3:37 pm - Sabtu September 20, 9941

Kota Minus Proyek Kultural

374 Viewed Agus Nur Komentar Dinonaktifkan pada Kota Minus Proyek Kultural
single-thumb.jpg

Menyandingkan langkah pencarian identitas kultural sebuah kabupaten tetangga memancing pertanyaan saya, apakah Kabupaten Kebumen telah melupakan visi budaya dalam ramainya perebutan identitas lokalitas?

Kapupaten Banyumas telah merumuskan “citybranding” dalam membingkai potensi wisatanya, selain telah menetapkan penggunakan baju iket khas komunitas banyumas hari tertentu bagi aparatur sipilnya dan pemakaian hari berbahasa banyumasan penginyongan yang khas setiap Kamis. Kebijakan ini tentu masih kita bisa perdebatkan apakah kontruksi budaya bisa kita capai dari sisi fisik luar semata. Karena budaya sebenarnya mengendap dalam ruang batin dan cara hidup masyarakat dalam mengekspresikan dirinya. Tetapi langkah menerapkan kebijakan tersebut setidaknya patut diapresiasi, setidaknya jati diri budaya komunitas mereka terbedakan dan terpapar dari bahasa cablaka dan baju hitam tersebut dan rumusan branding sebuah kota nantinya.

Sebagai sebuah daerah otonom yang telah lebih dari setengah abad terbentuk sebagai sebuah kabupaten pasca berdirinya republik ini, Kabupaten Kebumen terlambat menjadikan dirinya memiliki identitas kultural yang membedakan dari kabupaten / kota lain. Taruhlah perbandingan Pemerintah Purbalingga yang menjadikan “hanya” dari batu akik sungai klawing itu sebagai pelengkap komoditi identitas kultural. Bandingkan dengan belum tergarapnya dahsyatnya potensi Wisata Geologi kelasa Dunia di Karangsambung Kebumen sebagai artefak alam “lantai samudra purba”. Hal ini bisa dicermati sebagai dari miskinnya semangat penemuan identitas pembeda dan kebijakan yang memantik munculnya pelbagai agenda kebudayaan yang benar – benar menyihir publik dan menyadarkannya sebagai komunitas budaya. Kebumen seolah lenyap dalam diskusi wacana dan praktik kebudayaan besar jawa. Visi kebumen hari ini seolah hanya memaknai modernitas dan kesejahteraan dari mulut, lingkar perut dan putaran uang. Ia ingin sekadar tumbuh, berkembang dan kemudian terhenti sebagai kota ekonomi dan kota uang.

Kebudayaan secara periodik dicipta, dibangun dan lama kelamaan dihayati sebagai hasrat hidup masyarakatnya. Oleh karena budaya kebumen lahir dari berbagai dialog antar pandangan hidup menjadikannya seperti anatomi budaya yang terus berkembang secara organis. Artinya bentuk kebudayaan itu tidaklah hadir secara given tapi lewat proses panjang yang silih berganti saling melengkapi. Sehingga membangun kota pada dasarnya adalah menghadirkan jejak masa lalu dan mendialogkan dengan kekinian. Di spectrum itulah terjadi rekontruksi peradaban komunitas masyarakat sebuah kota.

Sehingga arah pokok kemajuan sebuah komunitas kabupaten tentu selayaknya melibatkan banyak aspek, bukan hanya meletakkan ekonomi sebagai petanda factor major. Tapi sudah sewajarnya melibatkan lini budaya, agama, social dan politik dalam membingkainya. Karena dari titik budayalah jejak berpikir, berkreasi dan berkarya sekaligus menunjukkan bagaimana pola berpikir dan interpretasi manusia berjalan. Tanpa itu semua yang terjadi pembangunan hanya sebuah instrumen yang menghilangkan jati dirinya sebagai manusia dan komunitas sosial.

Oleh : Sabit Banani

Penulis lepas

 

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Ribuan Petani Urut Sewu Datangi Gedung DPRD

Menanglah Dengan Elegan dan Bermartabat

Related posts