3:58 pm - Kamis Mei 22, 7558

Ki Dalang Basuki: “Penonton adalah Guru Yang Baik”

493 Viewed Masyarakat Karst 0 respond
WAYANG GOLEK: Dalang Ki Basuki Hendro Prayitno tengah memainkan wayang golek corak "kebumenan" di sela Sarasehan Seni Pedalangan yang digelar dalam rangka Milad 16 Tahun SRMB. Dalam improvisasinya, penggalan pementasan ini diiringi musik tradisi "Jamjaneng" dari Kelurahan Panjer [Foto: BY Hand]
  • Catatan Ulang Tahun SRMB Ke-16

 

Seni Pedalangan di Kebumen ternyata memiliki gaya atau gagrag tersendiri, yang karakternya agak berbeda dengan seni pedalangan yang berkembang secara umun di Jawa atau bahkan di Indonesia. Secara umum kita mengenal ada seni pedalangan Gagrag Surakarta, Yogyakarta, Tegalan, Banyumasan dan banyak lagi lainnya.

 

Akan tetapi seni pedalangan Gagrag Kebumen, yang disinyalir sebagai cikal bakalnya seni pedalangan gagrag banyumasan itu; justru kurang dikenal. Barangkali salah satu penyebabnya adalah minimnya penelitian, sumber literatur dan tidak adanya forum-forum yang secara intens berusaha membedah adanya seni pedalangan gagrag kebumenan.

 

Ini dipandang sebagai memprihatinkan. Bagi Sekolah Rakyat MeluBae (SRMB) kondisi seperti ini perlu disikapi oleh berbagai elemen masyarakat Kebumen, dengan melakukan berbagai upaya untuk secara intens berusaha menggali, mendedah dan membedah keberadaan seni tradisi pedalangan gagrag kebumenan.  

 

Dalam kerangka pemikiran ini, SRMB menggelar Rubungan dengan Dopokan Gayeng Maton dalam ulang tahunnya yang ke 16. Secara khusus, dalam milad dwi-windu SRMB menghadirkan pembicara praktisi pedalangan Ki Basuki Hendro Prayitno dari Amalresmi. Sebagaimana diketahui, dalang Basuki bukan hanya seniman wayang kulit melainkan juga piawai memainkan wayang golek Menak.

 

 

Menyegarkan Ingatan

 

Terhadap sinyalemen keberadaan seni pedalangan gagrag kebumenan ini, Ketua pelaksana Milad SRMB ke 16, Darmawan Riyadi dalam sambutannya berharap rubungan yang digelar di Balai Kelurahan (13/1) malam itu dapat menyegarkan kembali ingatan masyarakat akan keberadaan seni tradisi pedalangan gagrag kebumenan, baik wayang kulit maupun wayang golek menak.

 

Pemahaman terhadap ingatan sejarah seni tradisi ini pada gilirannya akan dapat menumbuhkan kebanggaan di kalangan masyarakat terutama pada generasi muda.  

 

Sejalan dengan itu, Jatmiko Krisnajati mengulas aspek sejarah lokal seni dengan apa yang pada masanya disebut wayang gagrag pesisiran. Pada masa lampau, wayang gagrag pesisiran ini memiliki banyak perbedaan dengan wayang gagrag lainnya. Baik dari aspek garap, tokoh-tokoh wayang, narasi lakon maupun gending-gending pengiringnya.

“Wayang gagrag kebumenan memiliki karakter sendiri”, ungkapnya.

 

POTONG TUMPENG: Ultah SRMB Ke-16 ditandai pemotongan salah satu dari 16 tumpeng oleh Daryono Cengkim dan diserahkan kepada dalang Ki Basuki Hendro Prayitno yang pada peringatan malam itu didaulat menjadi pembicara sarasehan [Foto: Arpan]

   

 

Penonton Sebagai Guru

 

Ihwal corak pewayangan yang khas dan berbeda dengan wayang-wayang yang ada ini banyak diungkap oleh Ki Basuki Hendro Prayitno. Dalang senior dari Ambal ini bahkan membawa serta beberapa koleksi tokoh wayang golek miliknya. Tak hanya itu, praktisi pedalangan yang tak henti belajar ini pun memainkan penggalan episode sejarah Kebumenan di masa lampau.

