7:46 pm - Minggu September 15, 2019

Pasar Sayuran Pereng Lukulo, Sebuah Rintisan

839 Viewed Masyarakat Karst 0 respond
PASPERLU: Lokasi Pasar Sayuran Pereng Lukulo (PaSPerLu) di Gg. Barokah, belakang Rutan Kebumen, memanjang pada paparan datar tak jauh dari tepian Sungai Lukulo. [Kredit Foto: Pitra Suwita]

Rupanya gagasan yang melansir bahwa Lukulo bukan sekedar sebagai sebuah sungai besar di Kebumen, tetapi juga merupakan sebuah kawasan budaya; itu bukan lah omong kosong belaka. Memang belum ada cultural-maping dilakukan untuk mempertegas itu. Namun di masa lalu, sungai yang menyimpan banyak legenda ini ditengara telah menjadi semacam identitas budaya yang mencerminkan kearifan lokal.

Dalam ingatan kolektif masyarakat tradisional, terutama penduduk di sisi barat sungai yang membelah Kebumen secara geografis ini, dikenal idiom “bandhek wetan kali” sebagai sebuah anekdot ataupun sanepan yang berkaitan dengan logat atau dialek entitas tertentu dari masyarakatnya.

Dari aspek komunikasi verbal, ditengarai penduduk yang tinggal di sisi barat sungai cenderung bertutur dengan bahasa ngapak ala banyumasan. Sedangkan di sisi timur Lukulo dapat dijumpai varian dialek yang makin ke timur cenderung bergaya yogya atau solo; dan bahkan di beberapa daerah memiliki lagu pengucapan yang khas.

PASAR-PRING: Salah satu ikon perniagaan masa lalu di tepian Sungai Lukulo; Pasar-Pring yang lokasinya berada di bawah jembatan [Kredit Foto: Pitra Suwita]

Tradisi Niaga Masa Lalu

Di masa lalu, pada sungai dengan banyak kelokan ini acap terlihat rangkaian bambu dalam bentuk gethek yang panjang untainya sampai ratusan meter. Atau kayu-kayu gelondongan, ikatan balok maupun papan yang dihanyutkan menyusuri arus badan sungai dan dikawal satu dua orang sebagai sais pemandu perjalanannya. Baik bambu maupun kayu-kayu ini adalah komoditas niaga yang memanfaatkan sungai Lukulo sebagai jalur distribusi barang dagangan, termasuk komoditas hasil bumi yang dihasilkan dari kawasan hulu di pegunungan utara.

Sedangkan di kawan hilir maupun pertengahan tumbuh “pasar-pring” yang merupakan bagian dari tradisi niaga sejak dahulu kala. Seiring dengan ini, tercipta pula sentra-sentra deposit dan penjualan pasir yang juga merupakan potensi eksplorasi alam sungai Lukulo. Nah, “Pasar Pring” dan “Depot Pasir” adalah manifestasi perniagaan yang secara tradisional tumbuh seiring kebutuhan masyarakatnya. Material bangunan lain yang diperdagangkan adalah kapur yang bahannya didatangkan dari kawasan karst Gombong selatan.

Saat prasarana infrastruktur dan pilihan moda transportasi belum bervariasi seperti masa kini, jasa penyeberangan melintasi badan Sungai Lukulo merupakan alternatif yang sangat populer menjawab kebutuhan mobilisasi penduduk kawasan sungai. Orang menyebutnya dengan gethek karena fasilitas perahu penyeberangan ini terbuat dari rangkaian bambu yang terikat. Jasa penyeberangan ini sempat jadi alternatif yang sangat populer, terutama di wilayah Kebakalan, Peniron, Pejagoan, Kedawung, Muktisari, Rantewringin dan desa-desa lainnya.

LUKULO: Profil Sungai Lukulo. Pada gambar yang diambil dari jembatan, di sisi kiri adalah bagian daratan yang digunakan membangun Pasar Sayuran Pereng Lukulo (PaSPerLu). [Kredit Foto: Pitra Suwita]

Pasar Pereng Lukulo, Sebuah Rintisan  

Adalah Komunitas Hidroponik dan Organik (KHO) yang pada medio tahun 2018 ini terbangun di perkotaan Kebumen. KHO yang meski cakupannya masih terbatas di wilayah Kelurahan Kebumen, mencoba memprakarsai sebuah rintisan pasar, terutama untuk komoditas sayuran sehat. Aktivitas rintisan ini dikerangkai dengan metoda tanam ala hidroponik dan spirit organik yang ternyata mulai menyemangati para pegiat komunitas ini.

Jumat (21/12/2018) menjadi momentum pembukanya. Pasar Sayuran Pereng Lukulo (PaSPerLu) dilaunching di lokasi yang sebelumnya telah diobservasi dan memiliki syarat-syarat representatif. Dalam sejarah masyarakat tradisional, kawasan sungai Lukulo memang memiliki basis tradisi perniagaan dan sempat mengalami masa keemasan di masa lalu.

Event PaSPerLu tak melulu berorientasi pada proyek pasarnya -terutama komoditas sayuran- saja. Dari sisi ide dasar dan prosesnya, secara nyata telah dapat membangun kesadaran organism di kalangan pegiatnya.

“Harapannya, spirit ini dapat terus menyebar”, ucap Suwito salah satu pegiat KHO yang juga berkebun dengan pot di sekitar rumahnya.

 

Launching PaSPerLu dan Panen Perdana

Launching Pasar Sayuran Pereng Lukulo (PaSPerLu) dihelat pada Jumat (21/12) dan aan berlangsung selama 3 hari hingga Minggu (23/12) mendatang. Lokasi pasar ini digelar di sepanjang Gang Barokah, pada paparan datar Sungai Lukulo di belakang pagar gedung DPRD, memanjang ke timur hingga belakang Rumah Tahanan (Rutan) Kebumen.

PaSPerLu dibuka pagi dari jam 08.00 hingga jam 16.00 sore harinya. Di lokasi “pereng” Sungai Lukulo ini terdapat lapak-lapak pameran, lapak sayuran hiroponik dan organik, lapak jajanan kuliner tradisional. Bahkan ada panggung kesenian di sisi lainnya. Secara umum, lapak-lapak ini dibangun di sisi selatan jalan gang beraspal hotmix memanjang tak jauh dari tepian sungai. Lapak di lokasi ini juga menyediakan berbagai bibit tanaman hidroponik dan organik.

Acara launching diawali dengan panen perdana tanaman selada di kuba (kelompok usaha bersama) KHO. Dibuka oleh Camat Kebumen, Ram Gunadi, SH dan dilanjutkan dengan penjualan hasil panen perdana melalui stand KHO yang ada di lokasi.

PANEN PERDANA: Launching PaSPerLu ditandai dengan panen perdana hasil kebun hidroponik pegiat Komunitas Hidrpponik dan Organik (KHO) Kelurahan Kebumen pada Jumat (21/12). [Kredit Foto: Pitra Suwita]

Hadir pula jajaran Muspika Kecamatan Kebumen, dari Dinas Sosial, PPKB, Perwakilan Bank Jateng, Perkim LH Kebumen. Lurah Kebumen Dede Suntoro, S.Sos. Juga beberapa tokoh masyarakat dan tokoh agama di Kebumen.

“Kami menyelenggarakan pameran pada hari ini terdiri dari 7 stand KHO RW yang ada di Kelurahan Kebumen, 1 stand Kelompok Usaha Bersama (Kuba), 3 stand Kuliner Komunitas Masak Kelurahan Kebumen, 1 stand Bang Samiun, 1 stand dari Pengusaha, dan banyak kuliner jajanan tradisional dari masyarakat Kebumen”, papar Sugeng Haryono.

“Kegiatan PaSPerLu akan berlangsung selama 3 hari, dari hari Jumat (21/12) hingga Minggu (23/12) pada 08.00 hingga 16.00 sorenya”, sambung Ketua Penyelenggara ini.

Menurut Dede Suntoro S.Sos selaku Lurah Kebumen, Pemerintahan Kelurahan Kebumen bersungguh-sungguh dalam pengelolaan sampah dan penataan lingkungan kelurahan. Ada banyak program unggulan yang di gagas oleh warga masyarakat Kelurahan Kebumen didukung penuh oleh Lurah dan perangkatnya.

“Diantaranya, Sampah Untuk Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (Bank Samiun), Sapu Bersih Pagi (Saber Pagi) dan Komunitas Hiroponik dan Organik (KHO). Dan yang baru saja di lounching adalah Pameran dan Pasar Sayuran Pereng Lukulo (PaSPerLu)”, jelas Dede Suntoro.

“Antusiasme pengunjung pada lounching PaSPerlu sangat besar, karena dengan adanya pasar sayuran hidroponik dan organik hasil budi daya warga Kelurahan Kebumen dan juga berbagai kuliner serta kerajinan dari warga kelurahan Kebumen, dari hasil daur ulang. Harapannya penyelenggaraan kegiatan semacam ini kedepan bisa membantu perekonomian warga Kelurahan Kebumen pada umumnya”, sambungnya.

 

Keberlanjutan dan Kritik

Acara launching PaSPerLu yang dihelat selama 3 hari ini, bebas terbuka untuk umum. Pemerintahan Kelurahan Kebumen mendapat dukungan dari komunitas Sekolah Rakyat MeluBae (SRMB) Kebumen.

“Kedepan pameran ini tidak saja sebagai sarana pemasaran sayuran sehat hidroponik dan organik saja, tetapi pasar sayuran yang direncanakan terselenggara setiap minggu”, papar Suwito yang juga perangkat di Kelurahan Kebumen.

“Nantinya juga sebagai wahana edukasi,  belajar menanam  bagi para pelajar dan komunitas muda terdidik di Kabupaten Kebumen dan sekitarnya”, sambung Pamong SRMB ini.

Acara launching PaSPerLu berlangsung meriah. Namun di sela acara, ada seorang pengunjung mengemukakan pendapatnya.

“Sayangnya untuk pembungkus makanan jajanannya belum menggunakan daun, masih menggunakan plastik, sehingga masih menyisakan sampah plastik yang terlihat di lokasi”, ungkap Toro Mantara.

“Hal lain, juga masalah ketersediaan tempat sampah yang belum mencukupi, ini barangkali harus menggandeng pihak terkait, seperti Dinas Perkim LH”, pungkasnya. [Kn.08]

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Angin Berlalu di KBAK Gombong Selatan…

Mujiburrohman : ASWAJA Sebagai Pondasi Berbangsa dan Bernegara

Related posts