12:20 am - Selasa Juli 17, 2018

Ketika Rakyat [berani] Hentikan Pidato Pejabat

700 Viewed Masyarakat Karst 0 respond
HARI JADI PERPAG: Semarak peringatan 2 Tahun (14/8) Persatuan Rakyat Penyelamat Karst Gombong selatan (PERPAG) diperingati di Dusun Karangkamal, Desa Sikayu; dekat kompleks Gua Banteng-Cocor. Pada kesempatan ini panitia sempat menghentikan pidato pejabat yang berkepanjangan tapi tak menyentuh substansi peringatan [Foto: K.04]

Ketika rakyat memperingati hari kemandiriannya dan di dalam peringatan itu aparat pemerintah yang diundang semata memanfaatkannya untuk kepentingan melakukan “sosialisasi” kegiatan pemerintahan. Maka ada sebuah simpul ironi yang menunjukkan bahwa rupanya selama ini masyarakat lah yang harus selalu mendengarkan pemerintah; bukan sebaliknya…

Insiden ini mungkin sepele kelihatannya. Tetapi, sungguh, amat sangat menyayat wilayah kedaulatan dalam memanfaatkan ruang demokrasi rakyat. Seakan masyarakat lah yang harus selalu menuruti pemerintah dengan segala kemauan, aturan dan “program-program”nya. Sementara dalam konteks ini, konteks dimana Persatuan Rakyat Penyelamat Karst Gombong (PERPAG) tengah menggelar peringatan hari jadi organisasinya; hal substansial yang tengah dituntut masyarakat malah telah sama sekali diabaikan.
Sakit memang. Tetapi untungnya masyarakat telah sampai pada fase kesedaran maju untuk tak mau terus-menerus dibodohi dan dibohongi. Sehingga ketika pejabat dari kecamatan (dan juga dari kabupaten) itu berpidato mengular namun menjauh dari substansi peringatan, panitia bertindak sigap menghentikannya.
POTONG TUMPENG: Ketua PERPAG, H. Samtilar menyerahkan potongan tumpeng kepada anak-anak Desa Sikayu pada pagi hari  sebelum peringatan hari jadi 2 Tahun PERPAG digelar (14/8). "Perjuangan menjaga ekologi karst harus dilanjutkan oleh anak-cucu Desa Sikayu", kata H. Samtilar [Foto: K.04]

POTONG TUMPENG: Ketua PERPAG, H. Samtilar menyerahkan potongan tumpeng kepada anak-anak Desa Sikayu pada pagi hari sebelum peringatan hari jadi 2 Tahun PERPAG digelar (14/8). “Perjuangan menjaga ekologi karst harus dilanjutkan oleh anak-cucu Desa Sikayu”, kata H. Samtilar [Foto: K.04]

Perpag 2 Tahun, Sebuah Catatan
Sudah lebih dari dua tahun Masyarakat Karst Gombong Selatan bertahan membangun resistensi dari upaya dan rencana penambangan pabrik semen yang nyata berpotensi mengancam tiang penyangga kehidupan atas ekosistem karst yang telah menaungi kehidupan seluruh mahluk hidup di dalamnya dan makhluk hidup di sekitarnya.
Sejak ditetapkannya kawasan KBAK menjadi kawasan budidaya pada tahun 2014 dengan ditetapkannya putusan Mentri ESDM No. 3873 K/40/MEM/2014 yang diikuti permohonan pengajuan Izin Lingkungan (AMDAL) Pt Semen Gombong pada tahun 2016 dimana telah memicu keresahan masyarakat yang bermuara pada protes.
PROFIL KBAK: Foto faktual profil KBAK Gombong Selatan yang didominasi jenis "karst terumbu" terancam eksploitasi tambang semen. Gambar diambil saat ribuan warga di sekitar kawasan itu menggelar aksi tanam pohon 27.000 batang untuk menghijaukan kawasan [Foto: Yatno PW]

