6:43 am - Sabtu April 4, 2020

Mencari Figur Kandidat Bupati Pemberdaya

1915 Viewed bram Komentar Dinonaktifkan pada Mencari Figur Kandidat Bupati Pemberdaya

[M]asa kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Kebumen sudah dimulai. Para pendukung sudah mulai mengunggulkan pasangan calon (paslon) masing-masing. Salah satu keunggulan yang acapkali disuarakan adalah kedermawanan.

[one-half-first]

[M]aklum, di masa kampanye hampir semua paslon umumnya akan menunjukkan kedermawanannya dengan memberi bantuan sana-sini, di sela-sela sosialisasi yang dilakukannya. Entah kebetulan atau tidak, biasanya pada saat masa kampanye pemilihan eksekutif maupun legislatif, mendadak banyak fasilitas umum yang perlu direnovasi. Akibatnya hampir semua posko timses paslon bakal diserbu banyak proposal.

Agresivitas paslon tertentu dalam memberi bantuan segera di-counter dengan statemen pendukung paslon lainnya, “Sedang kampanye wajar kelihatan dermawan, beda dengan paslon kami yang dari dulu sudah dikenal dermawan. Suka membantu fakir miskin dan anak yatim.” Sebuah perang opini yang lucu. Apa hubungan kedermawanan dengan kepemimpinan?

Kedermawanan adalah sebuah keharusan bagi orang yang sudah dikaruniai harta berlebih, namun bukan bekal yang cukup untuk menjadi seorang pemimpin selevel kabupaten seperti seorang bupati. Karena kedermawanan hanya sekadar membantu bertahan hidup, bukan meningkatkan taraf hidup. Maka yang diperlukan sebenarnya adalah seorang pemberdaya, yang mampu mendorong orang lain memanfaatkan potensi yang dimilikinya agar bisa berdaya dan mandiri. Seorang pemberdaya tak selalu harus seorang kaya yang dermawan, bisa juga orang biasa yang penampilannya juga biasa-biasa saja. Sayangnya masyarakat kita lebih silau dengan kiprah seorang penderma ketimbang seseorang pemberdaya.

Bagaimana menakar kualitas pemberdaya seorang kandidat bupati atau wakil bupati bisa dilihat dari rekam jejak aktivitasnya. Kandidat yang berlatar belakang pengusaha bisa dilihat dari sedikit banyaknya mantan anak buahnya yang kemudian mengikuti jejak menjadi pengusaha. [/one-half-first][one-half][/one-half]Bisa juga dideteksi dari sedikit banyaknya pengusaha kecil yang menjadi mitranya kemudian mampu berkembang meningkatkan kelas usahanya. Kalau yang terjadi sebaliknya, pengusaha yang malah mematikan pengusaha kecil yang menjadi mitranya, jelas sangat tidak layak untuk disebut pemberdaya dan sangat barbahaya kalau diberi amanah menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kebumen.

Pengusaha kontraktor yang biasa mengerjakan proyek-proyek milik pemerintah, bisa dicek kualitas pemberdayanya dari proyek yang telah dikerjakan. Apakah senantiasa melibatkan pengusaha kecil untuk menjadi mitra sub kontraktornya atau tidak. Kalau bermitra apakah memperlakukan dengan baik atau tidak, hanya menuntut pekerjaannya lancar giliran kewajiban membayar tersendat malah cenderung berkelit dari kewajibannya. Hal ini bisa dicek langsung kepada kontraktor-kontraktor kecil yang pernah menjadi mitranya.

Kandidat yang berasal dari birokrat bisa dicek kualitasnya sebagai pemberdaya dari aktivitas di luar tugas pokoknya. Hanya menjadi birokrat pada suatu instansi tertentu membuat seseorang tidak terasah kemampuannya untuk menjadi pemberdaya bila tidak dibarengi aktivitas sosial misalnya dengan menjadi pengurus organisasi kemasyarakatan (ormas) yang memiliki struktur organisasi paralel dengan pemerintah.

Dalam konteks ini sebenarnya latar belakang kandidat dari NU atau Muhammadiyah menjadi berpengaruh. Sebab di Indonesia, terlebih di Kebumen, dua ormas ini yang cukup besar dalam memobilisasi banyak orang dan kegiatan. Sehingga kualitas pemberdaya aktivis kedua ormas tersebut sudah terasah dengan baik. Tidak terkait dengan persoalan madzhab dalam pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. Hal ini penting, karena masih ada yang mengotak-atik isu yang kontra produktif terkait afiliasi ormas NU dan Muhammadiyah.

[M]eskipun pengalaman aktivitas dalam ormas NU atau Muhammadiyah itu penting, tak berarti menafikan pengalaman kandidat dalam lingkungan ormas lainnya. Yang terpenting membuat seorang kandidat terasah kemampuannya sebagai pemberdaya. Sudah saatnya masyarakat lebih cerdas dalam memahami rekam jejak para kandidat, baik dari pengusaha maupun birokrat untuk mewujudkan pilkada yang lebih bermartabat.

Achmad Marzoeki (Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Kebumen)

 

 

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Bupati dan DPRD Harus Bertanggungjawab Kerusakan Lingkungan Akibat Tambak

Unik, Penampakan Awan Berbentuk Kuda Terbang

Related posts