11:57 pm - Senin September 16, 2019

Kitab Kuning Sebagai Benteng Kejahatan Seksual

837 Viewed kebumenn 0 respond
single-thumb.jpg

Kebumen >> Rabu (25/5) lalu Presiden RI Joko Widodo menandatangani Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Perlindungan Anak. Konteks dan latar belakang lahirnya Perppu tersebut berkait erat dengan kejahatan seksual yang secara ekstraordinari menjangkit kelompok remaja dan anak di Indonesia. Bahkan yang nggegirisi, remaja dan anak tidak hanya menjadi korban kekerasan seksual, tapi juga menjadi bagian dari pelaku kejahatan amoral tersebut. Nah, hukum kebiri yang diberlakukan melalui Perppu tersebut memiliki tujuan membuat jera dan menyadarkan pelaku, serta menekan laju kejahatan yang sama di masa mendatang.

Bak mencairnya gunung es, kejadian pemerkosaan dan pembunuhan yang menimpa YY di Bengkulu secara berantai  diikuti oleh kejadian-kejadian serupa di daerah lain. Di Surabaya muncul tindak pemerkosaan yang dilakukan oleh belasan anak berumur kencur yang masih duduk di Sekolah Dasar. Tak selang lama dari kasus Surabaya, muncul kasus biadab pembunuhan berlatar kejahatan seksual yang menimpa seorang karyawati sebuah perusahaan di Tangeran. Lagi-lagi baik pelaku maupun korbannya juga masih seumuran remaja dan anak. Bahkan nyaris luput dari hukum, di Kediri terungkap adanya 58 anak, mungkin lebih, menjadi korban kekerasan seksual pedofilia yang dilakukan oleh orang berstatus sebagai pengusaha.

Deretan praktik kejahatan seksual ini makin menambah daftar panjang kekerasan terhadap perempuan dan anak. Padahal sebelumnya sudah tergolong tinggi. Menurut catatan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), pada tahun 2015 telah terjadi kekerasan terhadap perempuan sebanyak 321.752 kasus. Demikian pula dalam catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Jumlah kekerasan terhadap anak dari tahun ke tahun naik. Pada tahun 2011 terdapat 2178 kasus, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus dan tahun 2014 mencapai 5066 kasus.

Ragam Faktor Penyebab

Banyak ragam faktor penyebab terjadinya kejahatan seksual. Salah satunya berpangkal ada dinamika perkembangan teknologi informasi yang mengoyak benteng pertahanan norma-norma sosial kemasyarakatan kita. Dekadensi moral yang menggelayut pada kalangan remaja dan anak tidak lepas dari penciptaan revolusi industri teknologi informasi yang tidak ramah pada budaya luhur masyarakat.  Siaran televisi saat ini syarat dengan sajian hiburan yang bersifat seduktif. Demikian pula dengan teknologi cyberspace atau internet, juga jamak menayangkan menu visual yang bersifat pornografis.

Tanpa disadari kekuatan filter keluarga, dan masyarakat sekitar yang ternyata mudah dijebol budaya pop yang diproduksi oleh mesin teknologi informasi tersebut, secara perlahan telah mendistorsi pertumbuhan psikologi anak. Dunia yang dulu terasa luas, kini dilipat dalam satu piranti lunak bernama internet. Ruang komunikasi antar komunitas semakin dekat dan cepat. Padahal dulu, hanya untuk mengetahui kabar sanak family di lain daerah, seseorang harus menulis dalam bentuk surat dan mengirimnya lewat jasa Pos dan Giro. Kini, dengan telepon seluler dalam hitungan detik seseorang dapat saling berbalas kabar. Apalagi bagi mereka sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk cinta. Dengan cepat keduanya bisa membuat kesepakatan untuk kopi darat di suatu tempat tanpa diketahui orang lain.

Bahkan, akhir-akhir ini menyeruak budaya “bangga” dari orang tua kalau anak-anak mereka memiliki gadget. Demikian pula, di kalangan muda juga muncul kepercayaan bahwa, kalau anak atau anak muda tidak punya telepon seluler (BB, Android, IPhone, dll) dan tidak bisa mengoperasikan internet adalah kolot, ketinggalan, ndesit. Baik orang tua ataupun anak-anak muda, akhirnya berusaha keras untuk mendapatkan duit agar secepatnya dapat memiliki perangkat-perangkat teknologi. Sayangnya lupa melengkapi kepribadian mereka dengan piranti lunak untuk mencegah dampak buruk pemanfaatan teknologi informasi tersebut. Ingat, tidak sedikit pemanfaat industri televise dan pengguna internet yang memanfaatkan kecanggihan teknologi hanya untuk merengkuh capital dengan cepat, tanpa peduli lagi jenis produksi informasi yang dibuatnya bermanfaat bagi masyarakat atau malah merusaknya. Contoh, saat ini, ribuan jumlahnya situs-situs di internet yang mengunggah citra-citra pornografis hanya karena prospek menjadi mesin pendulang iklan. Semakin banyak iklan yang nempel pada situs yang dioperasikanya, maka akan semakin deras pula uang yang akan didapatkannya.

