8:29 pm - Sabtu Desember 7, 2019

Jelang Pentas, Teater Gerak Intensifkan Latihan

566 Viewed kebumenn 0 respond

KebumenNews>> “Banyaknya masyarakat yang lebih memprioritaskan ritual keagamaan sebagai orientasi dalam kehidupan. Menjadikan manusia semakin malas memikirkan realitas yang semakin tak karuan adalah gambaran naskah yang akan di pentaskan di moment OSPEK (16/9) mendatang”. Ucap Muhammad Tiyo Bayu Aji ketua Teater Gerak IAINU Kebumen.

“Robohnya Surau Kami” adalah judul naskah alur cerita dalam pementasan. Naskah tersebut menceritakan sifat nafsu manusia kekinian yang tak hendak melek penjajahan. Sumberdaya alam yang semakin kikis di hisap kapitalis modern mereka biarkan menjalar tak karuan. Mereka bersibuk diri mencari ridho illahi dengan memperbanyak ritual keagamaan.

Sinopsis ;
Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira- kira sekilo meter dari pasa akan sampailah di jalan kampungku. Pada simpang kecil kekanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. Dan dipelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana dengan segala tingkah ketuaanya beribadat. Sudah bertahun- tahun ia sebagai ta’mir, penjaga surau itu. Tapi sebagai ta’mir, ia tak begitu dikenal. Ia lebih dikenal sebagai situkang pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaanya itu. Orang – orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia takpernah minta imbalan apa – apa. Orang- orang perempuan yang minta tolong mengadahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki laki yang meminta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang- kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terimakasih dan sedikit senyum. Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal, dan tinggalah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari. Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak – anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dab yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat di sangkal kebenarannya.

“Alur cerita ini dikemas dengan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat umum, tak lain agar peserta Ospek mengerti maksud dari cerita tersebut”. tutur Yossi salah satu aktor dalam pelatihan tersebut.

“Selain itu, di moment Ospek besok akan menjadi nilai plus tersendiri bagi Teater di Kampus maupun kabupaten. Karena selama ini Teater masih sangat jarang pemuda berminat menghidupi kesenian di kebumen”, tandas yossi.

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Jangan Remehkan Kemampuan Penyandang Difabel

Tiada Hari Tanpa Berkarya Bagi Komunitas Diva Kembaran

Related posts