10:32 am - Jumat Juli 19, 2019

Mak, Anak-anakmu di Negeri ini

1453 Viewed kebumenn 0 respond

Catatan Sastrawi Ugik

Awan putih itu bergerak ke arah barat, arak berarak Andi lihat. Andi sendirian tanpa teman. Apalagi kekasih pujaan. Andi tidak mau diganggu wanita. Mimpi Andi semoga mengikuti awan itu. Andi merehatkan diri di teras rumah, sehabis mencari rumput untuk peliharaan kambing kita mak. Bekal celengan guna keperluan yang membutuhkan pengeluaran banyak. Mak, sengaja Andi tulis.

Andi tidak tau kapan berhenti menulis. Dan Andi tidak memperoleh kesempatan menyimpan perasaan apa pun, Mak. Andi tidak mampu menghentikan tinta yang bergerak. Andi memperhatikan pergantian antara malam dan siang. perubahan cuaca yang tak menentu seperti Mak, yang hanya gambaran tulisan. Andi sangka Mak tersenyum, ternyata bayangan saja. Beginilah Andi sekarang ini, lebih banyak berdiam diri. Melamunkan waktu yang kian berlalu. Mak, maksud dengan apa yang Andi tulis ini? Bahwa Mak pergi jauh dari dunia ini.

Andi rindu belaian Mak. Dikala rembai tak mampu melihat rinai. Ramai mengguyur tak kasihan di wajah semakin panas. Baju Andi yang tipis hujan masih bengis. Andi kedinginan tanpa adanya Mak. Walau banyaknya wanita di negeri ini, Andi tidak melihat sosok seemas Mak. Kelembutan yang Mak punya untuk anak. Selimut Mak selalu andi harapkan. Tapi Mak kini di mana? 17 Agustus 1945 indonesia merdeka. Benderanya masih berkibar. Warna merah dan putih di tiang atas sana. Mak lebih muda kenapa pergi begitu cepat? Negeri ini belum mati Mak! Rabb, berikan surga untuk Mak. Hamba sangat menyayanginya. Hamba sungguh menggebu ingin bertemu denganya di surgaMu Rabb. Jikalau Engkau mengijinkan. Tingkah laku hamba seperti ini dan begini. Engkau sendiri sudah tau. Hamba hanya sering menghayal menatap langitMu  yang biru.

Mak…

Masih teringat apa yang Mak bilang. “ Nak, serahkan semuanya kepada Allah. Sabar, banyak istighfar. Jadilah orang jujur yang dapat dipercaya” Tapi Mak! Andi tidak bisa diam. Sekarang andi melihat mak. andi tak kuat menahan benak. Petani keluh gagal panen. Nelayan bukan di lautan di jalan. Guru tak bisa beli sepatu. Banyak yang belum andi tau, kalau saja Mak bisa hidup kembali. Terlihat realita negeri. Di sini anakmu Mak, Andi …

Dulu Andi minta uang ke Mak buat jajan. Tiga ratus perak bekal istirahat di SD. Andi belikan gorengan satu, buras, sama bihun. Perut kenyang. Sekarang seratus perak Andi tidak bisa beli apa-apa. Malah Andi sering nemu koin seratus perak tergeletak di jalan, Mak. tangan Andi tidak mengambilnya. Andi takut! “Kata Emak barang punya orang jangan di ambil” kapan Emak mau melarang Andi lagi?

Maafkan Andi…

Piring sehabis makan pecah, sebab Andi bermain-main. Kaki Andi terkena pecahan dan menangis. Mak mengelap darah, mengobati luka Andi. Sambil menenangkan Andi. “sudah Andi berhenti menangis”. Andi tak jua berhenti sangking terasa sakit Mak. Perlahan Andi pun repeh. Emak membersihkan pecahan. Andi hanya diam saja dengan menahan sakit yang tersisa tak membantu Mak. Sekarang tidak ada lagi yang mengobati luka Andi, Mak.

Sebenarnya Andi membenam segumpal pertanyaan pada Mak. Terngiang kembali tentang Indonesia subur. Mak bangga dilahirkan di bawah sayap garuda yang sedang terbang mengangkasa. Mak bilang begitu. Kalau Mak mau tahu, pohon jati yang ditanam bapak semua mati. Andi terheran di musim penghujan negeri ini Mak. Apa tanahnya sudah terlalu tua? Andi juga tidak melihat ada garuda terbang. Andi sehabis dari mana saja menengadah ke langit. Sudahlah… Andi terlalu sering mengganggu tidur Mak yang nyenyak. Biar pertanyaan yang ada waktu menjawabnya.