PROFIL KBAK: Foto faktual profil KBAK Gombong Selatan yang didominasi jenis “karst terumbu” terancam eksploitasi tambang semen. Gambar diambil saat ribuan warga di sekitar kawasan itu menggelar aksi tanam pohon 27.000 batang untuk menghijaukan kawasan [Foto: Yatno PW]

Meski hasil sidang AMDAL tersebut telah dinyatakan tidak layak namun masyarakat masih mempertanyakan sikap Pemerintah Daerah yang sampai saat ini terkesan membiarkan KBAK Gombong Selatan terancam oleh bias peruntukannya sebagai calon areal tambang semen.
Berbagai upaya litigasi yang menemui jalan buntu telah dilakukan masyarakat dengan meminta kawasan budi daya seksploitasi tambang tersebut agar dikembalikan menjadi kawasan KBAK yang utuh. Sehingga terbebas dari rencana penambangan, Pemerintah Daerah Kebumen bersikeras bahwa proses perubahan KBAK Gombong Selatan telah sesuai prosedur yang berlaku, meski tanpa pertimbangan teknis keilmuan dan keilmiahan berdasarkan fakta-fakta di lapangan.
Mengacu pada pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, maka kawasan karst perlu mendapat perhatian yang serius dalam upaya mencapai keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestariannya, diperlukan suatu keterpaduan kebijakan, strategi dan rencana aksi pengelolaan lingkungan kawasan karst sebagai potensi daerah, nasional dan internasional yang dilengkapi dengan perangkat hukum dan penegakkan hukum dalam melakukan penyidikan dan penuntutan bagi penyelesaian kasus-kasus kerusakan lingkungan di kawasan karst.
AKSI EKOLOGI: Selain gencar berdemonstrasi, masyarakat di kawasan karst Gombong selatan juga melaksanakan Aksi Tanam Pohon berkelanjutan di KBAK Gombong Selatan [Foto: Yatno PW]

AKSI EKOLOGI: Selain gencar berdemonstrasi, masyarakat di kawasan karst Gombong selatan juga melaksanakan Aksi Tanam Pohon berkelanjutan di KBAK Gombong Selatan [Foto: Yatno PW]

Peringatan Tentang Eco-Karst
Pada 6 Desember 2004, Presiden Republik Indonesia telah meresmikan kawasan karst Gunung Kidul dan kawasan karst Gombong Selatan ini sebagai kawasan Eco-Karst. Penetapannya waktu itu dilaksanakan di Wonosari Gunung Kidul.
Namun tetap saja segala bentuk legitimasi formal eco-karst tidak dapat menjamin kelestarian kawasan karst Gombong Selatan karena Pemkab Kebumen yang seharusnya bertanggung-jawab atas kelestarian kawasan tersebut justru menelantarkan dan membiarkan dirusak oleh aktivitas penambangan ilegal. Ihwal penambangan ilegal ini memang telah berlangsung belasan tahun. Bahkan juga dengan pelibatan alat berat.
Alih-alih melakukan tindakan sesuai otoritasnya, namun pembiaran atas aktivitas tambang tradisional ilegal ini malah terkesan supaya ada dalih lain bahwa kawasan eco-karst telah tergerus rusak dengan sendirinya. Sehingga kini diasumsikan telah layak waktu dimana sebagian zona itu boleh dikeluarkan dari KBAK agar dapat ditambang sebagai bahan baku semen. Warisan ekologi alam telah dijadikan objek sasaran profit instant demi alasan meningkatkan pembangunan ekonomi daerah. Tapi paradoks dengan cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Kawasan karst merupakan sumberdaya alam yang tidak terbarukan (non-renewable) dan mudah rusak. Sekali telah rusak tidak dapat dipulihkan (unretrievable) dan rentan terhadap pencemaran. Namun kawasan karst ini merupakan sumberdaya alam yang memiliki berbagai nilai strategis antara lain nilai ekonomi, ekologi, kemanusiaan, budaya estetika dan sains keilmuan. Yang pelestariannya tak cukup dengan retorika dan slogan.

 

KENDURI: Anak-anak SD Sikayu tengah menikmati nasi kenduri pada pagi hari (14/8) menjelang dihelatnya Peringatan 2 Tahun Hari Jadi PERPAG di Dukuh Karangkamal, Desa Sikayu [Foto: K.04]

KENDURI: Anak-anak SD Sikayu tengah menikmati nasi kenduri pada pagi hari (14/8) menjelang dihelatnya Peringatan 2 Tahun Hari Jadi PERPAG di Dukuh Karangkamal, Desa Sikayu [Foto: K.04]

Penyelamatan Bumi dari Lingkungan
Lebih dari sekedar berkampanye, PERPAG dan masyarakat bersepakat untuk membagun suatu tradisi aksi bersama. Membangun penyelamatan lingkungan, merintis desa sebagai destinasi wisata, melaksanakan aksi penghijauan, dan sebagainya. Termasuk dalam dalam konteks ini, melakukan upaya menangkal segala macam bentuk kampanye, sosialisasi yang justru merupakan pembodohan dengan janji-janji kesejahteraan konsesi dari tambang semen.
Janji-janji kesejahteraan seperti ini, sering kali, justru bersinergi dengan selubung investasi yang digencarkan pemerintah. Masyarakat karst tak menolak investasi. Tapi jika investasi yang didukung pemerintah itu berpotensi merusak ekologi; maka (kerusakan_Red) itu yang ditentangnya. Penetapan formal kawasan sebagai Eco-Karst pun tak bermakna apa-apa manakala masyarakat sekitar tak tergerak untuk selalu menjaga dan merawatnya.
Itu sebabnya, pidato mengular aparatus pemerintah di event peringatan Hari Jadi 2 Tahun Perpag; dihentikan masyarakat.
Karena bagaimanapun sesederhananya pemikiran masyarakat yang mayoritas adalah petani (yang dikonotasikan bodoh_Red) mengetahui betul dan bahkan memahami bahwa penambangan pada hakikatnya bertujuan untuk merampas hak asasi mereka dan mengancam ruang hidup bersama serta keutuhan sosial masyarakat perdesaan yang sudah menjadi entitas tradisional secara turun-temurun.
EBEG: Perempuan Desa Sikayu menggelar pentas kesenian tradisi "Ebeg" pada (14/8) pagi hari menjelang peringatan 2 Tahun Hari Jadi Perpag [Foto: K.04]

EBEG: Perempuan Desa Sikayu menggelar pentas kesenian tradisi “Ebeg” pada (14/8) pagi hari menjelang peringatan 2 Tahun Hari Jadi Perpag [Foto: K.04]

Peringatan hari jadi PERPAG yang ke-2 (14/8) diikuti oleh sedikitnya 17 organisasi, mahasiwa, aktivist Caving, pemerhati lingkungan dan kelompok masyarakat seperti dari Jaringan Masyarakat Peduli Kawasan Kendeng (JM-PPK), Walhi, LBH, Paguyuban Petani Lahan Pesisir Kulon Progo (PPLP-KP), warga pesisir Urut Sewu Kebumen selatan, Paguyuban Warga Penolak Penggusuran (PWPP-Temon,KulonProgo), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Front Mahasiswa Nasional (FMN), Seruni, PMII, Banser NU Kecamatan Buayan, beserta sekitar 1.500 warga masyarakat karst Gombong selatan dari beberapa desa di Kecamatan Buayan, Ayah dan Rowokele. [K.04]
SEMARAK: Semarak peringatan Hari Jadi 2 Tahun PERPAG di Dukuh Karangkamal, Desa Sikayu, Kecamatan Buayan, Kebumen (14/8) dihadiri oleh tak kurang dari 1.500 warga [Foto: K.04]

SEMARAK: Semarak peringatan Hari Jadi 2 Tahun PERPAG di Dukuh Karangkamal, Desa Sikayu, Kecamatan Buayan, Kebumen (14/8) dihadiri oleh tak kurang dari 1.500 warga [Foto: K.04]

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Semarak Workshop Film untuk Pelajar Kebumen

Pentingnya Pendidikan Demokrasi dan Politik Bagi Masyarakat

Related posts