 

Wayang terutama wayang golek di tangan Ki Basuki lebih bisa berbicara banyak hal sesuai dengan konteks jaman. Dalam kaitan sejarah lokal, ia mengangkat penggalan cerita Bupati Kebumen pada masanya Kolopaking, yang tengah menerima tamu koleganya Bupati Purworejo; Cokronegoro IV. Adegan menariknya, tema yang dibahas dalam pertemuan 2 tokoh sejarah “menak” malam itu adalah seputar sikap para punggawa terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda pada masanya.

“Narasi ini kan berisi sejarah perjuangan, bernilai kepahlawanan”, ungkap Ki Basuki di depan peserta sarasehan.

“Penonton sekarang itu lebih pinter dari dalang. Bedanya hanya penonton tak bisa mendalang. “Penonton itu guru yang baik”, sambungnya.

Filosofi ini mengandung tuntutan dan konsekuensi pada para praktisi pedalangan untuk bukan saja memahami keahlian mendalangnya, melainkan juga belajar menguasasi pengetahuan tentang ilmu-ilmu lainnya; seperti ilmu sosial, sejarah, pendidikan dan lainnya.  

 

Artinya, jika seni pedalangan ingin berkembang, maka mau tak mau ia mesti menyesuaikan dengan konteks zaman. Karena, menurut seniman yang kini berusia 75 tahun ini; jika tidak memiliki korelasi dengan perkembangan jaman, maka ia –seni pedalangan itu- tak mustahil bakal ditinggalkan penontonnya.

 

 

Proyeksi Ke Depan

 

Jagad pewayangan, khususnya wayang golek “menak” merupakan bentuk kesenian wayang golek yang sangat khas. Kekhasan ini tidak ditemukan di daerah lain. Ki Basuki merefleksikan semasa mendiang mertua beliau Ki Sindhu Jotaryono, ihwal wayang golek menak gagrag pesisiran ini sudah pernah dikaji oleh peneliti.

 

Hasil penelitian akademik ini kemudian didokumentasikan menjadi tulisan ilmiah yang bahkan menjadi materi pengajaran di ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta dan ISI Yogyakarta yang semula dikenal sebagai ASRI Yogya. Bahkan tulisan tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Sayangnya, hasil penelitian sejarah seni ini tak juga dipublikasikan misalnya dalam bentuk buku cetak yang bisa jadi referensi bagi masyarakat secara luas.

 

Barangkali ini lah tantangan bagi pengembangan seni tradisi di masa mendatang. Sebagaimana harapan Ki Basuki Hendro Prayitno yang pada malam sarasehan itu sempat berimprovisasi memainkan wayang golek menak dengan corak atau gagrag pesisiran.

 

Menurutnya, menjadi dalang harus memiliki keberanian untuk melakukan inovasi, selain kesediaan untuk menghargai masyarakat penontonnya. Pengembangan seni tradisi, dalam konteks yang lebih luas, bukan melulu kewajiban pemerintah; meski memang masih relatif kecil perhatiannya. Ia mencontohkan profil tokoh wayang golek Marmoyo atau Umar Maya maupun Menak Jayengrono.

 

Dalam pakem pedhalangan wayang golek yang bersumber pada babon seperti Serat Menak misalnya pun tak ada disebut kedua tokoh wayang ini. Artinya, ini murni hasil inovasi atau pembaharuan yang dikorelasikan pada konteks jaman dan kebudayaan dimana seni tradisi itu tumbuh.

“Mengadakan sesuatu yang baru (pembaharuan_Red) berdasarkan bahan yang sudah ada”, demikian pesan Ki Basuki menutup sarasehan dalam rangka Milad Dwi-Windu SRMB 

Penulis: Pekik Sat Siswonirmolo

Editor: Aris Panji Ws

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
5/5 - 1
You need login to vote.

Revitalisasi Ponor, Kerja Ekologi Perpag di Akhir Tahun

Problem Sampah Tuntas, Bayar PBB Lunas

Related posts