3:34 pm - Minggu Agustus 16, 7350

Menguatkan Kesadaran Orangtua dalam Pendidikan Anak Usia Tamyiz

315 Viewed bram 0 respond

Dalam agama Islam, usia tamyiz diartikan sebagai usia anak yang telah mampu membedakan antara yang baik dan buruk. Dalam kajian fiqih, anak usia 7 tahun yang telah mampu membedakan antara yang baik dan buruk, serta memahami manfaat dan tidaknya suatu tindakan dinamakan usia tamyiz. Selain itu, dalam hukum syariat Islam dijelaskan bahwa usia tamyiz mempunyai perbedaan dari usia sebelumnya. Anak yang memasuki usia tamyiz mempunyai hak, kedudukan, dan peran hukum yang telah dipisahkan dari pembinaan orangtua. Dalam usia ini, anak telah memiliki tanggung jawab yang harus dikerjakan setulus mungkin. Fakta ini didukung dari hadist Rasulullah SAW yang berbunyi, “Perintahkanlah anak-anakmu shalat pada umur tujuh tahun dan pukullah atas hal tersebut jika telah berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah mereka dari tempat tidurnya.”

Dari pengertian usia tamyiz yang didukung oleh hadist Rasulullah SAW di atas, dapat dikatakan usia tamyiz adalah usia yang rawan akan penyelewengan sikap anak. Usia tamyiz sangat menentukan kepribadian dan karakter anak di masa depan. Dalam hal ini, orangtua dituntut untuk menguatkan perannya dalam menentukan pendidikan anak. Orangtua harus disiplin dalam memberikan pendidikan, terutama pendidikan agama. Kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslim harus disampaikan, seperti shalat, puasa, dan yang lainnya.

Setelah orangtua mengetahui pentingnya peran mereka dalam usia tamyiz, bentuk-bentuk dan ciri-ciri pendidikan yang ideal bagi anak usia tamyiz harus dirumuskan. Perumusan ini harus dilakukan dengan hati-hati. Penulis merumuskan 3 bentuk pendidikan untuk anak usia tamyiz yang relevan diterapkan di masyarakat, yaitu melakukan pendekatan secara berkala dalam memperkenalkan dan menanamkan kewajiban seorang muslim, secara konsisten memberikan nasehat bernuansa Islami disertai hukumnya dalam Islam, dan tidak memberikan hukuman fisik kepada anak yang melanggar aturan dan perintah agama. Ketiga bentuk pendidikan untuk anak usia tamyiz di atas sangat efektif diterapkan di lingkungan masyarakat karena menunjang dan terbukti menghasilkan generasi yang memiliki karakter yang Islami.

Pertama, melakukan pendekatan secara berkala dalam memperkenalkan dan menanamkan kewajiban seorang muslim. Metode ini memang terdengar sulit dilakukan oleh orangtua karena membutuhkan waktu yang lama bagi orangtua untuk mengajarkan sedikit demi sedikit kewajiban yang harus dilakukan seorang muslim. Kewajiban seorang muslim seperti shalat, puasa, dan yang lainnya harus diperkenalkan dan disosialisasikan kepada anak secara berkala.

Hal yang terpenting dalam periode perkenalan dengan kewajiban seorang muslim adalah menjelaskan tentang identitas seorang muslim dan identitas Allah SWT selaku Maha Pencipta. Tujuan dari sosialisasi ini adalah menumbuhkan rasa takut kepada Allah SWT. Maksud dari menumbuhkan rasa takut kepada Allah SWT adalah anak akan berpikir berulang kali saat akan melakukan tindakan yang melanggar norma dan aturan agama. Dalam Al-Quran Surat Luqman ayat 16 yang berbunyi, “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah SWT akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah SWT Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” Surat Luqman ayat 16 menjelaskan bahwa perbuatan apa pun, baik buruk dan baik akan dicatat dan akan menerima balasannya di akhirat nanti.

