5:50 am - Rabu Juni 3, 2020

Pembudayaan Pancasila di era Kontemporer

1996 Viewed Agus Nur Komentar Dinonaktifkan pada Pembudayaan Pancasila di era Kontemporer
single-thumb.jpg
[P]ancasila sebagai dasar negara sudah berumur lebih dari 67 tahun. Kualifikasi Pancasila sebagai dasar negara resmi tertuang di dalam Pembukaan UUD 1945. Sederetan data dan bukti sejarah sejak Pembukaan sidang pertama Dokuritsu Junbi Choosakai tanggal 29 Mei 1945 sampai disahkannya UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 menunjukkan asal-muasal atau tujuan bangsa Indonesia merumuskan Pancasila sebagai dasar negara tersebut.
Perlu diingat bahwa jauh sebelum dicapai rumusan Pancasila yang final itu, nilai-nilai Pancasila telah membumi di dalam adat-istiadat, kebiasaan dan agama-agama di Indonesia. Nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari mengejawantah dalam bentuk pandangan hidup bangsa. Dalam posisi demikian, Pancasila senantiasa berada dalam kesatuan dengan manusia Indonesia, diterima dan dijadikan ukuran, petunjuk dan pedoman dalam kehidupan segala bidang, baik ketika sendirian maupun ketika berinteraksi dengan manusia lain, alam semesta sampai kepada Tuhan Yang Maha Esa.
 

Terkait dengan latar belakang sejarah dan pemikiran yang berbeda-beda, setiap negara memiliki keunikan tersendiri dalam hal pandangan hidup dan dasar negara yang dipilihnya. Rechtsstaat yang dianut Jerman,Rule of Law di Inggris, Big Brother dalam tradisi Jepang, dan Pancasila bagi Indonesia, membawa kita pada pendapat bahwa setiap bangsa dan negara adalah suatu unik. Masing-masing memiliki nilai-nilai yang tertanam dalam habitat kehidupannya, baik yang bersifat fisik, sosial bahkan transendental. Globalisasi yang semakin meningkat, boleh jadi mampu memperluas pemahaman satu bangsa atas bangsa lain, akan tetapi tidak mungkin menghapuskan keunikan dan kemajemukan pandangan hidup dan dasar negaranya masing-masing.

 
Jepang, kiranya dapat dijadikan sebuah contoh negara yang setia pada pandangan hidupnya yang khas. Bahwa kekalahan Jepang pada perang dunia II atas Sekutu, desakan Barat agar Jepang menerima modernisme, serta gencarnya arus globalisasi, ternyata tidak menjadikan Jepang liberal dan individualis, melainkan tetap pada jati dirinya sebagai bangsa yang memegang teguh kokoro (hati nurani), menjaga suasana kekeluargaan, Negara memainkan peran sebagai institute Big Brother (Kakak) yang selalu berbuat baik untuk kebahagiaan rakyat (Adik). Keunikan Jepang itu, pantas menjadi ilham bagi bangsa Indonesia untuk berani berbuat serupa dalam mempertahankan Pancasila sebagai pandangan hidup maupun dasar negara. Kalau sikap dan perilaku demikian secara konsisten dapat kita ejawantahkan pada segala bidang kehidupan, bukan tidak mungkin (bahkan menjadi keniscayaan) dalam waktu relatif singkat bangsa Indonesia akan kembali meraih kejayaannya sebagai bangsa bermartabat, disegani dan dihormati bangsa atau negara lain.
 
