7:16 pm - Senin Maret 30, 2020

Catatan Pasca Pilkada: Sepi Sosialisasi dan Publikasi Partisipasi Masyarakat Rendah

1629 Viewed kebumenn 0 respond

Kebumen – Pilkada serentak yang telah berlangsung  9 Desember 2015 meninggalkan beberapa catatan yang perlu dikaji bersama. Sebagian besar warga di Kebumen menganggap Pilkada serentak tahun 2015 dianggap biasa-biasa saja bahkan terkesan “sepi” seolah tidak ada pesta demokrasi. Hal ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang gregetnya sangat terasa.

Apalagi partisipasi pemilih di Kabupaten Kebumen yang hanya mencapai 64 % meleset jauh dari target KPU yang seharusnya 77,4%. Ternyata hal ini disebabkan karena kurangnay publikasi dan sosialisasi Pilkada. Fasilitas publikasi dan sosialisasi dari KPU sangat terbatas. Pembuatan baliho gambar calon se-Kabupaten hanya ada lima titik. Spanduk bergambar calon perdesa hanya 1 helai, dan pelaksanaan kampanye terbuka hanya boleh melakukan 1 kali selama pilkada. Pada sisi lain, dari pihak calon tidak diperbolehkan melakukan publikasi dan sosialisasi dalam bentuk baliho dan spanduk. Calon hanya diperbolehkan sosialisasi dalam bentuk stiker ukuran 5×10 cm.

Paulus Widiyanto Ketua KPU Kebumen sebagai pihak penyelenggara berpendapat saat dialog interaktif Refleksi Pilkada 2015 di sebuah radio swasta Kebumen, mengakui kurangnya pubikasi dan sosialisasi serta kurangnya alat peraga kampanye yang disediakan KPU. Hal ini menurutnya disebabkan karena kurangnya dana publikasi dan sosialisasi yang dimiliki KPU.

Kurangnya publikasi dan sosialisasi menyebabkan suburnya potensi Money Politik. Karena masyarakat menjadi tidak mengetahui profil calon-calon sehingga proses pemilihan tidak mempertimbangkan visi-misi dan progam calon. Akhirnya masyarakat memilih berdasarkan informasi dari tim sukses yang membawa uang.

Maraknya money politik pada Pilkada tahun 2015 ini juga diakui oleh Ketua Panwaslu Kebumen Suratno. Dalam kesempatan untuk menyampaikan pendapat di KPU saat rekapitulasi akhir. “Memang kita tidak memungkiri praktik money politik, itu terjadi bahkan ada yang tertangkap tangan, tetapi keterbatasan kemampuan Panwaslu dan lemahnya undang-undang dalam mensikapi money politik menyebabkan, jarang ada kasus money politik yang terungkap dan berhasil di tingkat MK” Tutur Suratno Ketua Panwaslu Kebumen.

Menyoroti kurangnya sosialisasi tim sukses calon menyatakan bahwa sebenarnya durasi kampanye cukup panjang; hampir 100 hari “Akan tetapi dalam kita melakukan berkampanye sebagai tim kalau dilakukan semua kampanye dengan pertemuan terbatas akan mengalami kesulitan. Pertama mengumpulkan masyarakat tidak memberi pesangon hanya akan menjadi bahan omongan itu menurunkan citra calon. Kedua masyarakat yang dikumpulkan hampir semuanya minta dipertemukan dengan calon dan itu hal yang tidak mungkin. Selain itu permintaan masyarakat di kala bertemu banyak permintaan baik saat proses maupun setelah jadi bupati, dan kami tidak menyangkal adanya praktek money politic akan tetapi itu bukan dari Tim seperti kami, itu mungkin perlu dilakukan atas masukan dan inisiatif Tim diluar yang secara “tidak resmi” terdaftar di KPU tetapi dekat dengan calon dan mengapa itu terjadi ini adalah permintaan masyarakat pada bacaan kami” Tutur Saiful Ngulum anggota tim sukses salah satu calon.

“Pilkada sekarang tidak seperti pesta demokrasi yang sudah-sudah artinya Pilkada sekarang banyak dibatasi dalam melakukan kampanye misal atribut bahan kampanye yang digunakan untuk bersosialisasi tidak boleh membuat sendiri. Hal ini menjadikan Pilkada jadi sepi dan menyebabkan partispiasi masyarakat untuk memilih rendah” Pungkasnya. (Kn/03)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Bom Meledak di Sarinah, Indonesia Kembali Berduka

Kebumen One Day Enduro Trail Adventure Club

Related posts