Seperti yang tertuang dalam Surat Luqman ayat 16 di atas, orangtua seharusnya menanamkan kesadaran kepada anak bahwa tindakan yang mereka lakukan akan memperoleh balasan. Adanya sosialisasi mengenai ayat ini, di masa depan anak akan terbiasa mempertimbangkan setiap tindakannya.

Selain itu, orangtua tidak berlebihan jika menargetkan anaknya untuk mampu membaca Al-Quran. Membaca Al-Quran sendiri adalah ibadah yang paling mulia di mata Allah SWT. Terdapat sebuah hadist yang berbunyi, “Sebaik-baiknya ibadah umatku adalah membaca Al-Quran.” Orangtua di sini mempunyai peranan yang penting dalam mengajari anak cara membaca Al-Quran yang baik dan benar. Orangtua juga harus menjelaskan pahala-pahala dari membaca Al-Quran. Pahala membaca Al-Quran sangat tinggi, yaitu bagi orang yang membaca Al-Quran di dalam shalat jika berdiri mendapat 100 kebaikan setiap hurufnya, jika sambil duduk setiap huruf mendapatkan 50 kebaikan setiap hurufnya, jika di luar shalat dan berwudhu mendapatkan 25 kebaikan setiap hurufnya, dan jika tidak berwudhu mendapat 10 kebaikan setiap hurufnya. Melihat pahala yang berlimpah ini, orangtua memang harus menargetkan anaknya mampu membaca Al-Quran.

Kedua, secara konsisten memberikan nasehat bernuansa Islami disertai hukumnya dalam Islam. Anak seringkali melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hukum Islam, contoh kecilnya dalam hal makan. Anak seringkali makan sambil berdiri dan menurut hukum Islam, makan sambil berdiri dilarang. Terdapat hadist mengenai adab makan, yaitu yang artinya, “Janganlah kamu makan dan minum sambil berdiri.”

Nasehat-nasehat yang diberikan kepada anak oleh orangtua dalam hal ini merupakan pendidikan secara terencana. Setiap hari orangtua bisa memberi nasehat disertai hukumnya dalam Islam. Masih banyak tindakan-tindakan kecil yang sering dilakukan oleh anak dan belum tentu tindakan itu benar menurut hukum Islam. Orangtua di sini berperan sebagai penasehat dan pelurus.

Ketiga, tidak memberikan hukuman fisik kepada anak yang melanggar aturan dan perintah agama. Orangtua seringkali kehilangan kendali saat anak berbuat salah. Sebagai contoh ketika anak tidak mau menjalankan ibadah shalat, orangtua pasti akan marah. Kemarahan orangtua seharusnya dapat dikontrol dan sebijak mungkin tidak memberikan hukuman fisik kepada anak. Orangtua bisa mencari alternatif yang lain agar anak mau menjalankan ibadah shalat. Contohnya orangtua bisa menjelaskan keutamaan shalat bagi kaum muslim atau menceritakan kisah Rasulullah SAW dalam menerima perintah shalat dari Allah SWT. Dengan menggunakan cara yang halus dan lembut, hati anak akan luluh dan mau menjalankan ibadah shalat.

Memberikan hukuman fisik justru memperkeruh keadaan. Anak bisa lebih membangkang dan semakin terjerumus ke dalam lubang keburukan. Orangtua memang harus sabar dalam menghadapi permasalahan seperti ini dan orangtua harus memaklumi tindakan anak karena mereka masih dalam tahap pembelajaran.

Simpulan; Ketiga bentuk pendidikan untuk anak usia tamyiz yang telah disebutkan di atas sebaiknya diterapkan oleh orangtua kepada anaknya. Selain itu, orangtua harus sadar dan terus menguatkan peran mereka dalam pendidikan anak. Anak adalah harta yang paling berharga di dunia ini dan terkait pendidikan bagi anak menjadi hal yang krusial dan tidak bisa diremehkan. Ingatlah bahwa masa depan anak berada di tangan orangtua.

Oleh : Umi Salamah ( Mahasiswa IAINU Kebumen)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

PAUD PENCETAK “GENERASI EMAS”

Gelar Parenting PAUD “Bina Insani” Kebumen