5:46 pm - Kamis November 14, 2019

Tugu Lawet Bakal Diganti, Jangan Lupakan Simbol Sejarah

3500 Viewed kebumenn 0 respond
foto spesial: adio desgn

Kebumen News >>  Kabar tentang Tugu Lawet yang bakal dibongkar membuat banyak kalangan bertanya-tanya merespon. Tugu maskot yang terletak di pusat Kota Kebumen itu dinilai kurang menjual. Tak tanggung-tanggung Bupati Kebumen HM Yahya Fuad yang bakal  merombak total tugu kebanggaan masyarakat Kebumen.

Belum dijelaskan perubahan semacam apa yang akan dilakukan, apakah bentuk, desain, bahan atau ukuran. Semua pihak masih meraba-raba perubahan yang bakal dilakukan.

Bahkan bupati bakal menggelar sayembara untuk menentukkan Tugu Lawet yang baru. “Pesertanya bebas, bukan hanya warga Kabupaten Kebumen saja. Tetapi dari seluruh penjuru nusantara boleh mengikuti sayembara ini,” kata Bupati Fuad, Kamis (25/8).

Sebuah tugu merupakan simbol, simbol merupakan penanda untuk sebuah tanda, baik peristiwa maupun potensi. Tugu lawet menyimpan keduanya. Satu sisi ia disebut Kuputarung, karena di sana tersimpan memori masa lalu proses pertarungan antara Tumenggung Kolopaking dengan Panjer Roma. Kuputarung merupakan sebuah peristiwa yang membentuk sejarah Kebumen. Membuang tanda dan penanda merupakan tindakan tidak adil (bijaksana).

“Kalau diperbaiki, diperbesar, diperkokoh dan diubah dari bahan lain yang lebih kuat, tidak menjadi masalah” Tutur Taufik Hidayat salah seorang warga Kebumen.

Tetapi kalau tugu lawet kemudian diubah mengikuti trend, diubah menjadi patung lanting misalnya, atau patung jenistri, justeru ada yang hilang dari sebuah tanda ‘Tugu Lawet’atau “Kupu Tarung” itu.

Kita tidak bisa membayangkan kalau kemudian Kakbah di Mekkah tiba-tiba diubah menjadi bentuk lain, kakbah hanya simbol, atau burung garuda sebagai simbol negara diubah menjadi bentuk lain Handphone misalnya. Tentu akan mengubah pula bentuk-bentuk kenegaraan lainnya.

“Kita tidak boleh menyalahkan tanda jika kesalahnnya terletak di penanda. Karena tanda hanyalah simbol. Kita juga tidak bisa mengetahui darimana mengukur sebuah tanda itu ‘menjual’ atau ‘tidak menjual’. Demikian juga terlalu transaksional ideologi yang digunakan untuk mengukur sebuah tanda menjadi sekedar ‘jual-beli’.” Tutur Mustolih Brs aktifis sosial. (Kn.02)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
5/5 - 1
You need login to vote.

Bupati Kebumen Titip Doa Kepada Jamaah Haji

Mukidi: Rekayasa Sosmed Atau Apa? Perlukah Dipatenkan?

Related posts