11:34 am - Selasa Februari 18, 2020

Pendidikan Keluarga dan Pembentukan Karakter Anak

1900 Viewed bram 0 respond

Andai saja John Dewey (1858-1952) masih hidup, barangkali ia akan merasa terkejut oleh banyaknya masyarakat saat ini yang lebih menekankan pendidikan formal (sekolah) dari pada pendidikan non formal (keluarga).

Lebih dari seabad yang lalu, John Dewey yang dikenal sebagai seorang filsuf, psikolog, sekaligus pembaharu pendidikan berkebangsaan Amerika itu mengatakan dengan tegas dalam bukunya berjudul The Child and The Curriculum (1902), “keseharian anak dalam keluarga sesungguhnya menyatakan dunia yang mereka hayati dan hidupi. Di dalam keluarga, anak-anak belajar apa yang dibutuhkan masyarakat. Masyarakat secara tidak langsung mengajarkannya melalui orang tua”.

Di satu sisi, statemen John Dewey di atas menandakan bahwa karakter kepribadian anak sebagai generasi bangsa sejatinya lebih banyak dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dibanding sekolah. Karakter kepribadian anak seperti cara berbicara, cara berjalan, cara bersikap, cara menghadapi persoalan, daya juang, sebenarnya lebih banyak diwarnai oleh kehidupan keluarga.

Di sisi lain, statemen itu juga mengindikasikan bahwa pendidikan formal di sekolah pada hakekatnya hanyalah proses penanaman keilmuan secara kognitif pada diri anak. Interaksi seorang anak dengan guru dan lingkungan sekolah hanyalah “formalitas” dan tidak sebanyak interaksi anak dengan keluarga.

Hal itu sesuai dengan makna dasar pendidikan sebagaimana diungkapkan oleh David Emile Durkheim (1858-1917) bahwa pendidikan ialah sebagai pengaruh yang dilaksanakan oleh orang dewasa atas generasi yang belum matang untuk penghidupan sosial. Dalam konteks itu, keberadaan keluarga lebih “berpengaruh” terhadap anak dibanding gedung sekolah dalam rangka pematangan kehidupan sosialnya.

Oleh karena itu, adalah sebuah kesalahan besar jika orang tua hanya mengandalkan lembaga pendidikan formal dan mengesampingkan pendidikan keluarga dalam rangka mencetak karakter kepribadian anak.

 Institusi Pembentukan

 Dalam buku Education And The Family: Passing Success Across The Generations (2008), Leon Feinstein mengistilahkan keluarga sebagai institusi pembentukan. Ungkapan Feinstein tersebut didasarkan pada alasan bahwa keluarga adalah institusi pertama yang membentuk sifat dan karakter pokok seorang anak seperti pemberani, penakut, pengecut, pemarah, pemalas, pembohong, termasuk juga dalam urusan keyakinan terhadap agama-agama tertentu. Semua sifat dan karakter pokok itu tidak pernah didapat oleh seorang anak kecuali dari pendidikan keluarga.

Pertanyaannya, sudah tepatkan keluarga membentuk karakter kepribadian seorang anak? Jika sudah tepat, mengapa dewasa ini masih banyak muncul berbagai macam problematika sosial yang melibatkan anak seperti tawuran antarsiswa, terorisme yang melibatkan para remaja, pemerkosaan yang dilakukan oleh anak terhadap anak, dan segala bentuk tindakan kriminal (baca: tidak terpuji) lainnya yang seringkali melibatkan anak?

Untuk menjawab pertanyaan itu kita perlu melihat bagaimana kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di tengah keluarga. Pasalnya, pendidikan dalam keluarga terhadap anak tidak cukup sebatas upaya preventif terhadap munculnya berbagai macam tindakan tidak terpuji yang dilakukan anak seperti sekadar menasehati, melarang, memarahi, memberi sanksi, dan lain sebagainya.

Tetapi, jauh lebih penting dari itu, eksplorasi optimal terhadap potensi-potensi kebaikan harus dimunculkan secara seimbang dalam keluarga. Pembentukan karakter ideal anak di tengah keluarga perlu diaktualisasikan dengan cara mentradisikan budaya yang luhur dalam hubungan antara manusia dengan manusia lainnya, dan antara manusia dengan alam sekitarnya.

Misalnya, untuk mencegah sifat anarkisme dalam diri anak serta menumbuhkan rasa kasih sayang antarsesama, keluarga harus memiliki tradisi saling berbagi kepada sanak saudara dan tetangga, saling tolong menolong, dan tenggang rasa. Jika setiap saat anak selalu berada dalam tradisi demikian, karakter dan sifatnya akan terbentuk menjadi pengasih dan penyayang kepada sesama.

Tardisi semacam itu tidak akan bisa dilakukan secara optimal oleh pendidikan formal seperti sekolah karena keberadaan anak di sekolah sangat terbatas. Tradisi semacam itu harus selalu dilakukan mengingat karakkter kepribadian anak tidak hanya dibentuk oleh norma hukum, tetapi juga oleh tradisi dan budaya. Tal ayal jika Pat Duffy Hutcheon mengatakan dalam Building Character And Culture (1999) bahwa budaya (kebiasaan) jauh lebih menentukan karakter kepribadian seseorang dibanding norma hukum dan aparat hukum itu sendiri.

Hal itu juga selaras dengan teori dan metode pembelajaran bernama learning by doing (belajar sambil melakukan) yang dirumuskan oleh John Dewey. Menurut John Dewey, untuk mendorong seorang anak bisa menguasai sebuah ilmu, ia tidak perlu terlalu banyak mempelajari ilmu tersebut. Anak tersebut akan menguasainya dengan cepat jika ia terbiasa melakukannya setiap hari.

Misalnya, anak tidak perlu terlalu banyak membaca buku etika agar ia bisa bersikap sopan dan santun, tetapi cukup dibiasakan bersikap sopan, ramah, dan saling tolong menolong setiap saat. Untuk melakukan semua itu, tiada lain kecuali dimulai dari pendidikan keluarga.

Atas dasar itu, marilah kita memperhatikan dan memperbaiki kualitas pendidikan keluarga. Banyak problematika sosial yang terjadi di sekeliling kita sebenarnya bisa diselesaikan melalui pendidikan keluarga. Dengan pendidikan keluarga yang baik, akan tercipta generasi bangsa yang tangguh. Semoga!

Oleh : Abdul Waid

Pemerhati Pendidikan, Dosen Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
News Feed
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

MASYARAKAT PEDULI PANCASILA

Toponimi ‘Joko Sangkrib’ Asal Muasal Kebumen

Related posts