3:29 pm - Senin Juni 19, 0254

Sejarah Dibalik Keindahan Brujul

751 Viewed Puji Sugianto 0 respond

Kebumennews (11/9) >> Sudah tidak asing lagi saat kita mendengar obyek wisata Brujul Adventure Park (BAP). Wisata yang di rintis masyarakat desa Peniron kecamatan Pejagoan kini menjadi primadona setelah di buka pada tanggal 30 April 2017. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya pengunjung lokal Kebumen maupun pengunjung dari luar Kebumen, apalagi pada hari libur.

Area hutan gunung Brujul sebelum ditanami pohon pinus oleh Perhutani merupakan lahan pegunungan milik negara yang sebagian dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk bercocok tanam, seperti singkong dan palawija. Sebagian lagi merupakan hutan belukar dan pohon-pohon besar seperti pohon jati, sengon, albasia. Bahkan pada era tahun 80-an warga masih sempat menanam padi gaga (merupakan jenis tanaman padi yang mampu tumbuh pada tanah kering).

“Seperti kebanyakan masyarakat jawa menamakan suatu daerah dengan hal yang dilakukan atau apa yang terjadi. Demikian juga dengan Brujul yang memiliki tiga nama, diantaranya gunung Srandil, gunung Gadung dan gunung Brujul”, papar pengelola Toufik Hidayat (45) saat ditemui oleh Kebumen news

Dalam peta topografi nama lain gunung Brujul adalah gunung Srandil, sedangkan nama gunung Gadung dikarenakan banyak tumbuh tanaman gadung hingga sekarang. Nama Brujul sendiri menurut salah satu versi masyarakat diambil dari kata mbrujul atau mluku yang berarti membajak tanah. Versi lainya mengatakan karena banyaknya batu yang muncul atau mbrojol atau mbrujul.

Batu batu besar yang kini berada diarea Brujul pun memiliki cerita rakyat. Dahulu ada seseorang yang sakti hendak meninggikan gunung dalam satu malam. Batu batu tersebut digiring dari bawah, namun gagal karena matahari telah terbit sebelum pekerjaanya selesai, dan batu batu itu pun berhenti di tempat masing masing hingga sekarang.

Selain cerita rakyat, Brujul juga diwarnai oleh cerita-cerita mistik. Menurut cerita Brujul dihuni oleh para dedengkot makhluk kasat mata dan anak buahnya. Ada tempat-tempat tertentu yang kini disakralkan seperti watu tumpang, watu tumpeng, watu pasujudan. Bahkan Pangeran Diponegoro dahulu pernah singgah untuk bersemedi. (KN07)

 

 

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

UMNU Kebumen Gelar Diklat Kridatama, Reinventing Karakter Pemuda Indonesia

Jangan Remehkan Kemampuan Penyandang Difabel

Related posts