12:46 pm - Jumat Juli 19, 2019

KERAGAMAN BAHASA DI DESA SETROJENAR

956 Viewed bram 0 respond

Sebagai warga desa Setrojenar dan sekitarnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita menemukan realitas bahwa setiap individu biasanya masuk ke dalam satu kelompok etnik tertentu dan menggunakan budaya etnik tersebut. Namun, banyak juga di antara kita yang secara genologis, merupakan keturunan dua atau lebih kelompok etnik. Dalam keadaan sedemikian rupa, pilihan kelompok dan budaya menjadi hak dirinya.

Bahasa merupakan sarana bagi manusia untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Manusia dapat berkomunikasi dengan lingkungannya karena bahasa. Di desa saya walaupun sama-sama menggunakan bahasa Jawa, namun berbeda. Perbedaan tersebut terjadi karena adanya keragaman. Yang awalnya memang sama tetapi karena telah berkelana baik yang merantau, kost, maupun di pesantren sudah tercampur dengan bahasa-bahasa dari desa bahkan daerah lain. Meskipun sudah ada bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia tetapi tetap saja karena di desa saya jarang yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa keseharian, kecuali orang-orang tertentu yang memang sudah lama hidup di kota dan bersuami bukan orang Jawa mereka menggunakan bahasa Indonesia untuk berbicara dengan orang-orang di desa kami.

Chaer (1994: 65) mengemukakan bahwa masyarakat multilingual yang mobilitasnya tinggi anggota-anggota masyarakatnya akan lebih cenderung menggunakan dua bahasa atau lebih yang dikuasainya, baik secara keseluruhan ataupun hanya sebagian saja. Masyarakat terbuka, yaitu masyarakat yang dapat menerima kehadiran anggota masyarakat lain di dalam lingkungannya akan terjadilah apa yang dinamakan kontak bahasa.

Bahasa masyarakat asli dan masyarakat pendatang akan saling mempengaruhi fenomena yang sering terjadi ini menimbulkan munculnya pergeseran bahasa dan pemertahanan bahasa. Sebelum membahas tentang pemertahanan bahasa dalam masyarakat dwi bahasa sudah banyak dilakukan para peneliti. Hal ini menjadi kajian yang menarik seiring dengan perkembangan bahasa serta masyarakat pemakai serta pemilik bahasa itu sendiri. Kajian tentang pemertahanan serta pergeseran bahasa oleh Fishman (dalam Sumarsono 1993:1) yang mempelajari tentang hubungan antara perubahan dan stabilitas penggunaan bahasa di satu pihak dengan proses psikologis, sosial dan kultural di pihak lain dalam masyarakat multikultural.

Masyarakat desa Setrojenar memiliki keunikan tersendiri karena di dalam desa Setrojenar terdapat berbagai bahasa di dalamnya. Meskipun demikian di desa Setrojenar tetap menggunakan bahasa Jawa Ngapak walaupun ada juga yang menggunakan bahasa Jawa Halus maupun bahasa yang dibawanya dari prantauan maupun desa asal oleh para pendatang. Para pendatang akhirnya membawa variasi bahasa di desa Setrojenar. Masyarakat pendatang yang sudah lama dan sudah bertahun-tahun lama sudah bisa beradaptasi dengan bahasa yang digunakan di desa Setrojenar.

Secara umum, masyarakat desa Setrojenar dalam berinteraksi sosial dengan warga lainnya menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Jawa Ngoko dan bahasa Jawa Halus. Bahasa Jawa Ngoko digunakan untuk berinteraksi dengan teman-teman sebaya maupun dengan orang-orang yang biasa menggunakan bahasa Jawa Ngoko, dan bahasa Jawa Halus biasanya digunakan untuk berinteraksi dengan orang yang sepuh maupun orang yang baru datang di desa Setrojenar kecuali bagi mereka para pendatang yang tidak bisa bahasa Jawa baik Jawa Ngoko maupun Jawa Halus kami menggunakan bahasa Nasional untuk berinteraksi, yaitu bahasa Indonesia.

Nuansa kedwibahasaan di desa Setrojenar sangat nampak. Masyarakat sebagian besar menguasai atau paling tidak mengerti dua bahasa yaitu bahasa jawa ngoko dan jawa halus. Penggunaan bahasa tersebut digunakan secara pergantian sesuai situasi dan dengan siapa berbicara.

