6:17 pm - Minggu Oktober 21, 2018

Fashion on the Street: Menguasai Pasar Ready to Wear

956 Viewed bram 0 respond

Jogja >> Lia Mustafa, selaku penggagas event Fashion on the Street yang juga merupakan Ketua Indonesia Fashion Chamber DIY, mengatakan bahwa tahun-tahun yang lalu bagi sebagian masyarakat fesyen di jalan masih dikucilkan, tapi sekarang banyak sekali bermunculan, ini mengidentifikasikan bahwa presentasi di jalan sudah tidak dinilai tabu lagi. Beliau menambahkan, ini saatnya bagaimana mengemas fesyen untuk lebih bisa dinikmati oleh market yang kita tuju, dan bisa disosialisasikan secara benar dan baik bagi desainer fesyen di Jogja.

Tema dalam Fashion on the Street yang digelar di Prawirotaman (20/8) adalah merajut batik. Seperti yang kita ketahui, batik merupakan budaya dan craft Jogja yang sangat tinggi nilainya, apalagi Jogja sudah didaulat menjadi kota batik dunia. Batik merupakan budaya yang telah lama berkembang dan dikenal oleh masyarakat Indonesia. Sedangkan, rajut merupakan kerajinan tangan ‘merajut’ yang pekerjaannya membutuhkan proses yang mengasyikkan dan penuh ketelitian serta ketekunan. Namun dewasa ini, rajut diproduksi dengan teknologi pabrik. Perpaduan batik dan material rajut justru membangun sebuah inovasi-inovasi baru yang kekinian, serta menambah rasa percaya diri karena style dan trend sangat inspiratif untuk gaya anak muda zaman sekarang.

Kemudian, Lenny Agustin, yang merupakan guest designer, menyimpulkan bahwa generasi desainer yang baru kalau bisa menguasai pasar ready to wear, karena pasar ini dinilai lebih besar daripada produk-produk asing yang memasuki pasar Indonesia. Kedepan beliau berharap agar di Tanah Abang, di Pasar Senen dan yang lainnya, hasil desainer Indonesia lebih bisa dinikmati, bukan dari pengusaha lain yang mencontek dan melakukan persaingan tidak sehat karena sedikitnya fashion designer yang bermain disana.

Dalam acara yang terselenggara ini, Lenny Agustin membawakan tema ‘Artisanal City’ dari Lennor. Tema ini menceritakan sebuah kota imajinasi di masa depan, yang dibangun dan dihuni oleh kaum urban yang artistik, pecinta seni, walaupun memiliki teknologi yang tinggi namun tetap menyukai hal-hal yang dibuat dengan tangan (handmade). Hiruk pikuk kota yang penuh warna, modern, sibuk, serba cepat, namun riang dan bebas berekspresi. Gedung-gedung dengan garis yang unik, coretan-coretan karya seni di dinding, dan barang-barang buatan tangan berpadu dengan teknologi, menjadi inspirasi dalam koleksi busana Lennor kali ini. Total jumlah busana yang ditampilkan adalah 10 set yang terdiri dari 7 busana wanita dan 3 busana pria.

Selain itu juga tampil dari Klamb?, Ayu Ghia Sugandhi dengan pembawaan tema vigilant ‘Let’s Workout’, Lanny Amborowati dengan urban modest style ‘Street Style’, Tofa Anglo dengan vigilant dan digitarian ‘Pokemon Ku’,dan Mgs. M. Brilliant Hidayah dengan permainan anak-anak tradisional tempo dulu.

Laporan Wartawan #Rezafa

Editor : Redaksi

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!