10:15 am - Jumat November 16, 2018

.‘Ani-ani’ Elektrik, Berkah atau Musibah?

559 Viewed Agus Nur Komentar Dinonaktifkan pada .‘Ani-ani’ Elektrik, Berkah atau Musibah?

KebumenNews >> Dahulu kala, musim panen padi bagi petanisebuah peristiwa sakral. Karena di dalamnya tersimpan berkah hingga panen berikutnya. Masa tidak ada panen disebut paceklik. Sebelum panen petani mengadakan selamatan yang disebut ‘Merdi Bumi‘. Setelah itu ibu-ibu petani akan bergerak bersama-sama di sawah memanen padi dengan memegang alat panen yang bernama ketam yang dalam istilah Kebumen disebut ‘Ani-ani’.  Setelah selesai memanen sawah, ibu-ibu itu akan membawa sekedar gabah dari pemilik sawah yang disebut ‘Bawon’ sebagai upah memanen. Panen merupakan pesta rakyat.

Dalam proses pemanenan itu terdapat kebersamaan, persaudaraan, gotong royong, dan nilai-nilai lain yang pelan-pelan terkikis oleh budaya modernisasi dan globalisasi. Era globalisasi kehidupan manusia menjadi mudah, dengan kendali ‘efisiensi’ dan ‘efektifitas’ segalanya menjadi sah. Apalagi kini tidak ada yang tidak digantikan mesin. Nyaris semua pekerjaan manusia digantikan mesin. Mesin sebagai ganti kerja tenaga manusia.Meskipun di sana terdapat pengorbanan berupa nilai-nilai yang hilang bersamaan dengan hilangnya ‘tradisi’.

Salah satu kenyataan yang terjadi di Kebumen adalah di desa Jatimalang. Karena menjadi juara paling cepat membayar pajak, desa ini dihadiahi Perpas padi. Bantuan ini diharapkan bisa meringankan beban petani saat panen.Tetapi tidak bagi buruh tani, bantuan yang dianggap baik itu, justeru terkadang menjadi kontraproduktif. Buruh tani yang selama ini ‘mbawon’ atau bekerja memanen padi menjadi berkurang karena dengan Perpas hanya dikerjakan oleh dua orang.

Melihat bantuan alat pemanen padi itu memang membuat pemilik sawah menjadi senang tapi tidak bagi buruh tani. Karena datangnay Perpas ini bisa menyebabkan berkurangnya tenaga kerja dari masyarakat yang biasanya di minta jasanya untuk memanen padi. Tentu menjadikan penghasilan buruh tani sebagai penghasilan tambahan menjadi berkurang.

“Bantuan mesin panen yang diterima di desa Jatimalang memang masih dalam proses uji coba. Harus dibuat untuk kesejahteraan dan diolah oleh desa” Harap salah satu masyrakat desa Joko. Hasil uji coba untuk memanen padi memang canggih, tidak butuh tenaga orang banyak dan cepat selesai. Meskipun begitu hal ini cukup disayangkan oleh Buruh Tani desa Jatimalang.

Alat mesin panen padi tersebut lebih tepat di berikan kepada petani yang menpunyai hektaran atau tanah yang luas bukan untuk di pedesaan. Karena jika diberikan di pedesaan akan menjadi masalah meledaknya pengangguran bila pemerintah desa tidak bisa mengatur dan menyiasati. Mengantisipasi agar tenaga yang biasa di minta jasanya di saat musin panen tidak mengangur. (Bram)

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Terjebak Pada Komersialisasi Aset Budaya

Ribuan Petani Urut Sewu Datangi Gedung DPRD

Related posts