Suara merdu Mak melantunkan ayat-ayat Al Quran. Cara Mak menidurkan Andi agar cepat terpejam. Andi masih hafal juz tiga puluh yang biasa Andi setorkan kepada Mak, sehabis subuh waktu kecil dulu kelas tiga SD.

Alhamdulillah, bisa mengaturnya setiap hari ada jam untuk murojaah, Andi tidak mau berdosa karena sengaja melupakan begitu saja Mak. Andi yang mengajarkan Aldi dan Rani. Mereka berdua rajin tak perlu disuruh ketika sudah waktunya duduk rapi di musholah keluarga Mak. Ba’da magrib Andi mengajar ngaji mereka mak. Aldi sekarang menghafalnya sudah sampai surat Al-Balad yang artinya Negeri, Mak. Rani masih penguasaan makhorijul huruf dan sifatul huruf. Belum menghafal.

Mak…

Bapak sibuk mencari sesuap nasi untuk kami. Jika Andi tidak repot dengan tugas sekolah Andi membantu bapak ke sawah, kebun, pasar dan mencari Rumput. Enam tahun silam Mak tidak di tengah-tengah kami. Andi bebenah rumah menggantikan peran Mak. Andi tidak tahu esok dapat melanjutkan ke perguruan tinggi atau tidak. Andi tidak terlalu memikirkanya. Andi lebih memilih mengurus adik-adik Mak. Sekolah terlalu full jam mata pelajarannya. Untuk Andi dan anak lainya, yang hidup di Kebumen dengan kebijakan seperti ini, rasanya bentuk “tekanan mental” lembaga pendidikan terhadap peserta didik. Bapak sudah terlalu tua, sebagai petani. Andi dihidangkan kebijakan seperti yang bagi mereka mungkin mencerdaskan kehidupan. Malah justru hawa lelah menggerogoti tubuh yang lunglai ini dan mengundang amarah dalam pekerjaan. Andi masih labil! terlahir dari keluarga petani! Mereka harusnya melihat, jangan hanya menekan dengan keinginan yang belum bisa diterapkan seutuhnya dan meluas.

Andi punya pesan untuk negeri, tolong emak baca.

“Semuanya sodara saya sebangsa. Saya bangga di negerin  ini. jangan kita terpecah belah dengan hasutan belaka. Pertahankan NKRI demi cinta. Kita manusia yang berdab untuk kemanusiaan. Hormati segala agama di negeri kita. Bila kita saling mencemooh tuhan pun akan marah. Hiduplah kita berdampingan jangan saling mengganggu. Apa masih ada yang mau mengalah untuk menang? Kita semua tadinya tidak ada menjadi ada. Teruskan, kibarkan bendera merah putih bangsa indonesia. Saya sangat bersyukur di sini tidak menyesali. Sekalipun rupiah turun paling bawah. Alam yang akan menghidupkan kita dari Tuhan. Maka, jaga dan rawat alam kita. Petinggi negara tolong tepatkan amanah anda. Apa yang dibutuhkan di dunia ini? jabatan pesta perebutan masal. Bergelimang uang menyenangkan keluarga. Setelah itu berfoya-foya. Mengapa mengsengsarakan rakyat jelata? buang pikiran demikian itu. Mari bentuk agar kiat makan bersama. Negeri ini alamnya untuk dunia. Mengapa tidak kepada kita juga? Gotong royong kita mengangkat indonesia ke ujung tiang monas sana. Penghuni dunia cangak indonesia sakti mandraguna. Di jalan kemanusiaan Tuhan tersenyum menyayangi kita. Perut sama kenyang. Kita bisa lebih terbang jauh. Kita terapkan menolong orang. Kelak anak-cucu kita banyak membaca dan menulis, berkarya sejarah kebudayaan indonesia. Mereka mempertahankanya. Sopan santun kita yang ramah harus menempel mendarah daging. Indonesia merah putih gagah memperjuangkan kemaslahatan hidup. Semoga…”

Mak, Apa Andi terlalu menghayal jauh? Sayang sekali Mak tidak bisa membalas surat yang Andi buat. Andi sudah menulis panjang bertanya tentang negeri ini. hah, maaf Mak, mengganggu tidur Mak lagi.

Sekarang 2016 teknologi semakin maju Mak. beberapa bulan lagi akan berganti tahun. Do’a kan Andi bercita-cita membuat teknologi baru (belum ada di dunia) untuk negeri. Tapi Mak sudah tiada, apa bisa berdo’a untuk Andi di sini?

Andi belum pasti mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Apakah akan ada keajaiban untuk Andi, Mak? dengan cita-cita yang begitu tinggi. Andi tulis rangkaian kata-kata ini demi perubahan. Senja perlahan mulai lambaikan tangannya. Andi dan adik-adik masih berdiri di sini, Mak

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Kisah Yang Terindah Dalam Hidup

Ma…

Related posts