Bilamana kita bersedia menyimak dengan seksama terhadap sikap dan perilaku siapapun yang tidak setuju dengan Pancasila, sebenarnya sikap dan perilaku demikian karena faktor ketidak-pahaman mereka tentang Pancasila itu sendiri. Apalah artinya kata-kata ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, persatuan, musyawarah dan sebagainya itu, apabila sikap dan perilaku warga negara maupun penyelenggara negara senatiasa condong kepada tahta dan harta benda duniawi, serta merta lalai terhadap rambu-rambu hukum ilahiah, mengedepankan otoritas dan kekuatan, serta tega terhadap kenestapaan orang lain, tak peduli terhadap kehancuran bangsa dan negara. Pancasila, memang perlu dipahami secara kontekstual, dan bukan sekedar tekstual. Nilai-nilai Pancasila sebagai sistem nilai, tidak sekali-kali memisahkan (sparate out) seseorang dari konteks sosial, alam semesta maupun sangkan paraning dumadi. Segalanya menjadi utuh, menyatu dan berkarakter holistik.

 

Kontekstualisasi pembudayaan Pancasila, pada tataran praksis, dapat dilakukan antara lain dengan pembudayaan musyawarah dan mengeliminir gemar berperkara (les adjudication, more inquisitorial). Budaya masyawarah, secara potensial akan menjadikan hasil akhir yakni kesepakatan sebagai milik dan tanggung jawab bersama, sehingga dalam rentang perjalanan pengimplementasian kesepakatan itu tidak akan saling menyalahkan, merasa paling berjasa, apalagi “menjegal” kawan seiring, berkhianat dalam perjuangan. Lebih dari itu, budaya musyawarah akan mampu menepis masuknya nilai permusuhan, perpecahan, dendam, memandang pihak lain sebagai rival (pesaing) yang mesti dikalahkan. Budaya musyawarah, justru menempatkan persaingan dalam konteks positif dan indah, yakni “berlomba-lombalah dalam kebaikan”. Apabila orang lain mampu bederma satu juta rupiah, maka terdorong baginya untuk bederma dalam jumlah lebih banyak. Apabila founding fathers telah berhasil merumuskan dasar negara, maka malu rasanya bila generasi berikutnya tidak mampu mengisi kemerdekaan dengan prestasi yang lebih besar.
 
Persoalan gerakan radikalisasi dan fundamentalisme agama yang bergejolak di berbagai Negara telah memunculkan suatu isyarat untuk menjawab tantangan ideologi bangsa, atas dasar apa suatu Negara didirikan?, bagaimana konstitusi dan ideologi mampu menyatukan perbedaan yang terjadi dalam persoalan domestik suatu bangsa?, persoalan ideologi, perbedaan keyakinan, dan isu agama dan sekterian kembali muncul dalam konteks dinamika masyarakat global saat ini. Meskipun tidak menutup kemungkinan arus besar ideologi liberalisme, kapitalisme global,dll masih tetap berpengaruh.
 
Justru kepemimpinan yang kuat di Negara demokrasi paska rezim otoriter sangat dibutuhkan. Peran ideologi sebagai pemersatu menjadi sangat penting. Sebagai salah satu contoh pembanding adalah antara Indonesia dan Mesir. Indonesia dan Mesir memiliki kesamaan dan ciri khas, bahwa Indonesia dan Mesir adalah Negara yang mayoritas penduduknya adalah warga muslim. Dengan berbagai dinamika yang ada Indonesia mampu bertahan dan bersatu ditengah-tengah tekanan arus besar ideologi asing yang masuk seperti gerakan radikalisme, fundamentalisme agama, gerakan terorisme, yang banyak terjadi di berbagai Negara. Sebenarnya, apa yang menjadi latar belakang persoalan munculnya gerakan ekstrimis di berbagai Negara?, bagi Indonesia ideologi Pancasila menjadi jawaban atas perbedaan ideologi dan pertentangan yang mungkin bisa ditimbulkan karena perbedaan agama. Ancaman di Negara yang beragam baik dari aspek budaya, agama, politik, dan bahasa adalah persoalan basis nilai apa yang harus dipegang untuk bisa menjadi payung dan mengatasi perbedaan untuk hidup bersama?

 

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in
prev-next.jpg

Kemenangan Pengusaha Desa Melawan Pasar bebas dunia

prev-next.jpg

Pembudayaan Pancasila di era Kontemporer

Related posts