PEMBAHASAN

Di desa Setrojenar yang mayoritas penduduknya adalah orang Jawa asli dan mayoritas untuk bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Jawa Ngoko dan Jawa Halus. Tidak heran jika ada pendatang yang menggunakan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia tidak sedikit menjadi cibiran di masyarakat Setrojenar apalagi bagi para prantoan atau orang yang lama tinggal di kota biasanya menggunakan bahasa Indonesia. Itu terkadang menjadi bahan perbincangan bagi masyarakat di desa Setrojenar. Seperti contoh konkritnya jika ada prantoan yang pulang mranto, dikatakan saja dari luar negeri, biasanya kalau warga desa Setrojenar berbincang-bincang dengan orang yang baru pulang mranto tersebut nanti di belakang orang itu atau tanpa sepengetahuan orang itu membicarakan orang tersebut. Misalnya dengan mengata

“ sok banget sekarang dia mentang-mentang sudah lama di luar negri bahasa aja sudah berubah ga bisa bahasa jawa atau bagaimana?”.

Sebenarnya sih bukan karena tidak bisa bahasa jawa tetapi karena memang logat bahasa yang dia biasa digunakan di prantauan itu belum sepenuhnya langsung bisa hilang dan kembali seperti sebelum merantau. Tetapi butuh proses untuk beradaptasi dengan lingkungan masyarakat di desa Setrojenar. Dulu sebelum merantau juga dia pasti butuh proses untuk beradaptasi ketika menyesuaikan bahasa yang digunakan didalam prantuan tersebut. Tidak heran jika bahasa orang prantoan luar negeri bahasanya campur ada yang menggunakan logat sunda, batak, minang, padang, malaysia, inggris dan bahasa dari negara-negara lain, hal tersebut terjadi memang sudah menjadi khasnya orang yang mranto di luar negeri karena di sana juga bergaulnya tidak hanya dengan orang jawa. Di Indonesia saja sudah beragam bahasa yang digunakan apalagi ketambah teman-teman di tempat kerjanya dengan orang-orang dari negara asing.

Lain halnya dengan orang-orang di desa Setrojenar yang tidak mranto tetapi mondok di Jawa Timur, mereka menjadi ikut logat bahasa jawa timur. Sampai tingkah laku juga berubah setelah mondok di Jawa Timur tetapi tidak sedikit juga setelah mondok kembali ke sifat asal mereka. Mungkin karena aslinya seperti sebelum mondok dan berubah hanya karena pas mondok aja. Kebanyakan yang mondok di Jawa Timur adalah Setrojenar di pedukuhan Godi. Di pedukuhan Godi seperti sudah menjadi kebutuhan setiap anaknya yang lulus dari SD ataupun SMP langsung pada mondok, halnya sudah menjadi tradisi di pedukuhan Godi.

Dari beberapa kasus di atas tidak perlu untuk membicarakan perbedaan yang ada pada setiap orang, karena memang keragaman bahasa adalah salah satu kekayaan yang di miliki oleh bangsa Indonesia. Tinggal koreksi diri saja jika mau mengomentari seseorang apakah dirinya sudah baik atau belum.

Saling toleransi adalah sikap yang baik dalam kita bermasyarakat. Karena apa? Kita hidup di dunia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Jadi tidak perlu hidup saling menjelek-jelekkan teman atau tetangganya. Jika kita bisa saling menghargai sesama manusia dan bersikap ramah kepada pendatang di desa kita pasti orang-orang akan merasa senang untuk berkunjung. Tetapi sebaliknya jika tidak ada rasa toleransi atau saling menghargai sesama manusia yang terjadi adalah permusuhan dan pemberontakan baik secara fisik maupun non fisik.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dan hasil penulisan di atas maka dapat disimpulkan adalah tentang keragaman bahasa yang ada di desa Setrojenar menyebabkan pola pikir yang berbeda-beda. Selain itu kita hidup bermasyarakat sebagai makhluk sosial maka wajib bagi kita untuk toleransi atau saling menghargai kepada sesama. Karena kita hidup memerlukan bantuan atau uluran tangan dari sesamanya.

Untuk bisa saling menghargai atau toleransi, kita perlu belajar cara bertoleransi terhadap sesama yang baik itu bagaimana.

Hasil Studi Oleh:  SITI RAHMAYANTI

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

TBM Sepi, Puluhan Ribu Buku Mangkrak

Foto Oleh: ahmad ibnu

AMONG-AMONG SEBAGAI TRADISI KEBUDAYAAN DAERAH

Related posts