Distorsi Lingkungan Ramah Anak

Maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak memiliki hubungan kelembagaan antara masyarakat dengan lingkungannya. Hubungan kelembagaan yang buruk antara masyarakat dan lingkungan akan mendorong lahirnya masyarakat yang tidak imun terhadap serangan informasi dan budaya yang bersifat destruktif yang datang dari luar. Harus kita akui, saat ini lompatan perubahan dan pertumbuhan di bidang ilmu dan teknologi informasi sangat massif.  Saking masifnya, kehadirannya mampu menggeser kelembagaan-kelembagaan masyarakat. Norma-norma aturan yang dulu dipegang erat masyarakat sebagai pakem hidup bermasayarakat memudar. Bahkan ruang-ruang pembelajaran masyarakat mulai sepi dari kegiatan pembelajaran. Orang-orang tua tak lagi peduli anak-anak mereka pergi mengaji atau tidak. Padahal angka pertumbuhan surau dan masjid semakin banyak. Kegiatan-kegiatan seni tradisi juga semakin peminat, karena anak-anak muda lebih suka tongkrong, trek-trekan hingga pergi ke mall untuk window shoping.

Kondisi ini tentu memperihatinkan. Karena tata hidup masyarakat seakan-akan dikendalikan oleh kekuatan budaya baru yang lahir dari ruang maya bernama teknologi informasi tersebut.  Manusia memang produsen pengetahuan sekaligus pemanfaat pengetahuan. Demikian pula dengan teknologi dan informasi. Manusia adalah penciptanya, dan sekailgus penerima manfaatnya. Tapi yang mengherankan manusia gagap membangun imunitas dengan vaksin yang mampu menangkal dampak budaya buruk yang lahir dari citra teknologi informasi. Di kota-kota besar, bahkan sampai ke kampung-kampung banyak sekali masyarakat menjual jasa play station. Kehadirannya pun disambut antusias oleh anak-anak. Herannya, para penjual jasa tersebut tidak peduli lagi efek buruknya pada pertumbuhan para pengguna yang sebagian besar anak-anak tersebut. Demikian pula dengan siaran hiburan televisi. Banyak sekali hiburan yang tidak layak dikonsumsi anak terus menerus dipaksakan agar masyarakat menerimanya. Sebagai contoh acara audisi dan kompetisi nyanyi untuk anak. Hampir semua kontestan selalu membawakan lagu desa, dengan busana dan koregrafi yang sama sekali tidak mencerminkan jiwa anak.

Langgam kelembagaan sosial yang demikian, tidak mendidik anak dan kalangan muda. Potensi anak dan kaula muda dipaksa sedemikian rupa mengikuti ritme arus  informasi yang penuh sesak dengan sajian seduktif. Arus informasi yang bersifat seduktif dikemas secara apik dalam komodifikasi industri media yang sebenarnya menjauhkan mereka dari diri sejati anak dank aula muda. Akhirnya, kelompok tunas muda ini lupa dan kehilangan kendali atas perkembangan potensi kejiwaan mereka sendiri. Mereka lupa bahwa dalam dirinya ada privasi yang harus mereka ketahui sekaligus mereka bentengi dan jaga dari arus budaya dari luar dirinya yang bersifat merusak.

Belajar pada Kitab Klasik

Menurut banyak kalangan, kekerasan seksual yang terjadi pada kalangan perempuan dan anak memliki akar kausalitas dengan rendahnya pengetahuan mereka tentang sex dan hak atau kesehatan reproduksi. Tubuh adalah anugerah dari Tuhan yang dilengkapi dengan hasrat seksual (seduce). Hasrat seksual yang tidak terkendali dengan baik, berpotensi menghantarkan manusia pada tindakan pelampiasan yang menerjang norma sosial. Karenanya, untuk mengendalikan hasrat dengan baik para cerdik pandai (ulama) di zaman dulu memproduksi pengetahuan dengan menulis buku atau yang akrab disebut kitab kuning. Para ulama menulis kitab-kitab syarat dengan pembelajaran, agar publik berdaya dalam melahirkan sistem sosial yang mampu membentengi masyarakat dari degradasi moral. Beberapa kitab-kitab tersebut misalnya safinantun najah, sullamut taufiq, durratun nasihin, qurrotul ‘uyun, ‘uqudullijain, mabadi’ fikh dan ta’alim mu ta’alim.

