Tetap Bertahan Di Tengah Gempuran Produk Sintetis

1587 Viewed kebumenn
Advertisment Single content advertisement top

#Kebumen 

[D]i tengah gempuran produk asing berbahan sintetis Mbah Pariyem (70) wanita lanjut usia masih bertahan menjadi pengrajin layah, Pengrajin gerabah tanah liat asal desa Pejagatan Kecamatan Kutowinangun itu menyayangkan generasi muda yang tidak mau belajar membuat gerabah dar tanah liat lagi. Hal ini menjadikan profesi pengrajin gerabah tanah liat terancam punah.

“Anak-anak sekarang, sudah tidak mau lagi bekerja seperti ini, sudah malas. Inginnya ya sekolah yang tinggi untuk dapat pekerjaan yang lebih baik,” Tuturnya sambil menerawang.

[one-fourth-first][S]elain rasa malas, penyebab lainnya adalah karena harga gerabah tanah liat sekarang sangat murah sehingga orang-orang enggan untuk belajar membuat gerabah tanah liat[/one-fourth-first]
[three-fourths][/three-fourths].
Apalagi zaman sekarang, gerabah tanah liat mulai tersingkirkan oleh produk-produk lain. Generasi muda yang diharapkan bisa melakukan inovasi ternyata tidak memilih untuk pekerjaan kotor itu.

Proses pembuatan gerabah tanah liat memang agak lama. Proses dari awal membuat sampai proses pembakaran bisa memakan waktu lebih dari satu minggu, itu pun jika musim kemarau. “Prosesnya itu lama, kalau musim kemarau bisa mencapai sepuluh hari baru dibakar. Kalau musim penghujan bisa dua minggu baru dibakar,” tutur Mbah Pariyem saat ditemui Kebumen News. Karena proses pembuatan yang lama, daya minat pembeli yang minim, juga karena faktor pengeluaran kebutuhan sehari-hari yang melebihi penghasilan membuat anak-anak mereka memilih pekerjaan lain yang dianggapnya lebih baik.

Meskipun pengolahan gerabah ini lama dan rumit tetapi masakan yang diolah menggunakan gerabah tanah liat menjadi lebih enak, lebih gurih dan di lidah menjadi nyaman. Meskipun cara pengolahan menjadi lebih lama dan menghabiskan kayu bakar lebh bayak. Selain kuali Mbah Pariyem juga membuat layah, ciri dan leper yang semuanya terbuat dari tanah.

Di Desa Pejagatan dukuh Krajan, kini hanya tinggal ada dua keluarga yang masih tetap eksis untuk membuat gerabah tanah liat. Itu pun juga tidak memiliki generasi penerus. Kebanyakan dari anak-anak mereka adalah merantau ke kota-kota besar sehingga pekerjaan warisan leluhur ini terlupakan.- (MF)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab

Filed in

Hanif Dzakiri: Lulusan SMK Sumbang Pengangguran Terbanyak di Negeri Ini

Pisang Kapok Kebumen Terbaik di Indonesia

Related posts