7:02 am - Senin Oktober 22, 2018

Peran Strategis Bawaslu Dalam Membangun Pemilu Yang Berintegritas Di Tengah Masyarakat Yang Plural

129 Viewed kebumenn 0 respond
Oleh: Mugiarto
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk atau plural society dari segi etnis, misalnya ada suku melayu dan ada suku Melanesia yang selanjutnya  membentuk seratus suku besar dan 1.072 suku-suku derivative besar dan kecil. Dari segi bahasa, terdapat ratusan bahasa yang digunakan di seluruh wilayah Nusantara. Dari segi pulau yang dihuni, terdapat sekitar 13.000  lingkungan  kehidupan  kepulauan.  Dari  segi  sejarah  politik lokal, terdapat puluhan bahkan ratusan sistem kerajaan kesukuan lama yang berpengaruh terhadap sistem stratifikasi sosial dan adat istiadat setempat sekarang. Dari segi mata pencaharian,  terdapat keragaman antara kehidupan pedesaan  dan  perkotaan.  Dari  segi  agama,  terdapat  sejumlah  agama  besar dunia dan sejumlah sistem kepercayaan lokal yang tersebar diseluruh wilayah Nusantara (Atho  Mudzhar). Oleh karena itu pada  hakikatnya,  bangsa  kita  sebagai  sebuah  masyarakat  heterogen yang  sedang  tumbuh,  tentu  sulit  untuk  mengembangkan  saling  pengertian yang  mendalam  antara  beraneka  ragam  unsur-unsur  etnis,  budaya  daerah bahasa ibu, dan kebudayaannya. Paling tidak tentu saling pengertian tercapai barulah bersifat nominal belaka. Pola hubungan seperti itu dengan sendirinya tidak memiliki daya tahan yang ampuh terhadap berbagai tekanan yang datang dari perkembangan  politik, ekonomi, dan budaya, sehingga kerukunan yang ada hanyalah kondisi yang rapuh.
Dalam sistem demokrasi di Indonesia perbedaan agama, budaya, etnis harus dipahami dengan sikap yang bijak dan arif dari semua pihak tanpa mengunggulkan kelompok sendiri sembari merendahkan kelompok lain. Tiap kelompok masyarakat mempunyai kedudukan yang sama dalam hak dan kewajiban sebagai warga negara dalam membangun Indonesia. Dengan rasa solidaritas, keterbukaan, toleransi dan dialog kita membangun Indonesia yang berdudaya dan beradab, aman dan damai. Menurut Ketua Bawaslu RI Abhan Kehadiran Bawaslu harus punya nilai lebih dalam demokrasi. Tidak hanya sekedar demokrasi prosedural tetapi juga mengawal demokrasi yang substansial menghasilkan pemimpin yang bisa membawa kemajuan, kesejahteraan, keadilan bagi masyarakat. Karena Bawaslu adalah lembaga yang multifungsi. Ibaratnya dalam melakukan pengawasan dihilir, Bawaslu melakukan tugas pengawasan pencegahan, di tengah melakukan tugas penindakan pelanggaran, dan di hulu adalah memutus atau memberikan penyelesaian sengketa proses, tuturnya (Abhan).
Karena di dunia ini hanya ada tiga negara yang memiliki lembaga formal yang khusus dibentuk untuk mengawasi proses tahapan penyelenggaran Pemilu. Tiga Negara tersebut adalah Zimbabwe, Mauritania, dan Indonesia. Dari tiga negara tersebut, Indonesialah yang memiliki lembaga pengawas pemilu yang tertua yakni lahir sejak tahun 1981. Sedangkan Zimbabwe sejak tahun 2008 telah membubarkan lembaga tersebut, dan mengembalikan fungsi pengawasan pemilu kepada masyarakat. Sedangkan Mauritania baru di era 2000an membentuk lembaga pengawasan Pemilu, hal ini dilatarbelakangi adanya tuntutan masyarakat Mauritania untuk diselenggarakannya pemilu yang demokratis. Tuntutan tersebut muncul di Mauritania karena pemerintahan yang ada saat itu adalah pemerintahan Junta Militer yang dibentuk pasca kudeta militer yang berhasil. Sehingga bisa dikatakan Bawaslu merupakan lembaga Pemilu yang khas Indonesia, karena lembaga tersebut pertama kali lahir di Indonesia dan sampai saat ini dipertahankan. Ketiadaan badan  yang secara khusus bertugas untuk mengawasi pemilu di luar ketiga Negara yang disebutkan di atas, bukan berarti praktik pengawasan pemilu tidak dijalankan di Negara-negara lain. Pengawasan Pemilu tetap dijalankan dengan menggunakan model dan skema pengawasan yang berbeda, termasuk lembaga yang ditunjuk untuk melakukan pengawasan pemilu di tiap Negara. Ada Negara yang memberikan fungsi pengawasan pada kementerian hukum beserta jajarannya (Kehakiman dan kejaksaan), ada juga yang meletakan fungsi pengawasan Pemilu manunggal dengan tugas penyelenggaran Pemilu yakni berada di KPU. Di luar lembaga Negara yang melakukan pengawasan yang berperan penting untuk melakukan pengawasan adalah pengawasan partisipatif masyarakat.
Bawaslu berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 tahun 2017 saat ini memiliki kewenangan besar, tidak hanya sebagai pengawas, sekaligus sebagai eksekutor hakim pemutus perkara. Bawaslu harus membuktikan peran dan eksistensi strategisnya mengawal pemilu yang berintegritas bagi kemajuan bangsa. Dalam konteks Indonesia yang plural dengan maraknya politik uang, kampanye hitam dan ujaran kebencian berbau sarah Bawaslu harus mampu menangani persoalan tersebut dengan cepat dan tepat. Biasanya mereka menyebar kebencian lewat media sosial dengan saling menyerang atas nama Agama, suku, ras bahasa dan lainnya. Selain itu, pesta demokrasi yang berbiaya tinggi, tetapi hanya akan menghasilkan pemimpin yang legalitas dan legitimasinya diragukan. Potensi bahaya selanjutnya adalah tumbuhnya konflik politik yang tidak berkesudahan. Pemilu sebagai suatu mekanisme demokrasi sesungguhnya didesain untuk mentransformasikan sifat konflik di masyarakat menjadi ajang politik yang kompetitif dan penuh integritas melalui pemilihan umum yang berjalan lancar, tertib, dan berkualitas.
Disinilah peran Bawaslu sangat strategis dalam membangun demokrasi yang berintegritas di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang plural. Strategis dan signifikan, yakni bagaimana menghindari potensi pelanggaran pemilu muncul dengan menjalankan strategi pencegahan yang optimal. Bawaslu juga diharapkan mampu melakukan penindakan tegas, efektif, dan menjadi hakim pemilu yang adil.  Sehingga  dalam berdemokrasi akan menghasilkan pemimpin-pemimpin berkualitas dan dapat membawa Indonesia menjadi negara yang maju. Yang akhirnya pemilu tidak hanya dimakanai sebagai demokrasi prosedural akan tetapi demokrasi yang subtansial yang membawa kesejahtraan, keadilan bagi masyarakat Indonesia.
(Penulis adalah pengajar di Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen.)
Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Selama Bulan Suci Ramadan, Komunitas Sahabat Romaharmuziy Membagikan Takjil

Related posts