Dalam kitab klasik seperti safinantun najah contohnya, anak-anak dan remaja dikenalkan dengan ilmu dan pengetahuan yang sangat mendasar tentang sex dan reproduksi. Bahkan jauh hari sebelum kaum akademisi modern dan aktivis NGO ramai-ramai mengkampanyekan tentang wacana kesehatan repoduksi dan sex, kitab yang ditulis oleh Syeh Salim bin Sumair Al Hadhromi sudah mengenalkan pengetahuan tersebut. Dengan disiplin pada tubuh, maka pembelajar kitab tersebut diharapkan mampu menjaga tubuhnya baik dari kacamata kesehatan maupun ancaman pihak luar yang akan merusak tubuhnya.

Kitab yang banyak dipelajari masyarakat di pesantren dan langgar kampung tersebut menjadikan jalan memahami tubuh (reproduksi) sebagai jalan menuju ketaqwaan paripurna kepada Allah. Untuk menggapai jalan ketaqwaan tersebut, secara sederhana kitab tersebut mengemas wacana tersebut dalam tema-tema seperti sesuci (taharoh). Tema sesuci mengajarkan kepada para kita semua (utamanya orang tua) tentang bagaimana pertama sejak dini harus mengetahui tentang tanda-tanda anak sudah menginjak usia balig (usia remaja). Kedua,mengenalkan bagaimana tata cara menjaga kesehatan, mulai dari bersuci selepas buang hajat (istinja) sampai dengan menghilangkan penyakit karena najis. Ketiga, pengetahuan tentang hal-hal yang mewajibkan seseorang mandi.

Disamping mengajarkan wacana sex dan reproduksi, kitab klasik karya ulama terdahulu juga mengenalkan kepada anak dan kaula muda tentang bagaimana tata cara dan etika mencari teman. Ilmu tersebut misalnya dapat ditemukan pada kitab ta’alim mu ta’alim. Mencari teman, mungkin terkesan sepele. Tapi kalau dikontekstualisasikan ilmu ini sangat relevan. Para pemerkosa pada kasus Bengkulu atau Surabaya dan ditempat lainnya, kiranya dapat disimpulkan bahwa para pelaku tidak memiliki ilmu tersebut. Mereka saling berteman tapi tidak mampu memfilter sirkulasi sifat, gagasan, pembicaraan, sampai dengan praktik buruk dari proses interaksi yang berlangsung antarmereka. Sederhanya, keburukan teman dikonsumsi bahkan melembaga dalam diri mereka sebagai kumpulan anak muda. Rendahnya kepekaan sosial inilah yang kemudian menyebabkan munculnya kebiasaan buruk seperti mabuk-mabukanm berkelahi, menonton film porno, hingga menggoda perempuan.

Secara apik para ulama terdahulu mampu mentransformasikan ilmu dalam kitab-kitab klasik tersebut dalam kehidupan sosial masyarakat desa hingga kota. Masjid, pesantren dan surau mampu menjadi lembaga sosial yang transformati, sehingga wacana sex dan reproduksi secara tidak langsung dikenal oleh masyarakat. Tidak hanya itu, pembelajaran atas kitab-kitab klasik tersebut selama ribuan tahun terbukti memiliki dampak signifikan membentuk karakter anak bangsa yang menghormati privasi reproduksi orang satu sama lain. Karenanya, tidak ada salahnya di masa mendatang lembaga-lembaga keagamaan, khususnya umat Islam menggalakkan kembali pembelajaran khasanah Islam klasik tentang pembelajaran etika pergaulan, sex dan hak reproduksi sebagaimana dikenalkan oleh para ulama terdahulu  dalam ruang sosial anak dan kaum muda yang akhir-akhirnya tergeser oleh arus globalisasi informasi. Oleh: Kharis Fadlan (Ketua NU Ranting Desa Logede Kec. Pejagoan Kebumen)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

SMA N 1 Kebumen Pelopor Eduwisata

KB Islam Al Barokah, Gelar Haflah Akhirussanah, Luluskan Siswa Luar Biasa

Related posts