8:34 pm - Selasa Juli 17, 2018

Jaringan Gusdurian Kebumen dan NKRI Harga Mati

362 Viewed Masyarakat Karst 0 respond

Catatan “Among-Among Pancasila”

Belakangan makin sering ekspose semboyan “NKRI Harga Mati” yang terkesan digaungkan secara terus-menerus dan dimana-mana, tak terkecuali, pada sebuah acara lokal yang digelar di auditorium IAINU Kebumen, Rabu (24/5) bertema “Among-Among Pancasila” dengan slogan lebih imut “Bareng-bareng Nirakati NKRI” pula.

Pertanyaan sayupnya adalah: Apakah “NKRI Harga Mati” itu benar berdiri di atas kemerdekaan, kesetaraan dan keadilan bagi semua? Barangkali memang Jaringan GusDurian Kebumen, penyelenggara acara di IAINU itu; punya jawaban diplomatisnya.

Padahal di dalam “orasi” sambutannya, Lurah GusDurian Kebumen, seorang yang tengah sengkud belajar jadi antropoloog Ahmad Murtajib malam itu melansir yel-yel “Siapa Kita..?” yang dijawab dengan “Indonesia” dan “Pancasila..” disambut dengan pekik gemuruh “Jaya”. Tetap saja yel-yel ini surut oleh bias semboyan “NKRI.. Harga Mati”.

Di tengah gelaran “Among-among Pancasila” malam itu juga tak lewat diperdengarkan telefon tausyiah dari putri mendingan Gus Dur, yakni Alissa Wahid yang tengah dalam perjalanan Solonya; yang cukup menghipnotis sekitar seribuan audiensi yang memadati aula IAINU Kebumen.

 

“NKRI Harga Mati” Sebuah Distorsi?

Konsep slogan “NKRI Harga Mati” secara antropologis layak dipertanyakan ulang kemunculannya. Semboyan ini muncul bukan sebagai jawaban atas gelombang sektarianisme agama dan politik rasisme; bukan sebagai rasionalitas tandingan bagi kampanye fasis.[1]

Konsep slogan ini muncul, meskipun yang sedang dibela adalah kebhinekaan, walaupun yang dilawan adalah kelompok-kelompok intoleran terorganisir dan Islamic Trans-Nasional; tetapi kemunculannya acap kali direproduksi untuk menjustifikasi aksi-aksi militeristik di berbagai daerah yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.

Slogan “NKRI Harga Mati” secara konseptual sering kali jadi dalih buat membunuhi pemuda Papua Barat hari ini, memperkosa perempuan Aceh semasa DOM, membedil ratusan demonstran muslim Tanjung Priok; sekaligus didalihkan untuk mengiringi mitos-mitos pekok dalam fitnah kebangkitan komunis belakangan ini.

Slogan semacam itu dalam perkembangannya telah bias legitimasi menjadi semacam genderang perang yang sedikit lebih halus dari jargon oportunis “NKRI Bersyariah” yang menghamilkan pesan tersirat bahwa: Barangsiapa menolak NKRI, berarti menentang Syariah; dan barangsiapa yang menolak Syariah, artinya menentang NKRI.

Dalam konteks memelihara spirit kebhinekaan sebagaimana yang digagas dan telah digelar Jaringan GusDurian Kebumen (24/5) lalu; tentu semua ini sangat layak menjadi refleksi dan kajian penting [ap]

___

[1] Lihat, Windu Jusuf, Bahaya “NKRI Harga Mati” vs Sentimen “Anti Cina”; Tirto.Id https://tirto.id/bahaya-nkri-harga-mati-vs-sentimen-anti-cina-co8n

 

 

 

 

 

 

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Dugaan Rekayasa KBAK Gombong Selatan Dilaporkan ke KPK

Wisata Brujul Adventure Menyipan Cerita Yang Unik” Testimoni Kuliah Satu Jam Bersama Mahasiswa”

Related posts