3:34 pm - Minggu Agustus 16, 2493

Cacat Permanen Tertimpa Rak Kereta, Janiah Minta Pertanggungjawaban PT KAI

875 Viewed Puji Sugianto 0 respond

Kebumen>> Walaupun harus dilakoni dengan berjalan ngesot , Janiah Karnijan alias Jaenudin (47) tetap berjuang demi mendapatkan keadilan presiden Joko Widodo. Pria kelahiran Purworejo ini tidak pernah menyerah menuntut keadilan kepada PT. KAI Persero atas kejadian naas yang dialaminya tahun 2010 silam. Sambil membentangkan sepanduk bertuliskan “askum bismil man jada maaf meminta keadilan presiden Jokowi” ia menuntut keadilan yang menjadi haknya.
Kejadian bermula saat Janiah sedang melakukan perjalanan bisnis sebagai pengusaha daur ulang ban bekas menggunakan kereta api, (kecelakaan terjadi di Parungpanjang pada 11 November 2010). Tapi naas sekrup yang seharusnya menahan rak besi di atas tempat duduknya tersebut lepas, tak ayal rak besi yang biasa untuk meletakkan barang penumpang jatuh menimpa Janiah hingga ia harus dilarikan ke RSUD Tangerang. Tidak hanya cukup sampai disini dia juga sempat mendapat perawatan di RSUD Purworejo, RSUD Kota Tidar Magelang bahkan sempat ditangani oleh Prof. dr. R. Soeharto. Menurutnya kecelakaan itu murni kelalaian PT. KAI.
”Ini semua bukti-bukti surat dari rumah sakit, rekam medisnya semua ada,”ungkap Janiah menyodorkan gulungan tebal fotocopy rekam medis dan telegram dinas kepada Kebumen News.
Perjuangan yang dia lalui (pria yang kini tinggal di Rt/Rw : 06/03 desa Tegalsari kecamatan Mbruno Kabupaten Purworejo) demi mendapatkan keadilan tidaklah mudah. Janiah menuturkan dalam setiap aksi demonya selalu berhadapan dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan aparat kepolisian. Semua itu dikarenakan kondisi fisik Janiah yang mengalami cacat permanen, kedua kakinya sudah tidak dapat digunakan. Bahkan kaki kanannya sudah tidak lagi terdapat tulang betis, kini hanya daging yang terbungkus kulit. Sedangkan kaki kiri Janiah bengkok dan dipasang pen. Namun sebelum keadilan ia terima pantang untuk menyerah.
“Saya tidah akan menyerah selama nyawa masih ada, la wong saya benar. Saya ini korban ketidak adilan,”ucapnya dengan nada tinggi. Sesekali dia terlihat membenarkan letak salah satu kakinya, terasa pegel katanya sambil tersenyum.
Berkali kali Janiah mendapat perlakuan tidak manusiawi, pengusiran acap kali terjadi saat aksinya. Bahkan sempat disangka pengemis dan gelandangan oleh petugas Satpol PP yang merazia maupun petugas keamanan PT. KAI.

Janiah Karnijan sebelum kecelekaan terjadi merupakan seorang wirausahawan dalam bidang daur ulang ban bekas, baik ban dalam maupun ban luar. Usahanya tersebut yang mengharuskan ia sering bepergian menggunakan kereta api. Akibat cacat fisik yang dialami Janiah merasa belum mendapatkan pertanggung jawaban dari PT. KAI Persero. Hal tersebut yang membuatnya pantang untuk menyerah guna mendapatkan keadilan.
”Kalo bicara uang sudah habis banyak mas buat berobat, seharusnya bentuk tanggung jawab bukan hanya tertulis di kertas,” Serunya sambil memperlihatkan fotocopi dokumen.
“Saya sudah menggunakan semua cara dari minta bantuan LBH dua kali, Komnas HAM, Dinas sosial. Bolak balik Semarang, Jakarta, Purworejo. Semuanya sudah saya coba namun hasilnya ga ada”, imbuhnya kecewa saat dimintai keterangan mengenai seberapa jauh upaya yang sudah dilakukan selama ini.
Santunan yang ia terima dari Jasa Raharja sebesar 10 juta tidaklah cukup untuk biaya pengobatan. Terpaksa harta benda yang dimilikinya dijual semua guna menutup biaya rumah sakit yang sangat besar.
Dengan keadaan Janiah seperti sekarang anak beserta istri tercinta meninggalkanya dan memilih untuk menikah dengan pria lain. Kejadian ini merupakan pukulan yang berat, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Apalagi menurutnya putusan surat perceraian itu secara sepihak tanpa sepengetahuan dan kerelaan dia sebagai seorang suami.
“Kenapa bisa, saya tidak menyetujui perceraian. Surat nikah suami maupun isteri juga masih ada sama saya,” Ucapnya menunjukan dua surat nikah serta permohonan pengajuan banding kepada Pengadilan Agama Purworejo. (Kn.07)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab