8:40 pm - Selasa September 18, 2018

Menyiapkan Festival Rakyat di Peniron [1]

755 Viewed Masyarakat Karst 0 respond
LANDMARK: Brujul Adventure Park (BAP) di Desa Peniron, Pejagoan Kebumen [Foto: Taufiq H]
Oleh: Tim Investigasi KebumenNews

Tak ada yang bisa menyurutkan langkah untuk sampai ke ketinggian perbukitan Brujul siang itu, meski gelayut mendung tebal telah merata. Jelas ini pertanda hujan menjelang. Dan untuk sampai ke paparan bukit dimana hutan pinus selalu membisikkan simfoni alam dari tiupan angin di sela kerindangannya; mesti melewati akses yang tersedia. Trek sepanjang 1 kilometer berupa jalanan menanjak terbayang licinnya jika hujan telah mengguyur tiba. Tetapi bagi sebagian pengunjung, ini malah menjanjikan tantangan tersendiri.

Perbukitan Brujul memang telah lama dikenal, terutama oleh masyarakat Desa Peniron dan sekitarnya seperti Watulawang, Karangrejo, Kebakalan, Logandu, Clapar; sebagai sebuah bukit dengan hutan pinus produktif seluas 100 hektar. Puncak Brujul sendiri berada pada ketinggian 428 mpdl, menandai cakupan 2 wilayah kecamatan yang berbeda; Pejagoan dan Karanggayam meski posisi geografis Brujul sendiri berada di Desa Peniron, Pejagoan hulu yang didominasi perbukitan. Wilayah kecamatan ini dibatasi DAS (Daerah Aliran Sungai) Lukulo di sisi timurnya yang berbatasan dengan Karangsambung dan Kebumen sendiri.

PENGUNJUNG: Pengunjung wisata desa di kompleks “Brujul Adventure Park” menapaki jalanan menuju hulu perbukitan. [Photo: Taufiq H]

Di mata Taufiq Hidayat, 36, salah satu penggagas “Brujul Adventure Park” dari elemen angkatan muda desa, membaca ini sebagai potensi awal untuk memulai ibadah sosialnya. Berbulan-bulan ayah 3 anak ini membangun kepedulian dan mendorong warga sekitarnya untuk rintisan mengelola potensi desanya.

“Banyak sekali rintangan dan besar pula tantangannya”, ujarnya berkisah.

Sebuah rintisan obyek wisata “Brujul Adventure Park” pun muncul di tengah kemauan kuat untuk membaca potensi, menggali dan mengembangkan entitas masyarakat agraris dimana mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani, berkebun atau sektor-sektor informal lainnya. Sebagian yang lain memilih bekerja di sektor industri dan jasa dengan bermigrasi ke kota-kota besar lain. Lantaran perdesaan dianggap tak menjanjikan kesejahteraan dan masa depan cerah; ia ditinggalkan. Pilihan menjadi buruh migran perkotaan merupakan magnet kalangan muda karenanya.

Tetapi fenomena umum perdesaan seperti ini tak berlaku absolut di Peniron. Banyak angkatan muda di desa itu memilih tinggal untuk mengelola potensi kampung halamannya. Gambaran situasi obyektif demikian ini melatar-belakangi ide-ide besar untuk bagaimana “membangun dan memunculkan” desa kelahiran sebagai icon wisata yang layak kunjungan. Dan kemunculan obyek wisata “Brujul Adventure Park” berbenah untuk menjadi salah satu pilihan alternatifnya.

OUTBOND: Tipografi “Brujul Adventure Park” yang luasannya sekitar 100 hektar berupa hutan pinus dan sebagian jati, memungkinkan untuk aktivitas hiking yang menyehatkan [Foto: Taufik H]

Pre-pair Festival Kampung “Happy” di Desa Wisata  

Dukungan awal bagi ide penyelenggaraan festival kampung di desa wisata Peniron pun berkembang melalui penelusuran awal tim investigasi KebumenNews. Dalam penelusurannya tim mengidentifikasi keberadaan komunitas-komunitas yang survife di tengah gempuran arus kebudayaan milenial hari ini.

Desa Peniron memayungi 8 dusun dalam wilayah administrasi dan geografisnya, meliputi dusun-dusun: Krajan, Rayung, Klapasawit, Jati, Bak, Watucagak, Bulugantung, dan Perkutukan. Dari tlatah 8 dusun ini terdapat 17 pedukuhan masing-masing: Kalipancur, Kalikarag, Krajan, Karangmangu, Rayung, Panongan, Klapasawit, Jati, Karangmangu Kulon, Tegong, Silampeng, Kalimacan, Curug, Cinde, Sibango, Pranji, Watucagak, Jetis, Karangduren, Geblug, Watupecah, Jlarang dan Perkutukan.

 

KEBUN KLENGKENG: Desa Peniron terus berbenah dan melengkapi pilihan destinasi wisata dengan pembukaan kebun klengkeng di pedukuhan Cinde [Foto: Taufik H]

Di sela aktivitas harian masyarakat tradisi dengan corak budaya agraris yang kuat ini tumbuh pula banyak komunitas berkesenian yang terjaga eksistensinya. Ada komunitas kesenian wayang kulit, jamjaneng, jidur slawatan, mentiet jemblung, hadroh, rebana, ebleg serta dangsak cepetan. Namun di luar seni tradisi ini, kesenian modern juga mendapat tempat di sana, ada kelompok band yang dihidupkan kawula muda desa.

Sebagai desa bercorak kebudayaan agraris, di Peniron terdapat pula tradisi ritual desa yang perhelatannya dilangsungkan secara turun temurun. Ada ritual Merdi Bumi, Ruwat Bumi dan Ruwat Dhadhung. Hampir semua ritual tradisi ini digelar perhelatannya di bulan Asyura’, bulan permulaan dalam almanak Jawa.

“Dari persiapan hingga pelaksanaan ritual, semua dimusyawarah”, terang pak Tris.

Pak Tris atau Sutrisno, 53, adalah Ketua Rt.03 Rw. 01 Desa Peniron; bertutur banyak saat ditemui KebumenNews perihal tradisi-tradisi kampungnya yang terpelihara hingga kini.  Ritual-ritual kampung, menurutnya, dapat menjadi perekat sosial yang menyatukan kerukunan warga lintas pedukuhan.

Prinsip kerukunan menjadi sikap bersama yang dijunjung baik oleh aparatus desa maupun warga seluruhnya di Peniron.

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Menata Karst Gombong; Fungsi Lindung Yang Diusung

Hujan Lebat Robohkan Pohon di Prembun

Related posts