3:11 pm - Kamis Desember 13, 2018

Beginilah Cara Orang-orang Muda, Jadikan Kebumen Mendunia

1583 Viewed kebumenn 0 respond
Foto: Istimewa (Novi Wahyuningsih)

Kebumen News – Status termiskin nomor dua se Jawa Tengah yang disematkan untuk Keumen menggugah warga Kebumen yang di perantauan untuk kembali metani (menggali) potensi-potensi yang ada di Kebumen, termasuk potensi manusia-manusia kreatif asli Kebumen yang sukses di negeri orang. Komunitas grup facebook yang berafiliasi Kebumen menggelar seminar yang dibungkai dalam “Bincang Bareng & Kiat Bisnis”  dengan mendatangkan orang-orang muda berbakat di Kebumen sebagai pembicara.

“Saya kemarin seharian jadi moderator, menggelar seminar gratis, dari dan untuk anak anak muda Kebumen. Digelar bagus oleh grup facebook ACK, Aku Cinta Kebumen, di Gedung Joang 45, Jl Menteng Raya, Jakarta Pusat, Minggu, 29 Mei 2016.” Tutur  Prasetyohadi Prayitno alumni SMAN 1 Kebumen yang berasal dari dari Banjurpasar Bulupesantren

“Acara berlangsung meriah, diikuti 160 peserta, dari 20 grup komunitas facebook. Acara saya bikin riuh meriah. Lucu, heboh, dan pakai bahasa ngapak khas Kebumen, subkultur bahasa Banyumasan. Pada pengantar pembuka saya nyatakan, Kebumen masih distempel sebagai kabupaten termiskin kedua di Jawa Tengah. Tokoh tokoh menonjol kelahiran Kebumen bahkan tidak peduli dan tidak mau mengaku diri orang Kebumen. Antara lain begawan ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo ayahnya Prabowo Subianto, Amien Rais, Martha Tilaar, alm Ken Sudarto, dll.” Sambungnya.

Menurutnya hanya alm Jenderal Sarbini yang bangga sebagai orang Kebumen. Tujuan seminar kami ini agar anak anak muda Kebumen yang merantau ke Jakarta atau kota kota lain, jangan hanya bekerja di lapis bawah seperti tukang parkir, pembantu rumah tangga, office boy, pelayan toko, pelayan warung, kuli bangunan, atau buruh pabrik. Jadilah pengusaha!

Pembicara pertama Novi Wahyuningsih, lahir di Kebumen, 6 November 1991, lajang, anak pertama dari 4 bersaudara, asal keluarga sangat sederhana Desa Tepakyang, Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen. Pernah mencalonkan diri jadi caleg di DPRD Kebumen dari Partai Nasdem, namun gagal dan menyisakan utang 300 juta. Berawal dari kerja di warnet di Yogya, ia kenal internet.

Bak meteor kini Novi melesat di bidang aplikasi. Ia launching relaunching aplikasi Call In, Glowis, Meo Talk, Jumat, 20 Mei 2016, memanfaatkan momen Hari Kebangkitan Nasional. Novi, CEO perusahaannya sendiri, berkantor di Jakarta Selatan dan Yogyakarta. Aplikasi karya Novi, beberapa hari lalu ditawar oleh perusahaan inkubator Jepang dengan harga 100 milyar rupiah! Ia dapat saham 2%, bekerja mengelola aplikasi sendiri dengan tawaran gaji 100 juta per bulan. Namun Novi tolak! Ia bercita cita ingin memajukan daerahnya, mengenalkan potensi wisata Kebumen, dan mendorong pendidikan anak anak desa. Ia membuat aplikasi gratis yang memudahkan kerja administratif para guru agar lebih konsentrasi belajar mengajar.

Kini Novi tengah menyelesaikan S2 di Binus. Sekadar informasi, Bakrie belum lama membeli 1% saham Path, seharga 304 milyar rupiah. Novi sangat menyayangkan, mengapa pengusaha Indonesia membeli aplikasi dari Amerika? Padahal banyak aplikasi dan perusahaan start up karya anak anak muda Indonesia.

Pembicara kedua, kami tampilkan anak muda Ebod, kelahiran Desa Sidogede, Kecamatan Prembun, Kabupaten Kebumen, Kamis Pahing, 10 Februari 1973. Hanya lulusan SMP, entah ke mana ijazahnya, kini menjadi pengusaha besar sangkar burung dan pakan burung. Pabriknya di Cimahi, Bandung, setiap hari memproduksi pakan burung sebanyak 10 ton, dengan bahan bahan impor dari Canada, Amerika, dan Australia. Setiap hari pula ia mengirim 10 truk box pakan dan sangkar burung untuk distribusi Pulau Jawa serta 2 kontainer untuk luar Jawa. Pakan pakan burung, shampo burung, dan obat obatan burung, diberi nama-nama daerah lokal seperti kata Prembun, Kebumen, dan Jatijajar.

Hanya dari satu merk Jatijajar saja, omset dapat 500 juta per bulan. Ebod juga menggelar lomba kicau burung setiap Minggu di seluruh penjuru Nusantara, dari Aceh hingga Maluku, dari NTT hingga Manado. Seluruh peserta lomba wajib menggunakan sangkar burung Ebod Jaya yang berharga ratusan ribu rupiah. Ebod juga menerbitkan tabloid Ronggolawe untuk media publikasi lomba burung dan pakan burung. Ebod belajar secara otodidak dari talkshow televisi yang menampilkan Prof Dr Rhenald Kasali, tahun 2000an. Ia menyimak, membuat produk apa pun menurut Prof Rhenald harus berkualitas, diberi merk, dan dipublikasikan. Ia juga belajar konsep ATM, amati, tiru, dan modifikasi. Ebod dari keluarga sangat sederhana, merantau ke Jakarta lalu ke Bandung, bekerja di konveksi. Tidak tahan kerja menjahit, ia keliling menjajakan sepatu Cibaduyut. Sekali waktu kelelahan, istirahat di depan kios pakan burung. Ditawari kerja di kios itu. Sejak itulah Ebod mengenal pakan dan sangkar burung. Ia pun bertekad merintis usaha, tahun 2000. Kini pemilik kios tadi bekerja pada dia, bersama 90 karyawan lain.

Ada yang menarik pada seminar ini yakni latar belakang para peserta. Selain para pembantu, pekerja lapis bawah, karyawan pabrik, juga ada beberapa pengusaha yang sedang merintis bisnis sampai yang sudah berhasil seperti usaha martabak, Raja Gerobak, hingga Yokobento, dan lainnya. Bahkan ada seorang wanita Batak paruh baya, doktor dari UKI, Universitas Kristen Indonesia, yang tekun menyimak hingga acara usai. Peserta aktif bertanya, dan berinteraksi langsung usai acara, dengan para pembicara yang memang santun dan low profile. Menarik pula simpulan seorang peserta: kelak anak anak Kebumen kalau bertemu teman, bukan lagi bertanya kerja  di mana tapi usahamu apa?

Seminar gratis ini ditutup dengan pembagian banyak doorprize. Semoga kelak makin banyak anak anak muda Kebumen menjadi pengusaha. (Kn.01)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Membuat Film Dengan Smartphone, Ternyata Asyik

Laut Pasang, Pedagang Bekerja Ekstra, Pengunjung Dihimbau Waspada

Related posts