12:32 am - Sabtu April 11, 2020

Pengajian Likuran Ajak Anak-anak Kembali Ke Permainan Tradisional

823 Viewed kebumenn 0 respond

Kebumen News – Pengajian likuran adalah komunitas kajian yang membahas tema-tema tertentu dan digelar secara periodik. Kali ini Pengajian Likuran mengambil tema “Dolanan Nyawiji“. Pengajian likuran ini mengundang pemateri Sigit dari komunitas Martatilaar, Ravi Ananda yang dikenl sebagai sejarawan Kebumen, dan Haryanto dari komunitas Ma’iyah Yogyakarta serta Agus Suroso dari PMII Kebumen.

Kegiatan yang berawal dari obrolan di warung dengan 5 orang kemudian bertambah 7 orang yang kebingungan mencari wadah untuk mencurahkan kegalauanya. Pada awalnya nama forum itu Likuran Malaikat, namun berjalannya waktu berganti menjadi likuran paseduluran yang berjalan sampai saat ini. Tema yang diusung adalah dolanan nyawiji berangkat dari refleksi kegiatan selama satu tahun. Agus Suroso pemateri menuturkan bahwa dolanan itu berasal dari 2 kata yakni dolan dan an. Dolan dalam Bahasa Indonesia berarti bermain namun bukan itu yang dimaksud, dolan itu berarti refleksi untuk mencari kesenangan. Sedangkan imbuhan an adalah kata imbuh yang bermakna mencari ketenangan jiwa, misal anak kecil yang asyik memainkan gangsing secara tidak sadar ia lupa dengan keadaan di sekitarnya, karena jiwanya merasa tenang.

Kemudian nyawiji merupakan kesatuan atau bisa dikata menyatu setiap manusia ketika dia sudah menyatu dengan apapun maka dia akan merasakan ketenangan jiwa dan raga. Bangsa Indonesia terdiri dari pecahan pulau-pulau. Namun karena nyawiji maka tercetuslah sumpah pemuda untuk menyatukan rakyat yakni, bertanah air satu tanah air indonesia berbangsa satu bangsa Indonesia dan menjunjung tinggi bahasa persatua bahasa Indonesia.

“Rusaknya generasi bangsa juga tidak terlepas dari peran orang tua yang tidak mengenalkan macam2 permainan tradisional semisal slodor, karena hari ini orang tua menginginkan sesuatu yang instan maka alternatifnya orang tua memberikan HP, motor dll agar anaknya tidak rewel. Saya pun berpesan kepada orang tua agar mendidik anaknya dengan tradisional.” Tutur Sigit Purwadiwangsa dari Martatilaar..

Sigit menambahkan bahwa ternyata anak-anak sebenarnya kangen dengan permainan dulu, itu dibuktikan dengan pada masa lalu Martatilaar pernah membuat even permainan anak2, disitu disediakan berbagai mainan dan ternyata anak-anak menyukainya bahkan HP pun ditinggal. (Kn.-02)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Hakim Ini Tiba-tiba Cium Tangan Terdakwa (Sebuah Pelajaran Berharga dari Jordania)

Workshop Smartphone Photography Stikes Gombong

Related posts