau ini warga hanya bisa pasrah. Untuk memanjangkan ketersediaan air mereka mengatur penggunaan air sebijak mungkin. Sebetulnya warga bisa kapan saja mengambil air ada yang subuh, pagi, siang,sore, Hingga malam hari pun warga masih antri. Meskipun demikian warga tetap tenang dan hidup berdampingan dengan tegur sapa dan lelucon sesama mereka.

“Alat dan cara membawa air nya pun beragam, mulai ember ada yang dipikul, ditenteng, lain halnya dengan jerigen dan galon ada yang menggunakan motor dan arko atau kereta Sorong “tutur Hamdi.
Warga rela menempuh jarak ribuan kilometer bagi yang berbeda desa. (Zahro/Laela/Kn.01)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
3/5 - 2
You need login to vote.
Filed in

Kesulitan Air Akibat Kemarau, Warga Wanasara Shalat Istisqa

Goebok Indonesia Komitmen Cegah Hoax Konflik di Papua

Related posts