Somalangu Hadirkan Seni Budaya 13 Negara Dalam Ajang Al Kahfi Intercultural Fair 2016

972 Viewed kebumenn
Advertisment Single content advertisement top

#Kebumen News – Sebanyak 13 seni budaya dari 13 negara akan tampil dalam ajang Alkahfi Intercultural Fair (AIF) sekaligus harlah ke-564 pesantren tertua di Jawa Tengah, Alkahfi Kebumen.

Agung Widhianto ketua panitia AIF menyatakan, negara-negara yang dipastikan tampil di pesantren yang berdiri sejak 25 Sya’ban 879 hijriah ini, diantaranya dari Spanyol dengan penampilan Flamenco, Turki dengan dansa Sufi, Italia dengan Tarantella, Inggris dengan seni dansa Morris, serta dari China, Afganistan, Vietnam, Jerman hingga Palestina.

“Acara ini membawa tujuan From Pesantren For The World,” Tuturnya.

Agung menambahkan, acara seni budaya dari berbagai negara ini merupakan sarana ajang ta’aruf sekaligus internasionalisasi santri dalam pentas dunia. Selain itu, acara yang akan diselenggarakan di lapangan pesantren Alkahfi Somalangu, Kebumen, Jawa Tengah ini, juga dimaksudkan untuk membangun Interaksi antara dunia pesantren dengan komunitas Internasional.

“Harapannya nilai-nilai kepesantrenan yang ada di Indonesia ini bisa dikenal oleh masyarakat internasional,” kata Agung yang juga ketua Komunitas Peduli Anak ini.

Ketua dewan pengurus pesantren Alkahfi, Ust. Sobirin menambahkan, selain untuk menggairahkan spirit santri, AIF juga bertujuan untuk menambah wawasan global sebagai ikhtiar pesantren dalam membantu pemerintah Indonesia guna memperkuat hubungan diplomasi Indonesia dengan negara-negara lain.

“Ini acara pertama kami, yang ke depan ini akan rutin. Karena dengan santri berinteraksi dengan seni budaya dunia, harapannya baik santri maupun masyarakat Internasional bisa saling mengenal. Karena ada istilah tak kenal tak sayang, sehingga dengan saling mengenal dan saling berkomunikasi maka akan terjalin cinta,” paparnya.

Acara yang akan diikuti sedikitnya 30 ribu hadirin ini berlangsung pada Ahad, 29 Mei 2016. Selain menampilkan seni budaya dari berbagai negara, AIF juga menggelar malam selebrasi dan diskusi internasional yang diselenggarakan di lapangan terbuka. Direncanakan tampil sebagai pembicara diantaranya Gus Wahyu NH Aly (Ketua Umum Kiai Muda Indonesia), Hariqo Wibawa Satria (Koordinator Relawan Komunitas Peduli ASEAN) dan M. Fatkhul Mashkur.

Selain penampilan seni budaya juga digelar diskusi internasional dengan tema “Pendidikan pesantren, perguruan bangsa untuk peradaban dunia” Pondok Pesantren tertua. Hadir sebagai narasumber pada acara tersebut salah seorang tokoh NU Ahmad Baso. Ahmad Baso membincang tentang pesantren dai zaman-ke zaman. Seminar ini diikuti lebih dari 200 peserta yang tetap antusias hingga selesai.

“Pesantren adalah lembaga pendidikan yang selama ini eksis dan tidak terlepas dari suatu kultur masyarakat. Dalam bahasa Gus Dur pesantren adalah sebuah kelompok masyarakat subkultur yang selalu menjaga dan memiliki kultur tersendiri dan menerapkannya dalam dunia pendidikan.” Tutur Ahmad Baso.

Menurutnya pendidikan hakikatnya adalah pembentukan subkultur masyarakat. Pesantren salah satu akar pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang benar-benar mendidik dan peserta didik yang bertatap muka 24 jam dengan gurunya hanya di pondok pesantren. Dr. Soetomo 1930an mengatakan bahwa “pesantrenlan yang mejadi sumber pengetahuan menjadi mata air ilmu bagi bangsa kita (islam nusantara) sebulat-bulatnya” Dari situ dapat kita cermati bahwa pendidikan yang paling baik dan benar hanya di pondok pesantren. Namun sesuai dengan perkembangan zaman sub kultur tersebut pelan-pelan mulai terkikis.

“Ada lima karakter yang manjadi pengetahuan pesantren yang memberi warna dalam dunia pendidikan 1. Pengetahuan 2. Memberi alat guna berjuang di dunia ini 3. Pendidikan yang semangat kebangsaan dan cinta kasih. 4. Murid-murid akan menjadi diri sendiri 5. Kekuatan batin dididik, kecerdasan roh di perhatikan dengan sungguh-sungguh. Kelima karakter tersebut harus dimiliki oleh seorang pemimpin, jika tidak maka kesengsaraan yang ada.” Sambung Ahmad Baso santai tetapi tegas.

Masih menurutnya “Kita tentunya tahu bahwa presiden Soekarno orang hebat tetapi di balik semua itu beliau juga pergi ke pondok/ pesantren selama kurang lebih tiga bulan. Karena di kawah candra dimuka pesantrenlah pendidikan karakter kebangsaan di gembleng. Seiring berjalannya waktu para kyai terdahulu seperti Kyai Mahfud dari Somalangu tidak banyak tahu bahkan sejarah beliau tidak di masukan di dalam sejarah Indonesia (buku pelajaran).”

“Seperti yang kita ketahui di setiap tanggal 2 Mei di peringati Hari Pendidikan Nasional namun semua itu salah seperti yang di ungkapkan oleh Ki Hajar Dewantar “Sistem pondok pesantren dan asrama itulah Sistem Nasional. Seharusnya sistem nasional itu mengacu pada sistem pondok/pesantren dan asrama, bukan malah sebaliknya. Pondok pesantren yang terbaik itu ada di tanah jawa. Dulu banyak sekali santri dari Timur Tengah yang datang ke tanah Jawa hanya untuk ke pondok, tetapi sekarang malah sebaliknya banyak santri indonesia yang pergi ke pondok di Timur Tengah. Maka dari itu marilah kita bersama meng uri-uri (menghidupkan) dan meramaikan pondok pesantren.” Pungkas Baso. (Kn.02/Ya2n)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab

Membuat Film Dengan Smartphone, Ternyata Asyik

Jalan Bergelombang di Kaliputih, Truk Lewat Muat Semen Terguling

Related posts