7:11 pm - Minggu September 15, 2019

Dua Cahaya Di Ujung Senja

1798 Viewed kebumenn 0 respond

Cerpen: Afif Hanif

“Apakah kau melihatnya?” Tangannya menunjuk ke arah langit yang diselimuti warna jingga yang bagiku sama seperti warna matanya.

“Iya aku melihatnya.”

“Kenapa langit itu bisa berubah-ubah warna? Tadi biru, sekarang jingga, dan nanti hitam. Bisa juga kelabu seperti saat mendung, dan bahkan ada banyak warna di sana ketika pelangi tiba.” Aku diam.

***

“Wahai Jibril, indahkah ciptaan-Ku menurutmu?” “Ciptaan mana yang tak indah dari-Mu wahai Tuhanku? Segala ciptaan-Mu teramat begitu indah.”

“Tapi Aku merasa ada yang kurang.”

“Apa itu wahai Tuhanku?”

“Bagaimana nanti manusia akan melihat dengan jelas jika dunia yang Kubuat ini selalu gelap?”

“Kalau begitu tambahkan saja warna apapun yang Engkau suka wahai Tuhanku.”

“Baiklah, kalau begitu akan Kubuat warna hitam ini menjadi malam, biru sebagai siang, jingga ketika petang, kelabu saat mendung dan datangnya hujan, dan merah jingga kuning hijau biru nila dan ungu untuk warna pelangi, agar manusia tak terlalu larut dalam warna kelabu, dan sebagai isyarat kalau masih ada bahagia setelah kesedihan.”

“Oh Tuhanku, Engkau sungguh pencipta terbaik.”

***

Ibu selalu bercerita kepadaku sebelum aku tidur dan ceritanya selalu saja sama, tentang penciptaan warna-warna yang silih berganti menghiasi langit. Aku tak bosan. Bahkan aku selalu menikmati setiap kata yang keluar dari bibirnya. Bibir yang selalu mendarat di keningku saat aku mulai terlelap. Bibir yang tak akan pernah berhenti membuat seorang anak merasa senang bahkan ketika ia dirundung kesedihan. Mataku perlahan terpejam dalam pelukannya. Dan di tengah itu aku kerap mendengar sedikit isak tangis keluar dari bibirnya. Bahkan sesekali aku merasakan air matanya jatuh perlahan di pipiku. Seperti rintik hujan, dingin dan membuat hati merasa begitu kesepian.

“Ibu menangis?”

“Tidak, sayang. Ibu hanya merasa ada sesuatu masuk ke mata Ibu hingga terasa perih.”

“Mau aku tiupkan, Bu?”

“Tidak usah, ini sudah hilang sayang.” Aku tahu ibu sedang menangisi Ayah. Lelaki yang jarang sekali ada untuk kami berdua, yang lebih senang berada di luar ketimbang di rumah bersama istri dan anaknya. ***

“Mau ke mana kamu?”

“Sudah urusi saja anakmu itu!” Pyaaaaaaaarrrrr!!! Terdengar gelas dilempar hingga pecah dengan begitu keras. Aku sedang tidur di kamar waktu itu. Tapi teriakan-teriakan itu terdengar begitu lantang di telingaku seperti memaksa untuk membuka mataku. “Apakah kamu mau menginap lagi di rumah selingkuhanmu?” “Bukan urusanmu!!!” Dadaku sesak. Entah kenapa. Tapi aku merasa seperti ada yang melempar sesuatu yang tajam ke hatiku hingga seketika nafasku tersendat. Aku tahu Ibu sedang tidak baik-baik saja dengan Ayah. Tapi aku tak berani keluar. Di sana amarah sedang beradu, dan pembicaraan mereka tak akan mudah dimengerti untuk anak kecil sepertiku.

Dhaaaaaarrr!! Pintu tertutup dengan sangat kerasnya seperti didorong dengan begitu kencangnya. Tak beberapa lama pintu kamarku terbuka dan aku pura-pura tertidur. Ibu berbaring di sampingku dan mendaratkan bibirnya di keningku. Terdengar sangat jelas isak tangisnya di telingaku, tapi aku tak berani membuka mata. Aku tak mau ibu bertambah sedih karena aku melihatnya menjatuhkan butir-butir air mata dari sepasang matanya yang berwarna jingga. Malam itu kami tidur berdua. Ibu memelukku. Namun aku tak bisa memejam. Begitu banyak hal yang memaksa mataku untuk terbuka. Masih terngiang jelas teriakan-teriakan dan gelas yang pecah yang menggema di telinga dan mengendap di kepalaku. Aku tak paham dengan jelas, tapi aku rasa Ayah sudah jahat dengan Ibu. Aku benci.

***

“Hei, kenapa melamun?”

“Ah tidak.” Kutatap senja yang begitu ranum di pelukan samudera. Angin berdesir lirih menyelimuti tubuhku. Nafasku panjang, “Heemmmmmmm…”

“Sayang, jika menikah nanti aku ingin kita bersaksi di sore hari, di bawah payung jingga dengan suara camar yang riang kembali ke sarangnya. Apakah kau bersedia?” Hening.

“Sayang?” Sunyi.

“Apakah kau bersedia?”

“Aku harus pulang.”

“Tapi kenapa? Kita belum selesai bicara.” Kakiku melangkah pergi. Angin bertiup membawa daun yang jatuh terbang tinggi. Perlahan senja tenggelam. Jingga berganti hitam. Aku harus pulang. Aku sudah tiga hari pergi. Istri dan anakku pasti menunggu. Aku tak mau anakku merasakan hal sama denganku: menunggu Ayahnya pulang, bukan hilang.(AH)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
News Feed
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Untuk Gadis Masa Lalu

Dongeng Sebelum Tidur

Related posts