7:55 pm - Senin Maret 30, 2020

Tembang Macapat, Enerji dan Abstraksi Doa [1]

1157 Viewed Masyarakat Karst 0 respond
DRAS-SUMUNAR: Sastrawan Jawa, Tetet Sri WD, di tengah pagelaran tembang macapat yang mengangkat petikan Serat Dras-Sumunar karyanya. Komposisi simbolik yang menggambarkan posisi perempuan Jawa dalam tema kesetaraan [Foto: KN.04]

Serangkaian pupuh tembang jawa dalam bunga rampai “Dras Sumunar” usai digelar di Roemah Budaya Martha Tilaar Gombong Kebumen (27/2/2016). Rangkaian yang lengkapnya terdiri dari 1.000 gatra tembang berpupuh Dhandhanggula, Mijil, Sinom, Pangkur dan Durma, karya Tetet Srie WD, yang telah dipentaskan di berbagai negara Asia, Eropa dan Afrika. Petikan karya sastra Jawa ini dilantunkan langsung oleh Tetet Srie WD dengan melibatkan tak kurang dari 10 orang termasuk 3 seniman yang menyertai perjalanannya; Nadine, Heru dan Ibu Arum. Beberapa seniman setempat juga menyertai perhelatan langka ini…

Serat sebagai karya sastra Jawa tak melulu lahir dalam budaya tradisi di masa yang telah berlalu. Masyarakat lama telah mengenal berbagai karya sastra adiluhung sejenis sebagai bagian khasanah kesusasteraan lama. Dalam khasanah klasik itu setidaknya ada Serat Pararaton, Wedhatama, Wulangreh, Tripama, Centhini, Jayeng Baya, Sasangka Jati, Sabdo Palon, hingga karya fenomenal seperti Serat Gatholoco dan Darmo Gandul; serta banyak lagi karya klasik lainnya. Sedang di era kekinian tradisi serat ini terus dielaborasi oleh para sastrawan Jawa. Salah satu penulis sastra Jawa [baca: pangripta_pen] serat ini adalah Tetet Srie WD dengan karya Serat Dras-Sumunar (1986).

Karya yang dalam serat aslinya terdiri tak kurang dari 1.000 gatra (pada_jw] tembang macapat ini memuat aspek falsafah perjalanan hidup manusia, dari soal-soal cinta, gejolak muda, pengembaraan, bahkan juga kritik sosial hingga kawruh seputar  kearifan dan nilai-nilai spiritualitas kehidupan. Ada sajian pengantar dari rintisan Teater Kopong menyertai. Helatan bernuansa ritus menyimak tembang-tembang macapat namun jadi terasa gayeng hingga usai dinarasikan. Diikuti sambung rasa dibawah fasilitator Sigit Tri Prabowo.

EKSPESI: Penulis Serat "Dras-Sumunar" Tetet Sri WD melantunkan tembang macapat dengan ekspresi penuh. Aspek sastrawi dalam serat ini dapat dimaknai sebagai abstraksi doa yang memuat harapan zaman terhadap generasi berikutnya [Foto: Heru S. Sudjarwo]

EKSPESI: Penulis Serat “Dras-Sumunar” Tetet Srie WD melantunkan tembang macapat dengan ekspresi penuh. Aspek sastrawi dalam serat ini dapat dimaknai sebagai abstraksi doa yang memuat harapan zaman terhadap generasi berikutnya [Foto: Mario M. Sano]

Penulisnya, Tetet Srie WD; berada di tengah deretan penembang dengan konfigurasi simbolik yang fokusnya menggambarkan visi kesastraan dari karya seratnya. Ini muncul pada fase tembang dengan sepuluh gatra pupuh Dhandhanggula yang dilantunkan perempuan muda berbakat Ika Lustiati, siswi SMA 1 Gombong. Konfigurasi demikian menjelaskan bagaimana sastrawan yang juga seorang koreografer Tetet Srie WD ini ingin menempatkan tema besar kesetaraan gender sebagai sebuah arus utama yang menghilir karyanya. Mainstreaming mana, dalam karya visioner Serat Dras-Sumunar ini menunjukkan basis kultural dan filosofi Jawa yang melandasinya; yang membedakan Sastra Jawa dengan Sastra Barat.

Dunia Barat sendiri menyambut pentas “Dras-Sumunar” sebagai karya serat yang dipanggungkan dengan pernik spektakularitasnya…   [Artikel Selanjutnya]

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Wahyu Cakraningrat; Antara Tontonan dan Tuntunan [2]

Tembang Macapat, Enerji dan Abstraksi Doa [2]

Related posts