3:29 pm - Rabu Juni 19, 9146

Pembangunan PLTU Batubara Rugikan Nelayan

474 Viewed Masyarakat Karst 0 respond
AKSI NELAYAN: Nelayan Batang melakukan aksi penolakan pembangunan PLTU berenergi kotor batubara, di perairan Jawa [Foto: Uli]

Batang – Puluhan perahu nelayan hari ini mengepung proyek pembangunan PLTU Batang di tengah laut untuk memprotes berbagai kerugian yang mereka alami sejak dimulainya pembangunan PLTU Batubara. Berbagai keluhan kerugian dan berkurangnya hasil tangkapan sudah mulai dirasakan oleh nelayan dari hari ke hari.

Kegiatan pengerukan yang dimulai sejak 2016 menyisakan timbunan lumpur berton-ton tiap harinya yang selalu dibuang sembarangan di tengah laut; di area-area dimana nelayan biasa mencari ikan dan udang. Timbunan lumpur yang menggunung di banyak titik di dasar laut juga membuat perangkat melaut nelayan sering tersangkut dan rusak. Selain itu material sisa diduga dibuang tanpa rasa tanggung jawab seperti tali tambang, besi, bambu-bambu bekas bagan.

Kejadian yang paling terbaru adalah “pemagaran” area laut yang membuat nelayan tak bisa mencari ikan di area tersebut. Pagar itu terdiri dari pelampung dan rantai besi sepanjang lebih dari 1 km. Hal ini juga membuat nelayan harus berputar lebih jauh ketika akan melewati area tersebut, tentu ini menyebabkan mereka menghabiskan solar dan waktu lebih lama.

“Jika pembangunannya saja sudah banyak merusak dan merugikan, bagaimana kalau nanti sudah berjalan!”, ujar Pak Dulhakim, nelayan dusun Roban Timur.

 

170317_042-ukpwr 

Nelayan Merugi

Telah lebih dari empat tahun warga nelayan melakukan aksi untuk menolak pembangunan PLTU Batubara di pesisir Batang karena khawatir akan mengganggu aktivitas melaut dan akan merusak lingkungan. Kini kekhawatiran itu pun terbukti. Kerusakan demi kerusakan yang menimbulkan banyak kerugian kian nyata dirasakan warga.

“Kami menduga banyak terjadi pelanggaran dalam proses pembangunan ini, saat ini kami mengumpulkan lebih banyak fakta tentang kerusakan juga mengkaji aturan dan perjanjian yang telah perusahaan sepakati sebelumnya”, terang Catur Ary, relawan SKWB.

Estimasi kerugian yang tercatat hingga saat ini mencapai Rp 250.000 – 2.000.000, per nelayan, ini belum termasuk losing opportunity cost akibat waktu yang seharusnya digunakan untuk melaut malah digunakan untuk memperbaiki jaring, juga tangkapan yang berkurang karena laut mulai keruh oleh sedimen lumpur.

Sejauh ini, Solidaritas untuk Keadilan Warga Batang (SKWB) masih terus mencatat berbagai kerugian yang dialami nelayan.  Namun diperkirakan kerugian ini akan bertambah dan meluas seiring jalannya pembangunan PLTU Batubara Batang. [K.04]

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Perubahan KBAK, Perpag Temui Menteri ESDM

Duta Wisata Kebumen, Tenggelam Di Sungai Lembupurwo, Bagaimana Konsep Savety First?

Related posts