3:58 pm - Minggu Mei 22, 9014

Ma…

1699 Viewed kebumenn 0 respond

Puisi-puisi Karya Putu Jagat

Ma

Ma,

Telah aku mengerti hujan dan kemarau negri ini

Pun sudah kualami beberapa fenomena yang nyata

Tetapi, Ma

Tidak untuk perasaan

Ia tak berwujud apapun tetapi mampu kurasakan

 

Ma,

Apakah setiap remaja yang sedang beranjak harus alami suasana begini?

Kadang mejadi tangis,

Rindu,

Senang,

Tawa,

Pun masing-masing terasa tak biasa, Ma

 

Ma,

Anakmu ini sedang berkembang

Namun, apakah setiap perkembangan remaja harus gundah?

Terangkan padaku, Ma

Dan beri tahu sebuah nama tentang rasa yang tak bisa mengalir bersama tinta

 

Ma,

Betapa anakmu tak jadi gila

Sesuatu yang bermekaran dalam hati begitu sulit diartikan

Sia-sia aku mengais artinya

Ini dunia atau teka-teki, Ma?

 

280715

 

Perumpamaan

Dengan apa kukiaskan kerinduanku padamu, kasihku?

Dengan senja rindukan pagi?

Atau kelam rindukan mentari?

 

Dengan apa kuterangkan ronta batinku padamu, kasihku?

Dengan hujan yang melukis pelangi?

Atau dengan lembah yang menggaungkan namamu?

 

Aku mendatangimu, kasihku

Memupuk pohon asmara yang dulu pernah kita tanam bersama

Menyirami akar renjana yang kian merambang sunyi

 

Kau dan aku kan berlayar diatas awan

Menjaring rembulan

Kita akan berbulan madu di sana

 

280715

 

 

 

Untuk Raja di Negriku

Ini adalah suara dari tong sampah peradaban,

Karena kalimat terindah telah tersingkirkan oleh busuknya media,

Aku memanggilmu sebagai “kacung bangsa”,

Karena di pundakmu beban kami berada,

Kami begitu banyak beban,

Sampai lupa yang kami pukuli adalah teman,

Kami begitu penuh dengan simpanan kekayaan,

Sampai terlupa akan pengetahuan,

Lalu orang asing menanam kerajaan bisnis di jalan,

dan menebar benih uang di lautan,

akhirnya kamilah budak dekil mereka yang harus kerja rodi,

kami ingin merdeka; tetapi siapa yang memerdekakan kami?

Kau bisa lihat darah kami berceceran di aspal dan lautan,

Untuk membuat kaya mereka; bukan negri kita,

Bukan hanya itu saja,

Kami dijejali propaganda-propaganda,

Kami ditakuti bahaya komunis tanpa diberitahu kapitalis lebih bahaya,

Kami teror mental dengan bermacam aliran dan agama,

Akhirnya kami panas dan membunuh sesama saudara,

Hingga lupa akan kebesaran BHINEKA TUNGGAL IKA,

 

Jika kesejahteraan adalah sebuah penantian,

maka seberapa lama harus kami nanti?

29082016-02092016

 

 

BIODATA

Namanya Mas Putu Jagat, penulis kelahiran
“Pe-jagat-an” sebuah desa yang masuk daerah Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen. Dia hobby membaca dan menulis (khususnya menulis sastra). Karyanya pernah terbit di media lokal seperti di  Kebumen News, Majalah Santir (Majalah Kampus IAINU Kebumen), di media interlokal seperti di detakpekanbaru.com, dan pernah di media maya seperti di Tetas Kata Communitas Pena Terbang (COMPETER). Pernah diminta untuk menjadi narasumber organisasi kepenulisan Forum Menulis Freeland Kebumen (FMFK). Baru-baru ini mendokumenkan puisinya dalam sebuah buku antologi puisi “Sajak-sajak Untuk Ning” dan telah dibedah di Perpustakaan Daerah kebumen. Dapat dihubungi via HP. 083863646886 atau putujagat45@gmail.com. (via e-mail)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Tiga Tahunnya Kebumen Memotret: Menggabungkan Dua Unsur Kebudayaan

Radikalisme Dalam Dunia Maya, Picu Potensi Kekerasan

Related posts