5:22 am - Sabtu April 4, 2020

Wahyu Cakraningrat; Antara Tontonan dan Tuntunan [2]

820 Viewed kebumenn 0 respond
Penampakan utuh pagelaran wayang dengan dalang lokal Eko Suwarjo di alun-alun Kebumen [K.04]

Di sela menonton pagelaran wayang ini ada frasa limbukan dan goro-goro; fase yang biasa ditunggu-tunggu audiens umumnya. Karena materinya melulu guyon intermezzo, joke-joke ataupun nyanyian yang menghibur. Proporsi populis pada jeda ini seolah berjalan linier dengan trend dan selera kekinian pasar.

Catatan menarik atas 2 fase ini pentas wayang alun-alun Kebumen  adalah munculnya ungkapan “nguri-uri budoyo” dari partisipan yang justru berasal dari kalangan pemangku kepentingan. Sebegitu menariknya hingga memicu perdebatan kami pasca kedua priyayi ini nyawer sang waranggana di depan audiens yang tersisa. Plus minus kemenarikannya terangkum dalam rangkaian pertanyaan: Benarkah budaya [tradisi] kita telah rusak tersisih? Jika benar, lalu siapa yang merusak dan menyisihkannya? Apakah karena itu lalu muncul frasa “nguri-uri” budaya itu? Dan bagaimana cara kita memperlakukannya?

Barangkali memang dalam bersit sesaat, saweran-saweran kepada para pelaku seni bakal jadi “cara-cara baru” memperlakukan kesenian tradisi. Dengan begitu lebih membuka kian lebar porsi tontonan ketimbang aspek tuntunannya. Tetapi, sesungguhnya ini berkait kelindan dengan problem masyarakat apresian hari ini.

Dan bagaimana “Wahyu Cakraningrat” turun sebagai wahyu keraton dan untuk selanjutnya manitis pada seorang yang ditakdirkan sebagai “pancering ratu” tanah Jawa. Maka ini lah makrifat tuntunanya.

 

Pelantikan dan Keselanjutannya

Pada gilirannya, kepada Abimanyu lah sang Cakraningrat "manjing" selama integritas kewahyuan terpelihara. Di fase sebelumnya, sang wahyu murca karena pengembannya tak kebal "godaan" dunia...

Pada gilirannya, kepada Abimanyu lah sang Cakraningrat “manjing” selama integritas kewahyuan terpelihara. Di fase sebelumnya, sang wahyu murca karena pengembannya tak kebal “godaan” dunia…

Sebagai sebuah tuntunan maka pementasan wayang dengan lakon “Wahyu Cakraningrat” ini, sesungguhnya sarat dengan wewarah keteladanan pemimpin daerah, bukan saja pada masa “turunnya wahyu” dan penobatan pemegangnya; melainkan juga realitas keselanjutannya. Wewarah lakon ini memiliki korelasi dalam aspek kultural dan spiritualitas Jawa yang  mengkonstruksi nalar sehat. Nalar sehat yang dimaksud adalah suatu pemikiran dialektis yang berkesadaran budaya dan memiliki kecerdasan dalam memahami perkembangan situasi kedaerahannya.

Bagi seorang pemimpin, kecerdasan seperti ini menjadi sangat penting karena segala abstraksi karunia-karunia [baca: wahyu] Tuhan telah diamanahkan kepadanya. Jaiz Tuhan pula yang turun menggerakkan masyarakat pemilih untuk sebuah konsekuensi kepadanya menjadi pemimpin (ratu) dan bahkan menurunkan trah kepemimpinannya.

Kecerdasan yang (lebih dari sekedar pintar tapi juga mengerti dan mampu memahami) ada pada seorang pemimpin, pada gilirannya mengkonstruksi kebijaksanaannya. Kebijaksanaan demikian tentu berkorelasi secara signifikan dengan keputusan-keputusan penting, dengan kebijakan dalam masa kepemimpinannya. Dalam idiom politik ini disebut kebijakan daerah yang dipimpinnya.

 

Ini lah narasi “Wahyu Cakraningrat” yang, sekali lagi, sesungguhnya belum tamat lakonnya itu. Apakah pemimpin yang penobatannya telah disyukuri dengan suka-cita itu sebagai manifestasi atas salah satu dari tiga “kontestan” pemburu wahyu; sebagaimana dinarasikan dalam pewayangan semalam? Pada simbolisme mana diantara Lesmana Mandrakumara, Samba Wisnubrata, dan Abimanyu; tak berhenti menjadi mitos kekuasaan daerah hari ini. Dialetika yang akan menentukannya…      (Kn/4)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Wahyu Cakraningrat; Antara Tontonan dan Tuntunan [1]

Tembang Macapat, Enerji dan Abstraksi Doa [1]

Related posts