2:27 pm - Kamis Februari 27, 2020

Dilupakannya Folklore Kebumen

1814 Viewed Agus Nur Komentar Dinonaktifkan pada Dilupakannya Folklore Kebumen

Kebumen NEWS >> Dalam perdebatan budaya, menjadi manusia jawa hari ini bisa memilih seribu wajah. Pasca menguatnya semangat lokalitas, kini tidak ada tafsir tunggal tentang kebudayaan jawa yang monolistik. Justru harihari ini nuansa lokalitas jawa itu terfragmentasi secara baik dalam beberapa komunitas. Misal Solo, Yogya, Tegal, Banyumasan, Pantura dan sebagainya. Sehingga segenap komunitas bernama budaya itu kemudian beranak pinak mewujudkan dirinya dalam beragam bentuk. Di antara dua kutub besar komunitas budaya; jawa kraton dan Banyumas /jawa tua (meminjam istilah A.Thohari), perdebatan wacana tentang Kebumen sebagai “Jawa yang lain” atau “banyumas yang lain” yang memiliki jati diri yang unik kelihatannya jarang muncul di ruang diskusi. Yang sering terjadi justru mengasosiasikan dirinya dengan kutub Banyumasan atau kutub Surakarta/Yogyakarta.

Khazanah budaya muncul dan kita warisi dalam bentuk folklor, kesenian, susastra, pakaian, arsitektur, bahasa, batik, kerajinan, atau makanan. Energi menggali dan mendokumentasikan segenap warisaan budaya itulah yang sejatinya menjadi anak tangga merekonstruksi dan membiakkan anak – anak kebudayaan baru. Jika kemudian kita cermati dari bagaimana segenap melihat dan melakukan penggalian ephos dan tikungan waktu budaya, kita akan bertemu dengan folklore Joko Sangkrib, Ki Bumi, Arung Binang, Kolopaking, Riwayat Panjer, Syeh Abdul Kahfi, dan lain sebagainya.

Folkore (babad) tradisi lisan yang usianya ratusan tahun itu dalam kacamata budaya tentu sangat potensial sebagai kajian budaya. Ini artinya masyarakat memiliki ingatan kolektif panjang tentang asal – usul dan pandangan masa lampau.  Akan tetapi kajian ini kelihatannya cukup “sepi peminat”. Belum ada kajian yang betul-betul serius untuk melihat masa lalu itu dengan terang disertai dengan kajian sejarah dan budaya yang berkelanjutan. Paling beberapa kali diskusi dan desakan itu muncul tidak lebih sebagai “bahan jualan politik” dalam perdebatan hari jadi kabupaten. Sehingga ketika momentum politik itu terlewati, maka pupuslah kajian tersebut. Hingga kini folklore-folklore tersebut, taruhlah tentang Joko Sangkrib kembali menjadi ke kodratnya sebagai nama seuah jalan . Sabit Banani Penulis Lepas

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Selain Menghapus Masa Orientasi Siswa (MOS) Orangtua Mengantar Anak di Hari Pertama

Kerajinan Tanah Liat Kebumen, Menjadi PR UKKM

Related posts