7:06 pm - Senin Maret 30, 2020

Ebeg Ngisor Nggayam, Wonokriyo, Pertahankan Iringan Gamelan Klasik

579 Viewed kebumenn 0 respond

Kebumen >> Penari berusia belasan ini melenggak lenggok, mengikuti irama gamelan klasik meski dengan alat yang kurang lengkap. Tarian yang dilengkapi anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda ini semakin singgih di bawah iringan gamelan rancak. Gamelan yang ditabuh rancak sore ini menunjukkan betapa sekelompok anak dan remaja dengan antusias menari  di bawah teduh  pohon gayam dan beringin di kawasan RT03 RW02 Kelurahan Wonokriyo, Kecamatan Gombong, Minggu (10/4). Tarian lebih bersemangat saat dipadu dengan barongan  si penthul yang kocak.

Ebek Ngisor Nggayam, salah satu jenis pementasan kuda lumping yang dilakonkan oleh anak-anak yang mencintai kesenian tradisional.  Adalah Sugi Amanto, tokoh yang inspirasi untuk menghidupkan kesenian asli wilayah tersebut yang sebenarnya memiliki sejarah yang cukup terkenal, salah satunya adalah Mbah Singa.

Setiap kali pentas, orang-orang akan berdatangan dari berbagai wilayah. Soal nama Ebeg Ngisor Gayam, ini diambil dari tempat pentas yang digelar di bawah pohon gayam lebih terkenal, meskipun sebenarnya nama resmi paguyuban adalah Rukun Agawe Santoso (RAS).

Tekanan teknologi dan gadget memaksa seni tradisional seperti kelompok seni ini selama bertahun-tahun macet. Gamelan dan perangkat ebeg tersimpan di pondok  Panembahan Nyi Roro Rubiah yang terletak di tengah pemukiman.

Sejak tiga bulan yang lalu warga mencoba menghidupkan kembali kesenian ebeg yang merupakan warisan berharga dari leluhur itu dari mati suri. “Meskipun dengan peralatan dan kemampuan minim, kami tetap bertekad untuk mewujudkannya,” papar Sugi.

Shinta Auralia Winarno, salah satu tokoh muda mengungkapkan kegembiraannya bahwa langkah tersebut mendapatkan dukungan dari warga. Terbukti setiap kali latihan ada saja warga yang menyumbangkan minum dan sekedar camilan. Bahkan baru saja mereka mendapatkan sumbangan saron dan gong. “Untuk ke depan kami masih mengusahakan diadakannya seragam,” jelas Shinta.

Yang cukup menggembirakan ternyata para penari ebeg tersebut justru didominasi anak-anak. Rizki Ikhsan Hamid, siswa Madrasah Tsanawaiyah (MTs) adalah salah satu penarinya. Menurut dia, menari ebeg memang mengasyikkan bahkan bisa dianggap permainan.

Mulyanto, seorang pegiat seni di Yogyakarta yang kebetulan hadir mengungkapkan optimismenya mengingat kegiatan ini sepenuhnya diinisiasi dan didukung komunitas lokal. Apalagi adanya pelaku dari generasi muda, ini sangat memudahkan terjadinya proses regenerasi.

Menurut Mulyanto kesenian ebeg di wilayah Gombong memiliki ciri khas karena masih mempertahankan iringan klasik. Berbeda dengan seni serupa di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya yang sudah sangat dipengaruhi instrumen musik modern dan tembang-tembang campursari serta dangdut.(Kn.03)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

KPA Rilis Data Penderita HIV/AIDS, Kecamatan Kebumen Tertinggi

Radio RB 9 Milik NU Kebumen Berbenah

Related posts