7:49 pm - Senin Maret 30, 2020

Benteng Van Der Wijck Gombong Warisan Fort Generaal Cochius

1181 Viewed bram 0 respond

Kebumen News – Benteng Van Der Wijck adalah bangunan benteng peninggalan kolonial Belanda. Benteng ini berada di wilayah Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Bangunan ini memiliki metamorfosa sejarah yang sangat disayangkan kurang diketahui oleh masyarakat Kebumen. Bahkan pada akhirnya terjadi kesalahan dalam penentuan kurun waktu benteng ini dibuat. Kini para wisatawan yang berkunjung di objek wisata ini terlanjur mempercayai bahwa benteng Van Der Wijck dibangun pada tahun 1818 seperti yang tertera pada berbagai sisi ruangan di dalam benteng “AKU DIBANGUN TAHUN 1818″. Dengan dilengkapinya data sejarah di Benteng ini akan lebih menambah daya tarik tersendiri sebagai pariwisata sejarah di Kebumen.

Sebagaimana ditulis kebumen2013.com Sebelum tahun 1844, Benteng Van der Wijck merupakan bangunan kantor Kongsi Dagang VOC di Gombong. Bangunan tersebut sama sekali bukan berupa benteng. Besarnya kekuatan Dipanegara yang berpusat di bagelen selatan (sekarang kabupaten Kebumen) pada tahun 1825 – 1830, mengakibatkan Belanda mendatangkan bala bantuan pasukan VOC dalam jumlah besar dari Batavia dan menempati kantor Kongsi Dagang VOC di Gombong. Tempat tersebut kemudian dijadikan pertahanan militer Belanda dalam melawan kekuatan Dipanegara di Bagelen Selatan hingga masa penyerangan besar – besaran Belanda serta pembumihangusan pendopo kota raja kabupaten Panjer yang menjadi pusat kekuatan terakhir (1832). Peristiwa tersebut merubah status kantor Kongsi Dagang Gombong menjadi markas pertahanan Belanda di Gombong. Meski demikian, bangunan tersebut belum diubah menjadi benteng.
Pada tahun 1844 dibangunlah sebuah benteng Pertahanan Belanda di bekas kantor kongsi dagang VOC di gombong. Bangunan ini bertujuan untuk pertahanan dalam rangka persiapan perang melawan Kesultanan Yogyakarta. benteng ini dibangun selama 4 tahun (selesai pada tahun 1848: sayang angka tahun di atas gerbang utama benteng yang dahulu disisi selatan telah hilang). Benteng ini kemudian diberi nama Fort Cochius/ Fort Generaal Cochius, diambil dari nama Letnan Jenderal Frans David Cochius, seorang komandan di Hindia Belanda yang memimpin pasukan Belanda di Gombong pada masa perang Dipanegara 1825 – 1830. Benteng ini dibangun oleh tentara corp. Zeni Belanda. Dari 1400 buruh yang bekerja dalam proyek tersebut, 1200 orang di antaranya berasal dari Kabupaten Bagelen, sedangkan sisanya berasal dari Kabupaten Banyumas. Para buruh yang diawasi oleh pengawas yang diambil dari daerah masing – masing. Para buruh dibayar 15 sen / hari, sedangkan Pengawas mendapat 1 florin / hari. Bahan baku bangunan seperti kalsit dan kayu berasal dari kabupaten sekitar Bagelen, sebagian besar dari Banyumas.
Benteng /Fort Cochius berbentuk segi delapan, dengan tinggi 10 meter dan luas permukaan 7.168 m2. Dindingnya memiliki ketebalan 1,4 m. Struktur ini terdiri dari dua lantai, lantai pertama memiliki empat pintu masuk dan 16 kamar besar, masing-masing berukuran 18 m x 6,5 m. Ada lagi 27 kamar dengan berbagai ukuran, 72 jendela, 63 menghubungkan dan keluar pintu, 8 tangga menuju ke lantai dua, dan 2 tangga darurat. Di lantai dua terdapat 70 pintu penghubung, 84 jendela, 16 kamar besar masing-masing berukuran 18 m x 6,5 m, 25 kamar kecil dan 4 tangga menuju ke atap, 2 dari 4 tangga tersebut tidak diperuntukkan untuk umum, dengan kondisi masih asli. Benteng ini memiliki atap piramida yang terbuat dari bata merah, dalam bentuk bukit-bukit kecil dengan 2 lubang ventilasi di atas. Atap berukuran 3 m x 3 m x 1,5 m. Ada dua jenis pintu: pintu utama dan pintu yang mengarah ke kamar. Pintu utama terdiri dari 4 buah masing-masing berukuran 3,25 m x 3 m sedangkan pintu kamar masing-masing berukuran 2,3 m x 2,1 m.Pada tahun 1856 benteng/Fort Cochius berubah menjadi Pupillenschool (Sekolah Taruna Militer) untuk anak-anak Eropa yang lahir di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Benteng/Fort Cochius berubah nama menjadi benteng/Fort Van der Wijck sebagai penghormatan kepada Van der Wijck atas jasanya kepada pemerintah Belanda dalam bidang kemiliteran di Hindia belanda. Kini benteng ini menjadi lokasi wisata yang di musim ramai dikunjungi oleh lebih dari 5000 pengunjung setiap hari. (Diolah dari berbagai sumber)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Pesawat Boeing 737-200 ‘Mendarat’ di Pantai Suwuk Kebumen

prev-next.jpg

Pasar Tumenggungan Kebumen Siap Ditata UIang – 50%

Related posts