“Lubaran”, Ritual Syukur Panen Raya Desa Logandu Karanggayam Kebumen

Kebumen >> Budaya yang menjadi ritual ini digelar setiap habis panen padi pada hari khusus Rabu Kliwon. Malam harinya di lanjutkan acara “Baritan/tayuban”. Inilah acara yang ditunggu-tunggu masyarakat, pasalnya yang berjoged dan yang ikut bergoyang dimulai perangkat Desa Logandu, Tokoh masyarakat dan warga.

Ungkapan rasa syukur petani ini diwujudkan dengan hajat kendurenan yang dibingkai dengan acara “Lubaran”. Lubaran diartikan lebar panenan. Lubaran ujub kabule: merga wis diparingi kanugrahan rejeki saka Gusti Alloh liwat sarining bumi lan ketitipan kewan saking pengeran.” Tutur Mardiadi warga Logandu saat ditemui Kebumen News. “Sarana kegiatan kendurenan ini adalah bucu, kupat lepet, lodeh walang dan hasil bumi yang ditempatkan dalam tampah bertempat di depan rumah salah seorang warga.” Sambung Mardiadi.

Desa Logandu, Kecamatan Karanggayam Kabupaten Kebumen selama ini memang terkenal kaya akan budaya dan tradisi jawa yang masih terus dilestarikan meskipun saat ini muncul budaya dan tradisi gadget di era modern dan globalisasi. Salah satu yang masih digelar dengan semangat oleh warga adalah Lubaran (bukan Lebaran). Apa itu Lubaran dan bagaimana asal usulnya? Mari kita simak bersama-sama hasil penelusuran Kebumen News kali ini.

Pengertian dari istilah Lubaran merupakan ungkapan tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa berkenaan dengan titip biji-bijian di sawah (ladang) dan telah dipanen. “Istilahnya syukur kita kepada Tuhan Gusti Allah bahwasanya kita sebagai orang tani bisa menikmati hasil panen dari pertanian itu. Lubaran itu istilahnya ya lubar panen.” Tutur Mbah Kuswari salah satu tokoh adat Desa Logandu.

Sejarah dan asal mula Lubaran itu sebenarnya merupakan adat istiadat untuk mengenang kita sebagai orang jawa yang pekerjaan sehari-harinya sebagai petani. Pada awal musim penghujan para petani titip biji-bijian kepada Dewi Sri di sawah. Sesudah panen diadakan selamatan yang kemudian dinamakan Lubaran. Sesuai dengan namanya lubaran itu dilaksanakan setelah “lubar” (Jawa) panen. Menurut penuturan salah satu tokoh adat Desa Logandu (Mbah Kuswari), bahwa kalau mengupas asal-usul selamatan Lubaran itu berawal dari cerita Jawa tentang Dewi Sri yang diyakini sebagai penguasa sawah atau yang berkaitan dengan pertanian Dewi Sri oleh para petani dikenal dengan Dewi kemakmuran.

Filosofi dari selamatan Lubaran menurut Mbah Kuswari, pertama adalah “Having mistake us” yaitu permohonan maaf atas kesalahan petani kepada Gusti Allah terutama dalam menggarap sawah sering kali peralatan yang digunakan, oleh para petani seperti ada lembu/sapi, dan cangkul punya kesalahan baik disengaja atau tidak kepada ibu pertiwi yaitu kepada bumi. Selamatan Lubaran dilakukan secara bersama-sama (dalam satu RT) di halaman rumah Ketua RT atau perangkat desa dengan cara membuat tumpengan, kalau zaman dulu kalau membuat tumpeng itu didalamnya berisi ampas (kelapa yang diparud terus digoreng).

Tumpeng itu sendiri ada yang mengartikan sebagai lambang tujuan atau cita-cita kita, dan ada juga yang mengartikan bahwa seperti apapun hidup manusia pada akhirnya harus mengerucut yakni meng-Esakan Tuhan. Selain tumpeng lauknya adalah belalang dan udang. Selain tumpengan dan makanan yang berasal dari hewan ada juga “lepet” yakni nasi ketan yang dibungkus pakai janur kuning. Setelah dibacakan do’a oleh mudin atau istilah di Desa Logandu namanya “kaum”, makanannya sebagian disantap bersama-sama sedangkan sebagian lagi diberikan untuk makan hewan sapi atau Kerbau).

Mengapa isi tumpeng, lauknya dan sebagian makanannya diberikan untuk makan hewan? Menurut kepercayaan warga Logandu yang telah diyakini secara turun temurun itu, selain sebagai tanda syukur kepada Tuhan YME, juga untuk “mbekteni” (ungkapan terima kasih kepada nabi Sulaiman AS) sebagai raja dari “kutu-kutu walang ataga” (semua jenis hewan) yang telah memberi ijin kepada petani untuk mempekerjakan hewan (sapi dan kerbau) membantu menggarap sawah.

Selamatan/ritual Lubaran itu oleh warga Logandu dilaksanakan pada hari yang telah ditentukan secara turun temurun yakni hari Kamis Manis (dalam istilah hari jawa itu respati legi) , karena menurut keyakinan nenek moyang pada hari Kamis legi itu berkumpulnya semua hewan-hewan untuk mendengarkan ceramahnya nabi Sulaiman AS. Dan.. menurut cerita turun temurun kalau ada warga yang tidak melaksanakan Lubaran ada saja musibah yang menimpa, misalnya pada waktu membajak sawah tiba-tiba sapinya jatuh dan langsung mati mendadak.

Ada lagi peristiwa padinya nggak bagus, kelihatannya waktu sore-sore bagus tapi paginya saat dipanen tidak ada berasnya. Dan itu sudah pernah terjadi sekitar tahun 1976-an. Demikian sekilas tentang adat Desa Logandu tentang Lubaran. Apa yang kami ungkapkan diatas adalah sebuah adat (budaya) warisan leluhur yang tentunya juga dilihatnnya dari sisi budaya (bukan dari sisi keyakinan/akidah). Karena pada hakekatnya apapun yang terjadi di dunia ini adalah atas kehendak-Nya. Kita manusia hanya berikhtiar yang tentunya dengan ikhtiar yang dibenarkan oleh aturan syare’at agama (Kn.02).

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab

bram

Berbagi itu asik

Anda mungkin juga suka...

Artikel Populer

Tinggalkan Balasan

Or

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

hot photos of malayalam actress lena renklipornoo.net honey moon xnxx افضل مواقع السكس المترجم sexdejt.org فيلم سكس سورى desi unseen.com indiantubes.net hot sneha راجل ينيك بنته aflamsexaraby.com افلام سكس حيوانات مع نساء 裏風俗 javidol.org 3dsvr
indian xxx videos mehrporn.com kv2 patiala horsemating pakistanixxxmovie.com iandian xxx com telugu heroins blue films xxxhindividoes.com hindu girl hot أشهر مواقع السكس orivive.com سكس محارم عراقى hornybank.com mecoporn.com hdmovies.da
hindi bf video me hindihdporn.net xnxx coimbatore igyou kaikitan cartoon-porn-comics.com manhwa henati slime girl hentai manga jabhentai.com ecchi mecha oh yes mommy.com gotubexxx.com bengali nude girls brother sister sex story pornhindivideo.com student x video