3:37 pm - Senin September 20, 2534

Cepetan Alas, Seni Asli Kebumen Yang Me-nusantara, Berawal Dari Sejarah Perlawanan

1387 Viewed Agus Nur Komentar Dinonaktifkan pada Cepetan Alas, Seni Asli Kebumen Yang Me-nusantara, Berawal Dari Sejarah Perlawanan
Pentas Ketoprak Dangsak DKD Kebumen di Panggung Budaya Jateng Fair 2016, arena PRPP di Semarang (29/8) dengan lakon "Rekso Mustiko Bumi", karya sutradara : Sat Siswonirmolo [Foto: AP]

#Karanggayam #karangsambung

[J]ika anda mencari tentang kesenian rakyat yang asli Kebumen bukanndolalak, karena itu milik Purworejo, bukan Jaipongan karena itu dari Jawa Barat ukan rongeng karena itu dari Banyumas. Tetapi anda harus memperdalam tentang Seni Cepetan Alas yang ternyata asli Kebumen. Cepetan alas ini merupakan tarian yang sarat makna karena diawali dari perjuangan melawan Jepang.

[one-third-first][C]épét yaitu kesenian tradisional di desa-desa di Karanggayam seperti Karanggayam, Kajoran dan Watulawang. Kesenian ini dimainkan oleh 12 orang. Para pemain memakai topeng raksasa. Rambutnya terbuat dari duk (sabut pohon aren) dan pemainnya mengenakan pakaian hitam, dan memakai sarung sebagai blebed di pinggang. Tarian diiringi musik tradisional yaitu kentongan, jidur (kendang gede) dan drum bekas. Cepetan alas oleh sebagian masyarakat di sebut juga Dangsak di desa Watulawang sudah ada sejak tahun 1960-an didirikan oleh Parta Wijaya (Alm), dan turun temurun sampai sekarang.
Di Watulawang para pemain seni ini, pentas hanya setahun sekali, tepatnya pada perayaan 17 Agustus. Dalam peringatan 17 Agustus, Cépét merupakan menu wajib yang harus di mainkan,[/one-third-first]
[two-thirds][/two-thirds] mengiringi anak sekolah SD Watulawang yang konvoi mengelilingi desa, bahkan sampai ke desa lain di Peniron.
Saat mau pentas, para rombongan cépét biasanya sudah ngumpul pagi- di rumah Ketua rombongan (Dawintana ) dan memakai seragam dan aksesoris perlengkapannya, kemudian rombongan berangkat untuk mengikuti upacara peringatan 17 Agustus di SD Negeri Watulawang, bersama rombongan kuda lumping dan anak-anak sekolah.
Kemudian di lanjutkan dengan konvoi, rombongan cépét selalu berada di depan, dan di ikuti rombongan anak sekolah, dan paling belakang rombongan kuda lumping. Di perjalanan kadang pemain cépét ini sudah ada yang kesurupan, dengan sautan suara yang menyeramkan, mereka mengerang- ngerang laksana raksasa, semakin menambah keseraman terutama bagi anak kecil yang melihat.
Sesampainya di lokasi, di bakarlah kemenyan oleh sang pawang, terus mereka berjoged (Ngibing,jawa ) sesuai perannya, dan kesurupan pun makin menjadi- jadi, suasana makin menyeramkan, para pemain yang kesurupan itu mulai makan sesaji kumplit yang di sediakan di meja kusus tempat sesaji.

Mereka makan serba aneh, daun papaya mentah, kembang, minyak wangi, kemenyan, dan makanan makanan lain, bahkan ada juga yang makan ayam hidup. Penonton juga kadang ada yang kesurupan. Bagi anda yang berminat menyaksikan pentas Cépét, datang saja ke Desa Watulawang atau Kajoran pada setiap 17 Agustus, karena kesenian ini hanya pentas pada hari itu. (kebumennews/A-42/Brs/Opal/Diolah dari berbagai sumber)


Untuk menyaksikan Video Tentang Kebumen lebih banyak Klik Chanel Kebumen

Gunakan Bahasa Yang baku, Sopan dan Bertanggung Jawab
Don't miss the stories followKebumen News and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Menggali Sejarah Kebumen Melalui Jejak ‘Sesepuh’

Dtemukan Fosil Ikan di Karangsambung, Berumur Ribuan Tahun

Related posts