2:07 am - Selasa November 19, 2019

Spirit Ekologi dalam Nikah Kades Kaibon Petangkuran

852 Viewed Masyarakat Karst 0 respond
BIBIT POHON: Setiap tamu perhelatan nikah Kades Kaibon Petangkuran nampak semringah mendapatkan bibit pohon. Lebih dari 2.000 batang habis dibagikan [Foto: K.04]

Ketika resepsi pernikahan maupun khitanan dihelat di banyak tempat, sering terlihat souvenir dibagikan kepada para tamu yang menghadirinya.  Menjadi sesuatu yang luar biasa rasanya manakala yang dibagikan itu bukan souvenir seperti umumnya, melainkan bibit pohon. Ini yang terjadi sepanjang hari itu. Setidaknya 2.000 bibit pohon jenis Albasia habis dibagikan tamu-tamu usai menghadiri resepsi pernikahan Kades Kaibon Petangkuran Ambal, Sabtu (23/3) hingga sore harinya.

Sang pengantin, Muhlisin yang juga Kades setempat mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting wanita sekampung; Siti Nafisatul Ikromah. Akad nikahnya telah dilangsungkan Jumat (15/2) pekan lalu. Dan pada perhelatan jamuan resepsi malam harinya dimeriahkan dengan pagelaran wayang golek Menak dengan dalang senior Ki Basuki Hendroprayitno dari Ambal.

Bibit pohon dalam sebuah pernikahan boleh jadi merupakan framing ekologi rintisan. Meski beberapa tahun lalu dibuat aturan tak resmi di sebuah KUA bagi calon pengantin yang akan menikah, yakni kewajiban untuk menyerahkan 2 bibit pohon kelapa sebelum melangsungkan akadnya. Tak diketahui apakah ide dan prakarsa yang mengarah pada penanaman pohon ini masih ditradisikan.

Tetapi pembagian bibit Albasia dalam resepsi pernikahan Muhlisin bukan lah kewajiban itu melainkan adalah ide murni yang berangkat dari pertimbangan pentingnya menanam pohon. Dia berharap di masa datang, dari hal kecil ini warga memulai kebiasaan untuk gemar menanam pohon mengingat banyaknya pekarangan luas yang belum produktif di desanya.

“Saya juga membikin pengecualian bagi kelompok seni yang dipilih untuk pentas pada resepsi”, bincang Muhlisin. “Bukan misalnya Campursari sebagaimana umumnya..”. Kalangan muda di desa pimpinannya, sejak beberapa tahun ini, tengah gemar berlatih seni rebana. Dia mendorong itu.

“Adalah ironi, jika saya malah tak memberdayakan kelompok seni di moment ini..”, katanya di sela kesibukan menemui tamu-tamu.

 

WAYANG GOLEK: Pagelaran wayang golek Menak dengan dalang Ki Basuki Hendroprayitno
digelar Sabtu (23/2) malam Minggu di Desa Kaibon Petangkuran [Foto: K.04]

Wayang Golek

Resepsi nikah Sang Kades yang sebelum menjabat lurah pernah menjadi korban kekerasan militer karena kegigihannya dalam mengadvokasi hak petani se-Urutsewu atas pemilikan turun-temurun lahan pertanian pesisir ini; dimeriahkan dengan menggelar pentas Wayang Golek Menak.

Pementasan wayang golek corak “pesisiran” ini, meski masih mengadopsi lakon yang bersumber dari babon Serat Menak, namun telah mengalami akulturasi baik dalam konteks narasi maupun tokoh-tokoh wayangnya. Dimana dalam hal tokoh wayang ditandai dengan munculnya Jayengrana, Marmaya dan Jaewana yang menyertainya. Di tangan Ki dalang Basuki Hendro Prayitno yang dipercaya Sang Kades membabar lakon di malam resepsi itu terkesan menjauh dari konteks lokal.

Meskipun memang penuh dipadati tamu yang menonton, beberapa yang ditemui wartawan ini menyampaikan kesannya di tengah pagelaran yang masih berlangsung.

“Narasi lakonnya berasa begitu-begitu saja”, komentar Saringan. Penonton asal desa lainnya ini datang sejak sore bersama rombongan  Kades Wiromartan.

Tak dijelaskan lebih lanjut apa makna dari kesan “begitu-begitu” saja yang disampaikannya, selain bahwa ia merasa kecelik dengan asumsi awal dan harapan yang dibawanya dari rumah; menonton wayang golek “pesisiran” dengan pendekatan sejarah lokal..

“Saya tak menemukan tautan itu”, pungkasnya [K.04]

***

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

DKD Kebumen Gelar “Kebumen Violin Orchestra”

Membongkar Pasung Ronggeng “Kunes”

Related posts