11:35 pm - Senin Juli 16, 2018

Pelajar Kebumen Raih Penghargaan Di Malang ” Kisah Petani Urut Sewu”

330 Viewed bram 0 respond

Film Dokumenter berjudul URUT SEWU BERCERITA kembali raih penghargaan. Setelah sebelumnya mendapat penghaargaan sebagai Dokumenter Terbaik dalam ajang Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) 2016 kini film tersebut diganjar sebagai film Dokumenter Terbaik dalam ajang MALANG FILM FESTIVAL (Mafi Fest) 2017. Kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun di Universitas Muhammadiyah Malang ini memberikan penghargaan kepada para sineas dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Ada 4 peraih penghargaan dalam kegiatan Mafi Fest pada tahun ini. Diantaranya adalah : Film dengan judul “Sedeng Sang” karya Mohammad Reza Fahriansyah raih penghargaan Film Fiksi Terbaik kategori Mahasiswa, film berjudul”Uncle S” karya Panca Rafel & Bayu Prabowo raih penghargaan Film Fiksi Terbaik kategori pelajar. Kemudian film berjudul “Immadudin” karya Amanda Paramitha raih penghargaan Dokumenter Terbaik kategori mahasiswa, serta film berjudul “Urut Sewu Bercerita” karya Dewi Nur Aeni dari SMKN1 Kebumen raih penghargaan Dokumenter Terbaik kategori pelajar. Ada 2 film Dokumenter karya pelajar Kebumen yang turut meramaikan gelaran Mafi Fest tahun ini. Selain film Urut Sewu Bercerita, ada juga film berjudul Kethek karya Agustina Nurtika, yang masuk sebagai nominator dalam event Mafi Fest ini. Film ini menceritakan tentang pembuat makanan tradisional di Kebumen.

Kisahkan Petani Urut Sewu

Film URUT SEWU BERCERITA ini digarap oleh pelajar Kebumen pada saat mengikuti masa Prakerin di TBM Sangkanparan Cilacap pada Juli-September 2016. Film yang mengupas tentang arogansi TNI terhadap petani di pesisir pantai Urut Sewu ini melibatkan banyak narasumber. Salah satunya adalah mbak Rohani, perempuan yang sempat ditendang oleh TNI saat dirinya hamil 5 bulan ini menceritakan kisah yang terjadi. Sementara itu warga lain dan juga beberapa kepala desa juga turut menjadi narasumber dalam film ini, sehingga membuat film ini cukup bercerita tentang kisah kelam yang dialamai oleh warga di pesisir Urut Sewu.

Dewi Nur Aeni, selaku sutradara menyatakan keprihatinannya terhadap persoalan yang tak kunjung berakhir ini. Oleh sebab itu ia mencoba mengangkatnya menjadi sebuah film, agar masyarakat menjadi mengerti apa yang terjadi di Urut Sewu. “Persoalan perebutan tanah di Urut Sewu ini sudah lama terjadi, tapi sampai sekarang belum ada titik terang. Warga selalu saja jadi korban. Tak hanya korban materiil tapi juga fisik, karena TNI melakukan kekerasan terhadap warga. ” ungkap gadis berkerudung yang bersekolah di SMKN1 Kebumen ini.

Sementara itu, Insan Indah Pribadi dari Sangkanparan Cilacap menjelaskan, film ini digarap oleh para pelajar Kebumen. Dari riset, pengambilan gambar, penyutradaraan sampai proses editing dilakukan oleh pelajar. Komunitas Sangkanparan hanya memfasilitasi dan mendampingi proses kreatif tersebut. Prestasi yang diraih para pelajar dalam event Festival tentu sangat membanggakan, karena film tersebut adalah karya pelajar, mereka berhak merayakan kemenangan mereka. Tapi sebenarnya yang terpenting adalah, bagaimana proses kreatif yang melibatkan banyak orang tersebut bisa berguna bagi masyarakatluas. “Saya berharap, film ini bisa berguna bagi masyarakat di seluruh Indonesia, dan pesan yang disampaikan oleh sutradara dapat tersampaikan, sehingga ada kepedulian bagi masyarakat diluar sana untuk bersama-sama mencari solusi yang terbaik. ” ungkap Insan Indah Pribadi.

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

17 Ribu Kader NU, Ikuti Apel Akbar Kesetiaan Terhadap NU dan NKRI di Petanahan

Tanggul Sungai Wadaslintang Jebol di Butuhkan Segara Bantuan

Related posts