3:47 pm - Sabtu Maret 23, 2019

Mujiburrohman : ASWAJA Sebagai Pondasi Berbangsa dan Bernegara

291 Viewed bram 0 respond

Kebumen, 22 Desember 2018. Mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kebumen mengadakan sekolah Ahlussunah Wal Jama’ah (ASWAJA), acara yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Hasani tersebut di ikuti oleh puluhan masahsiswa dari berbagai daerah dengan mengusung tema “ Aswaja sebagai basis intelektual dan Gerakan”.
Ketua panitia sahabat Fahmi Zulfa mengungkapkan bahwa sekolah aswaja yang diselenggarakan oleh Komisariat Nusantara UMNU Kebumen sangatlah penting, sebab masih banyak dikalangan mahasiswa yang belum paham apa itu ASWAJA, walaupun dalam keseharianya mereka secara alamiah sudah menjalankan amalan-amalan aswaja tersebut. Maka harapan besar, setelah peserta mengikuti sekolah aswaja yang di selenggarakan selama empat hari ini, para peserta paham dan mampu mengaktualisasikan nilai-nilai aswaja dalam kehidupanya sehari-hari. Ujarnya’
Sahabat Muhammad Dzikrullah atau yang akrab di sapa Arul selaku ketua cabang PMII Kebumen menambhakan, sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan. Mengingat kebumen sebagai kabupaten beriman dan mayoritas banyak pesantren, maka sekolah aswaja ini perlu di gaungkan baik diruang akademisi, pesantren dan masyarakat dengan tujuan menjadikan kabupaten kebumen benar-benar beriman, tidak hanya sloganya saja akan tetapi mampu terwujudkan melalui pemerintahan yang baik, transparan, dan mampu mensejahterakan masyarakat kebumen, serta mengentaskan kemiskinan yang terjadi saat ini.
Gus Fachrudin Al-hasani selaku Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hasani Jatimalang kebumen, menambahkan bahwa selain di kalangan mahasiswa saya juga sangat berharap di kalangan pondok pesantren juga harus mulai dikenalkan aswaja sebagai basis pengetahuan, yang dimaksud dengan Ahlussunnah waljamaah adalah ; “ Orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW dan mayoritas sahabat ( maa ana alaihi wa ashhabi ), baik di dalam syariat (hukum Islam) maupun akidah dan tasawuf”. Hal ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk mensinergikan pengetahuan agama dan akademis. Sebab sebagai santri walaupun sudah memahami banyak ilmu pengetahuan melalui kitab-kitab yang dikajinya dan mereka juga sudah mengamalkan amalan-amalan penting kiranya sebagai santri harus paham betul agar ketika kembali ke masyarakat mereka betul-betul memahami berbagai aliran yang ada saat ini.
Mujiburrohman salah satu pemateri dari Pengurus Pusat GP Ansor Jakarta mengungkapkan, bahwa Penting bagi PMII sebagai kader muda NU di kalangan Mahasiswa untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai aswaja sebagai pondasi berbangsa dan bernegara.
Sebab didalam nilai-nilai Aswaja terdapat tiga aspek penting sebagai generasi masa depan untuk dipahami, dikaji dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari yakni Aqidah, Syariat, dan Akhlak. Sebab tiga aspek tersebut adalah karakteristik aswaja NU dan aswaja yang lain.
Ia juga menambahkan menurut KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama’ memberikan  tashawur (gambaran)  tentang ahlussunnah waljamaah sebagaimana ditegaskan dalam al-qanun al-asasi, bahwa faham ahlussunnah waljamaah versi Nahdlatul Ulama’ yaitu mengikuti Abu Hasan al-asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi secara teologis, mengikuti salah satu empat madzhab fiqh ( Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali) secara fiqhiyah, dan bertashawuf sebagaimana yang difahami oleh Imam al-Ghazali atau Imam Junaid al-Baghdadi.
Ia menegaskan bahwa harus ada upaya penyamaan presepsi terkait musuh bersama. Karena jika tidak ada musuh atau penciptaan musuh kita itu ayem, seolah tidak ada masalah & terjadi kebingungan gerak. Sehingga kita lupa bahwasanya masih ada upaya terstruktur & masif dari ex organisasi radikal (islam kanan) dalam upaya terhadap rongrongan Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai contoh, ada upaya penyebaran simbol-simbol lafadz tauhidz berbackground hitam pada kalangan islam modernis dengan kemasan baru, seperti dipasang pada topi, ikat kepala, dll atau upaya penyebaran atribut organisasi terlarang . Harus ada upaya perlawanan terutama di dunia media sosial, misal dengan membuat konten dan menyebarkan konten yang melawan islam radikal. Mahasiswa yang tergabung dalam PMII itu sudah bukan waktunya lagi terlalu banyak berteori dan berdiam di ruang perkuliahan, tetapi lebih ke aksi nyata, turun ke jalan, membuat konten medsos dan lain.

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Pasar Sayuran Pereng Lukulo, Sebuah Rintisan

Wisudawan Juga Harus Menjadi Insan Yang Influential

Related posts